Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Thirty


__ADS_3

Hari kedua Gheina berada dirumah Ari. Rasanya hari berjalan begitu lambat bagi Gheina. Sekarang Gheina sedang duduk diteras. Ari menghampiri Gheina yang terlihat sedang melamun sendirian. "Gheina. Lagi ngapain bengong pagi-pagi. Nanti


diliat orang yang lewat malah


pada kabur lho." Ari membuyarkan lamunan Gheina. "Eh, Ari." Gheina tersenyum lalu terdiam lagi. "Lo lagi mikirin apaan sih." Ari ikut duduk disamping Gheina. "Enggak, gak ada kok. Aku lagi." Gheina mengelak.


"Udahlah muka lo keliatan banyak masalah gitu." Ari sangat bisa melihat muka-muka orang yang banyak masalah. "Bukan masalah serius kok. Gak apa-apa. Eh Ri,


genap ganjil itu sampe kapan ya." Gheina menanyakan yang sebenarnya sudah ada dalam pikirannya sejak tadi. "Oh, jadi itu yang daritadi lo ngelamunin itu. Gue belum


tau sih, tapi coba nanti gue tanya


temen kantor gue." Ari mengambil hpnya dari saku celananya. "Iya, kamu gak kerja hari ini? Padahal ini udah jam 8." Gheina melihat jam di hp Ari.


"Gue kerja, tapi gue bisa dateng ke kantor kapan aja. Karna yang punya kantornya temen gue." Ari terlihat santai saja. "Kok gitu? Emang kalo kantornya punya temen


kamu, kamu boleh dateng semau kamu?" Gheina merasa tidak benar yang dikatakan Ari. "Ya.. enggak sih. Tapi emang yang bilang gitu waktu pertama


kali gue masuk ke kantor itu. Dia juga yang kasih kerjaan ke gue." Ari memberitahu semuanya tanpa beban. Dia berpikir, itu kebaikan. Kebaikan sangat bagus jika dibanggakan oleh seorang teman.


"Nah, itu dia. Apalagi kamu udah dikasih kerjaan sama dia. Waalupun disitu dia butuh kamu tapi kamu juga sama dia di gajikan?" Ari tidak menjawab apapun. Dia hanya memerhatikan mimik wajah Gheina saat bicara. "Kamu udah


dikasih pekerjaan, jabatannya gak mungkin rendah juga. Kamu dikasih kepercayaan


untuk kerja dikantornya. Walaupun dia bilang kamu boleh dateng kapan aja, gak


masalah walaupun telat, tapi kamu jangan jadikan itu alasan


untuk kayak gini." Gheina terdiam saat sadar dirinya diperhatikan sejak tadi.


"Kamu dengerin akukan?" Gheina setelah panjang lebar bicara tidak yakin Ari mendengarkannya. "Lo terlalu banyak bicara. Gak biasanya lo kayak gini." Ari tersenyum sambil terus menatap Gheina. Gheina menjadi canggung.


"Itu yang biasanya kakak aku bilang. Walaupun itu orang paling terdekat, kita harus tetap menghargai dia." Gheina kembali bicara setelah sedikit bisa menghilsngkan rasa canggungnya.


"Iya, gue tau itu penting. Aturan apapun gak boleh dilanggar. Tapi dia yang kasih gue kebebasan untuk itu." Ari masih terus protes atas ocehan Gheina. "Karna kamu temennya. Dan dia gsk enak kalo harus


bersikap keras sama temannya sendiri. Kalo kamu bukan orang yang dia kenal, dia juga aksn memperlakukan hal yang


sama dengan karyawan lain." Gheina membuat Ari semakin takjub pada dirinya.


"Yaudah, gue kerja dulu. Bantu mama gue ya. Masak juga, gue bakal pulang untuk makan siang hasil buatan lo." Ari berdiri dan mengacak-acak rambut Gheina. "Sana, jangan lupa salam ke temen


plus bos kamu ya." Gheina tersenyum tenang melihat Ari bersemangat melakukan sesuatu.


°°°


Reno membuka pintu kamar Sisva. "Eh, kaget aku! Kakak masih disini? Gak jadi keluar?" Reno terkejut. Tadinya dia berniat untuk merasakan kamar kakak

__ADS_1


keduanya. Niatnya tidak dilanjutkan, pemilik ada didalam. "Kamu mau aku keluar dari rumah ini ya! Aku gak akan bisa bantu kamu lagi untuk Gheina.


Aku bakal kasih tau kalo ini kerjaan kamu." Reno langsung tegang. "Tapi ini juga ada bagian rencana lo kak." Reno protes. Sisva tidak menaggapi. Dia sedang menyisir rambutnya.


"Tapi kak, kak Dito semalem itu serius. Mending Kakak minta maaf sama dia sebelum kakak diminta angkat kaki kedua kalinya."


Yang dibilang si Reno bener juga sih. Kalo gue pergi dari rumah ini, gue gak tau kehidupan si Gheina gimana. Kali dia balik lagi gimana?!


Sisva tidak mau hal itu terjadi. Itu hal terburuk yang akan terjadi apabila terjadi. "Sisva keluar menunggu Dito turun


dari kamarnya. Nakun sudah menunggu lama Dito tidak juga datang. "Kak Dito kemana ya. Gak keluar juga jam segini." Reno sudah bosan menunggu.


Sarapannya pun sudah habis. Salah satu dari mereka tidak ada yang sadar, sarapan Dito di meja tidak ada.


"Bu, sini dulu deh. Kak Dito masih dikamar berapa lama." Reno memanggil salah satu pegawai dalam


rumah yang sedang melintas. "Aduh tuan, apa tuan lupa apa bagaimana. Tuan besar sudah berangkat tadi pagi. Bahkan


bukannya tadi pagi spat bicara dengan tuan di tangga." Reno teriangat tadi pagi saat Dito berpamitan ke kantor. "Maka dari


itu tuan, sarapan tuan besar tidak ada di meja." Mengulurkan tangan menunjuk Tempat duduk Dito.


"Oh iya," Sisva dan Reno kompak berbalik dan mengeluarkan kata. "Yaudah bu, terimakasih." Sisva tidak memikirkan apapun selain menyantap sarapannya. "Kak, tapi kakak yakin masih mau ngadepin kak Dito?" Reno membayangkan keributan semalam. "Terus, lo mau gue beneran


keluar dari rumah ini!" Sisva emosi. Adiknya bukanya membantu memikirkan solusi malah menyarankan agar kakaknya keluar dari rumah. "Ya gak nyolot


"No awas lo ya nanti pulang." Sisva menunjuk-nunjuk Reno. "Siap, aku pasti hati-hati kok kak. Tenang aja." Reno malah semakin memancing. "Bye." Reno melambaikan tangan tanpa menengok.


°°°


Kitna sedang menunggu seseorang datang. Namun sejak tadi dia menunggunya, tidak juga muncul yang ditunggu. "Eh, itu dia orangnya. Virqa! Tunggu dulu." Kitna berseru memanggil orang yang sejak tadi ditunggunya. Dia berlari menghampiri Virqa. "Kitna, ada apa?" Virqa mengode pada teman-temannya yang


berjalan bersamanya barusan. Agar mereka dulu saja, Virqa ada urusan sedikit.


"Gue udah beberapa hari ini gak liat Gheina. Btw, kita juga udah lama gak ketemu lho. Kemana aja lo." Kitna memukul manja di lengan Virqa. "Ada


aja gue, lo yang gak pernah keliatan di kampus. Bolos mulu lo." Virqa juga merasa santai saja. Dia tidak terlihat buru-buru. "Kalo soal Gheina, kayaknya dia masih sakit deh. Gue juga udah lama gak ketemu dia." Virqa juga sudah tidak melihat


Kitna belakangan ini yang biasanya ada dimana-mana. Apalagi Gheina, dia tidak pernah terlihat bermain diluar area kampus karena ruang lingkup pertemanannya hanya mereka saja.


"Nanti kita ke rumah Gheina lagi aja. Gue gak enak juga, dia lagi sakit tapi kita lho, sebagai temen deket dia gak


jenguk lagi." Kitna merasa dia tidak jadi teman yang baik bagi Gheina. "Tapi soal kakaknya?" Virqa ingat betul kata-kata Sisva. Laki-laki jika belum


dikenalkan pada kakak pertama mereka tidak boleh diajak masuk ke rumah. "Soal itu, kitakan udah pernah kesana


sebelumnya. Ada gue juga." Kitna meyakinkan Virqa agar ikut menjenguk. "Sekalian

__ADS_1


lo ajak si Wulan. Dia juga


pasti belum sempet kesana. Itu dia orangnya." Wajah Kitna tiba-tiba berubah saat Virqa menyebutkan nama Wulan. "Lo aja deh," Kitna tidak ingin menengok ke belakang.


"Ya ampun, jadi kalian belum membaik beberapa hari ini. Gue mau samperin dia dulu deh." Virqa pergi menghampiri Wulan. "Terserah." Kitna masih sangat sebal dan kembali teringat kejadian saat di UKS. Dia malah semakin muak


membayangkan wajah Wulan. "Gue mau samperin si Abrar aja. Daripada harus ketemu dia." Dia yang dimaksud Kitna adalah Wulan. Kitna meninggalkan Virqa yang sedang berbincang dengan Wulan.


"Wulan, lo tau gak Gheina dimana sekarang." Virqa langsung bertanya. "Eh, Virqa. Gue kaget. Gue sih udah lama gak ketemu sama dia. Kayak dia masih sakit. Terakhir gue ke rumahnya gak ketemu langsung." Wulan juga sudah lama tidak bertemu


Virqa di kampus. "Lo ikut gak. Gue sama Kitna mau ke rumah Gheina sih rencananya." Virqa menawarkan ajakan ikut bersamanya ke rumah Gheina. "boleh aja sih. Tapi kapan dulu, gue takutnya gak bisa." Wulan belakangan ini memang sedang dirumitkan banyak hal.


"Gue mau tepatin dulu juga sama.." Virqa berbalik badan untuk menunjuk Kitna, namun Kitna tidak ada disana. "Eh, si Kitna kemana. Tadi ada disitu."


Kalo Gheina gak ngabarin mereka juga, dia kemana. Kakaknya kemaren bilang emang ada kok dirumah. Gak terjadi apa-apa juga. Wulan berencana menelpon Gheina setelah jam kelasnya selesai.


"Siapa Qa. Ada orang disana tadi?" Wulan melihat Virqa menunjuk sesuatu, namun tidak ada apa-apa.


°°°


Kitna mencari keberadaan Abrar. Sebenarnya Abrar tidak sulit untuk dicari. Dia anak yang terkenal. Satu kampus jelas mengenalnya. Dia bisa mencari dengan


menanyakan kepada para wanita yang sedang berbincang-bincang dengan temannya. "Abrar biasanya nongkrong dimana sih. Gue gak tau temennya siapa aja selain si Virqa." Kitna tidak terpikirkan bertanya pada para wanita itu.


"Kak Abrar semakin hari, semakin ganteng ajs ya."


"Iya, postingan instagramnya juga yang kemaren gue save. Dia ganteng banget difoto itu." Kitna mendengar obrolan wanita yang sedang berjalan didekatnya.


Gue tanya sama mereka aja kali ya.


"Hai, kalian tau Abrar kan?" Kitna memberhentikan jalan mereka. "Tau, tau. Diakan cowok terkeren di kampus. Gak mungkin kita gak tau," mereka menjawab dengan senyuman. "Kalian tau dia lagi dimana sekarang." Pandangan Kitna juga sambil mencari. "Oh, kita tadi liatin dia lagi main basket. Waalupun gak masuk, tapi dia pegang bolanya aja udah keren." Kitna merasa itu berlebihan. "Yaudah, kita pergi dulu ya."


"Iya, makasih infonya." Kitna berjalan menuju lapang basket. "Tadi, cewek-cewek itu alay banget sih." Kitna masih teringat kata-kata mereka yang diluar


batas normal mengagumi itu. "Itu dia bukan sih, gak keliatan. Banyak banget orang yang lagi ngumpul disana, males banget nyamperinnya." Kitna memilih duduk ditribun. Abrar kesal, bola yang


sejak tadi dia lempar tidak juga masuk ke ring. Dia juga lelah, jadi dia memilih istirahat. Saat Abrar menepi, dia melihat ada Kitna disana.


"Hai, lo lagi nunggu siapa. Ada cowok lo disni?" Katanya sambil tersengal. "Cari lo. Males banget kesana. Gue tunggu disini aja." Kitna langsung saja terus terang. "Nyari gue? Ada apa?" Abrar


bingung. Ada apa Kitna mencarinya. Ada urusan apa. "Gue mau ngajak lo ke rumah Gheina. Lo pasti mau." Kitna bicara langsung saja pada point-nya.


"Berdua doang, kenapa gak ngajak Virqa aja. Pasti dia mau tuh." Abrar mengusulkan, "Karna dia ngajak Wulan dan gue gak mau bareng sama cewek itu. Gue pikir lo suka sama Gheina, jadi


gue ajak lo gak ada salahnya." Kitna langsung meninggalkan. "What?! gak ada lembutnya sama sekali. Gue suka sama Gheina?" Lalu dia tersenyum.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2