
Dito masih terus mencari informasi tentang Gheina. Dia beberapa hari lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Pada pagi itu, setelah ia membentak Sisva ada penyesalan. Namun dia memang wajar melakukan itu. Sikap Sisva selalu membuatnya tidak bisa menahan amarah.
Dito pulang larut malam. Begirupun malam itu. Dia pulang pukul 12 malam. Dengan sampai dirumah dengan keadaan letih. Letih fisik dan jiwa. Hatinya sedang tidak karuan dan fisiknya kurang iatirahat karena sibuk mencari informasi.
Saat mengetahui Dito yang membuka pintu, Sisva segera mendekati pintu. Dia tidak ingin keluar dari rumah apalagi dengan cara diusir seperti kemarin malam.
Dia kali ini harus mengalah. Padahal dia yang salah, dia tidak merasa dia salah. "Kak," Dito berhenti saat namanya dipanggil. Namun Dito tidak mengeluarkan kata
apapun untuk beberapa detik.
"Masih disini?" Nada bicara sangat dingin. Seperti tidak peduli lagi. Padahal tadi pagi dia menyesali perbuatannya terhadap Sisva. "Kak, aku minta maaf. Aku cuma kesel aja, kakak selalu belain Gheina. Kenapa
kakak gak pernah peduli sama aku. Kak, aku juga adiknya kakak." Sisva bicara banyak sekali. Dito hanya
menjawab, "karna kamu juga bersikap seperti itu pada Gheina, adik kamu." Dito bwrjalan menuju kamarnya. Dia sebenarnya tidak peduli juga jika Sisva masih berada dirumah tidak jadi pergi. Itu jauh lebih baik.
"Kak Dito. Tunggu." Sisva masih ingin mengataka sesuatu agar dia tidak jadi diusir. "Cepet tidur dan jangan ganggu aku beberapa hari lagi sampai aku mau ngomong sama kamu." Bagaimanapun
Dito juga kesal. Walaupun kekesalannya tidak bisa dibayar dengan kepergian nya jika terjadi. "Oke," Sangat lesu sekali.
°°°
Ari sedang dalam perjalanan pulsng kerumah. Rasanya ingin mempunyai jurus menghilang agar bisa segera sampai rumah. Keadaan jalanan saat itu lumayan padat.
Karena dia malam ini pulang lebih awal. Ari ingin segera melihat dan memandangi wajah Gheina yang cantik. Para lelaki umumnya seperti itu.
"Akhirnya sampai juga." Ari membuka seat belt nya. Saat Ari hendak turun dari mobil, dia melihat mobil yang ia kenal jelas. "Itukan mobil papa. Kenapa dia pulang. Kenapa pulang secepat itu." Ari sudah
biasa tidak melihat papanya sampai kurang-lebih 1 bulan. Papanya memang lebih sering dirumah, namun tidak jarang juga menjumpai anaknya dari wanita itu.
Wajah Ari merah padam saat dia melihat Gheina sedang menghidangkan minuman dan tersenyum manis pada papanya. Ari segers masuk kedalam rumah. Dia jalan terburu-buru.
"Gheina," Ari memanggil Gheina tidak seperti biasanya. Nadanya terdengar kesal. Gheina bingung, tidak biasanya Ari seperti itu padanya. Bahkan tidak pernah sebelumnya.
"Iya. Kamu udah pulang." Gheina berdiri, menyambut kedatangannya dan menjawabnya dengan biasa. Tidak merasa bersalah ataupun takut. Dia tidak melakukan kesalahan apapun. "Ikut gue." Ari menarik lengan Gheina. Gheina sangat kaget. Dari tarikannya ini, Gheina bingung.
Mereka berdua sekarang berada ditaman rumah. "Ari, ada apa. Kenapa kamu tarik aku. Aku lagi ngobrol sama papa kamu." Itu yang jelas terlihat diwajahnya.
"Tapi gue gak suka. Buat apa lo deketin bokap gue. Gak perlu, dia gak perlu tau kalo lo temen gue." Ari tidak ingin papanya tahu apapun menyangkut dirinya. "Kenapa
__ADS_1
kamu ngatur aku. Kamu gak berhak ngatur aku. Kamu bukan.." Gheina tidak melanjutkan kalimatnya. "Gue bukan siapa-siapa lo. Tapi gue gak mau dia
nanya ke lo soal gue. Karna lo gak berhak juga ngurusin hidup gue." Gheina baru mengingat sesuatu.
Apa Ari bersikap kayak gini karna kejadian beberapa tahun lalu? Apa dia punya dendam sama papanya sendiri?
Gheina rasanya ingin sekali menanyakan semua yang diceritakan Sani siang tadi. Namun Sani sudah
berpesan padanya, itu amanah. "Ari, kamu tenang dulu. Aku gak tau apa yang terjadi antara kalian, masalah keluarga
ini. Aku juga gak perlu tau. Aku orang asing," Gheina lagi-lagi berakting yang sangat meyakinkan. "Tapi aku sekarang lagi disini. Aku harus menghormati siapapun yang lebih tua dari aku dirumah ini." Itu benar adanya.
"Jangan sama dia. Beda halnya." Ari melihat ke langit. Dia sangat penat. "Ari, aku perempuan. Kita baru kenal, kamu gak pernah bawa perempuan sebelumnya ke rumah." Gheina bicara pelan-pelan pada Ari.
"Itu anehkan. Dia juga papa kamu Ari, ini rumahnya. Kalo di
rumahnya ada orang ysng gak dikenal tinggal, apa kamu gak akan peduli." Gheina memaklumi sebenarnya. Dia tidak bisa menerima kejadian itu. Mamanya dihianati, dan papanya seperti tidak ada tanggungjawab.
Itu bisa dibilang wajar. Bukan karena dia memang pembangkang, namun hati mereka menolak. Hati tidak bisa
dipaksakan dalam hsl apapun. "Iya, maaf kalo aku salah. Kamu istirahat."
Ari masuk. Dia tentu melewati ruang tamu dan disana masih ada papanya. "Ari, papa mau ngobrol sebentar sama kamu." Doni bicara baik-baik pada Ari.
Respons Ari sudah jelas seperti apa. Rasa dendam yang tidak bisa diluapkan itu masih melekat di jiwanya. "Gak ada yang perlu dibicarain. Ini udah malem. Lebih baik tidur." Ari meneruskan jalan menuju kamar.
"Ari! Jika kamu masih menganggap papa ini sebagai papa kamu, bicara sama papa sekarang." Ari mulai naik pitam. Namun masih ia tahan. Dia paling tidak terima jika ditantang. "Ini yang dia mau." Ari menyimpan tas kerjanya, lalu kembali ke ruang tamu.
"Mau ngomong apa?" Nada juteknya masih bertahan. "Apa dia pacar kamu? Kenapa dia tinggal disini. Apa dia
gak ada rumah?" Doni salah besar sudah menanyakan itu. "Apa pentingnya papa tau urusanku. Itu bukan hal penting.
Dan jangan asal ngomong soal dia gak punya rumah." Ari tidak suka berbicara
tatap mata seperti itu. Tapi karena bersangkutan dengan Gheina, terpaksa.
"Papa yang kelak akan menjadi wali kamu saat kamu menikah. Kamu harus tau itu." Doni mulai merasa Ari tidak wajar memperlakukannya sebagai orang tua. "Kenapa kalo aku gak mau kasib tau. Gak suka, maka itu bukan hal besar buat aku." Ari berdiri. Dia sudah muak bicara seperti ini. Tidak ada gunanya.
Tetap saja sama, jalan dia dan papanya tidak akan pernah lagi menjadi sama.
__ADS_1
"Ari, kamu mau kemana. Duduk dulu sini." Doni menghwntikan Ari yang hendak pergi. "Tidurlah, aku besok harus kerja.
Aku butuh banyak waktu untuk istirahat." Ari melanjutkan langkahnya.
°°°
Kitna beberapa hari ini berusaha menelpon Gheina. Namum tidak pernah ada jawaban dari Gheina. "Aduh, Gheina
kenapa sih. Kok susah banget buat ditelpon." Kitna merasa ada yang salah dengan Gheina. "Yang lain juga gak bisa
diajak jalan sekarang lagi pada sibuk." Kitna sudah sangat berniat datang ke rumah Gheina.
Virqa : Na. 20.07
terkirim...
Kitna melihat layar hpnya ketika mendengar suara notifikasi. "Dari Virqa. Pas banget." Kitna segera membuka room chatnya dengan Virqa untuk membalas pesannya.
Kitna : Iya, pas banget nih. Gue mau ngajak lo ke rumah Gheina. Besok ya." 20.08
terkirim...
Virqa : Bisa, gue besok juga ada urusan sama lo. Soal kuliah. 20.10
*terkirim*...
Kitna : Oke. See you. 20.10
*terkirim*...
Dibaca.
__ADS_1
Bersambung...