Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Eighteen


__ADS_3

Hari ini Gheina ada kelas siang. Gheina biasanya hanya berleha-leha diatas kasurnya yang terasa sangat nyaman. Tidak ada tempat lain selain kasur dan area kamar. Sebenarnya Gheina tidak sebegitunya, Gheina bisa diam lama disebuah tempat yang teduh. Seperti taman yang ada tempat


duduknya. Dan tempat duduknya dibawah pohon rindang. Namun Gheina lebih ingin menikmati kenyamanan didalam kamarnya. Udara diluar masih terlalu dingin


untuk tempat menyendiri di pukul 6 pagi. Sepagi itu Gheina akan berteduh dari apa. Bahkan jika berteduh dari hujanpun, hujan lebih pintar untuk menyelinap diantara dedaunan untuk jatuh ke permukaan bumi alias ke atas tanah.


"Rasanya pengen tidur lagi. Angin pagi itu, bikin siapapun yang tertabrak hembusannya akan seperti meminum obat tidur." Gheina hanya bicara sendiri sambil berguling-guling dari ujung kasur, ke ujung lagi.


"Enak sih kalo kuliah siang. Gak usah mandi terlalu cepet. Walaupun aku bukan yang terlalu males banget sih. Ketika Gheina sedang menikmati udara


yang dingin dan kasurnya yang sangat nyaman, ada dering dari meja belajar. "Suara dering telpon ya. Siapa yang sepagi ini. Males banget ngambil handphonenya," menggapai-gapai yang sudah tau itu tidak sampai ke meja.


"Virqa?" Gheina mengernyitkan dahi. "Ada perlu apa Virqa telpon pagi buta," karna rasa penasarannya tidak hilang hanya dengan menerka-nerka, Gheina pun mengangkat telponnya.


"Haloo..."


"Ghe, lo dimana sekarang."


"Masih dirumah. Hari ini aku kelas siang."


"Bagus. Lo jangan kemana-mana sampe jam... sekitar jam 10. Atau lebih bagus lo berangkat lewat tol." Mulai terdengar nada cemas. "Tol? ngapain harus lewat tol. Aku rumahnya itu deket


sama kampus, kenapa harus muter jslan sampe sejauh itu." Gheina tidak mengerti. Jika ia lewat jalan tol, itu artinya Gheina harus berangkat jauh lebih awal. Karena jaraknya jika lewat tol itu jauh, tentu akan memerlukan waktu yang cukup lama. "Kalo perlu, lo jangan bawa mobil sendiri. Mending


dianter siapa gitu." Virqa malah membuat Gheina tambah bingung. "Virqa, emangnya kenapa. Aku gak ngerti kenapa kamu nyuruh aku gak boleh keluar sampe jam 10, harus lewat tol, itu ngerepotin Virqa." Tidak ada nada meninggi saat Gheina bicara.


"Gue gak bisa jelasin sekarang." Virqa tetap tidak menjelaskan, "jangan buat aku bingung, Virqa. Apa yang bakal terjadi kalo aku ngelakuin apa yang kamu larang tadi." Itu mungkin pertanyaan yang masih bisa dijawab dengan kalimat yang singkat. "Lo bakal bahaya. Gue gak bisa kasih tau lo lebih banyak. Please dengerin


kata-kata gue. Demi keselamatan lo. Lo bakal sampe kampus jam berapa." Virqa seperti sedang buru-buru dan panik. "Aku ada kelas jam 11 lewat. Jadi aku berangkat dari rumah sih jam 9 atau jam 9.30." Ya, perkiraan. Jika tidak kendala dijalan. "Sampenya


sih jam 10.30, ya sekitar jam segitulah. Biasanya aku nunggu


jam kelas sambil belajar dulu di perpus." Kenapa juga Gheina mesti membahas yang tidak diminta. "Yaudah. Bagus. Ternyata lo serajin itu, beda sama Wulan. Lo gue tunggu dikampus, gue gak pulang sampe liat lo dateng." Nada bicara Virqa masih sama seperti awal, terdengar cemas. "Ok."

__ADS_1


Tut.


Telponnya ditutup segera. Virqa yang menutup telponnya. Gheina tidak mengerti, dari awal dia hanya bertanya-tanya apa yang terjadi dan apa yang yang akan terjadi. "Pagi-pagi udah bikin anak orang was-was. Masa aku harus


turutin yang disuruh. Tapi katanya kalo gak, aku bakal... apalah aku gak ngerti bahasanya Virqa." Gheina bosan memikirkan hal itu, Gheina kembali berleha-leha. Gheina tidak terlalu


mengambil pusing. Biarkan saja rasa penasarannya menggebu, nanti juga ketika sudah saatnya pasti akan tau.


"Ini udah jam 7. Aku turun buat sarapan dulu, abis itu bisa duduk di taman kompleks. Taman kompleks lebih rame, banyak orang yang olahraga disana. Kalo


dirumah, paling liat orang lewat aja. Atau tukang sayur yang suka panggil ibu-ibu." Itu yang setiap hari dilalui Gheina


dipagi hari jika ia sedang diam ditaman rumah. Tidak menyadari ada yang salah? Gheina ntah kenapa tidak memikirkan apapun sebelum berpikir akan berjalan-jalan ke taman. Gheina mengambil sendal didekat meja, lalu keluar kamar.


°°°


Sarapan telah selesai. Semua sudah tidak ada dirumah. Tinggal Gheina seorang diri didalam rumah. Dito sudah kerja, dan kedua kakaknya yang lain sudah berangkat untuk kuliah. "Rumah lebih sejuk jika


dimeja makan, lalu keluar dan mengunci pintu. Handphone Gheina berdering. Gheina melihat siapa yang orang


yang menelponnya. Seketika Gheina teringat pesan Virqa tadi pagi. Gheina pun mengangkat telponnya.


"Lo masih dirumah?"


"Masih. Aku hampir aja lupa. Aku tadinya mau ke taman. Untung kamu telpon aku."


"Jangan keluar please. Sampe setidaknya 20 menit. Mereka sekarang udah tau rumah lo. Mereka itu stalker. Dan mereka bakal nyari lo dirumah."


"Mereka? siapa. Bahkan aku gak tau yang kamu maksud itu siapa. Tolong kasih tau, siapa yang bakal dateng kerumahku."


Gheina jadi ketakutan sekarang. Ntah apa dan siapa. Siapa dan ingin apa mereka datang kerumah Gheina. Gheina segera membuka pintu dan berlari kedalam. Tidak lupa juga mengunci pintu.


"Halo?"

__ADS_1


"...."


Virqa sepertinya sudah mengakhiri telponnya. Gheina kini benar-benar ketakutan. Segala macam hal buruk ia bayangkan. Dia tidak bisa menhendalikan dirinya. Bahkan sampai ia tidak sadar, dia sekarang


berada didalam gudang yang pintunya sulit dibuka sejak dulu. "Hah?! Aku kok ada didalam gudang. Ternyata aku bener-bener ketakutan. Ia, aku beneran ketakutan. Aku gak tau siapa mereka dan akan melakukan hal apa ke aku." Tangannya sudah dingin. Dari dahinya mengalir peluh.


Ada apa hari ini. Ada apa dengan Virqa dan kejadian yang akan terjadi. Kenapa Virqa yang buat aku takut, terus suruh aku nunggu dirumah, terus ngasih informasi yang bikin aku ketakutan.


Peluhnya terus menetes kebawah. Gheina melamun. Kenapa Virqa bersikap aneh. Tidak mungkin Virqa tega dengan Gheina. Virqa tidak pernah ada masalah apapun dengan Gheina kecuali...


"Tempat itu!" Gheina teringat tempat saat Gheina mengikuti temannya Virqa. "Jangan-jangan ada salah satu temen Virqa yang waktu itu liat aku lagi ngikutin dan dia bilang ke Virqa." Gheina


semakin takut. Apapun yang kita pikirkan, itu membuat mindset kita berbeda. Itu yang sekarang sedang Gheina alami. Dia hanya berpikir semua hal buruk, maka dia akan ketakutan didalam gudang yang pintunya rusak itu. "Aku gak nyangka, Virqa bisa jahat banget sama perempuan." Wajah Gheina jadi cemberut. "Atau... kwmaren


kan aku ketemu Abrar. Bisa jadi Abrar bagian dari geng itu. Terus Abrar yang kasih tau ke Virqa. Dan sekarang yang mau nyamperin aku ke sini, geng itu tanpa Virqa dan Abrar." Pikirannya semakin tidak karuan.


Tapi lama-kelamaan rasa ketakutannya hilang, dan digantikan dengan rasa kesal. Namsun keringatnya terus bercucuran. Gudang itu sangat panas tidak ada ventilasi udara. "Eh, ngspain aku diem disini terus. Disini panas, aku susah napas. Gak ada lubang ventilasi," Gheina segera berdiri dan menepuk celananya yang berdebu. Gheina melangkah dan menggapai gagang pintu. Saat Gheina menurunkan gagang


pintu dan menarik pintu agar terbuka, pintu tidak juga terbuka. Sudah berulang kali Gheina mencobanya. "Kenapa gak bisa dibuka?! Gawat nih. Gimana cara aku keluar. Kenaoa pintu ini gak bisa dibuka?!" Gheina mulai panik. Dia masih terus berusaha membuka pintunya.


"Namun pintu itu tidak juga terbuka. Bagai pintu yang terkunci. "Aku lupa, gudang ini pintunya rusak. Kak Dito


selalu ingetin aku. Biar aku gak tutup pintu gudang ini sembarangan." Dia menyadari kesalahannya. Karena kepanikannya tadi, pintunya tanpa ia sadari terbanting cukup keras. "Please, ayo dong. Aku gak mau ke kunci disini sampe semua


pulang. Apalagi sampe kak Sisva dan kak Reno pulang duluan. Mereka gak akan biarin aku keluar dari sini." Gheina frustasi. Pintu itu tidak terbuka sedikitpun. "Tolong dong." Gheina menggedor pintu. Percuma, dia tidak akan didengar siapapun. Dirumah,


Gheina hanya seorang diri. Letak gusangpun jauh dari pintu depan. Dan ruangannya redam suara. jadi satpam didepan tidak bisa mendengar sekeras apapun suara Gheina berteriak.


"Apa yang harus aku lakuin..." Baju Gheina sudah basah oleh keringat. Dipelipisnya pun karingatnya terus berdatangan dan jatuh kebawah. Ruangan itu kini sudah seperti sauna bagi Gheina. Kurang


lebih Gheina sudah ada didalam sekitar 15 menit. Dadanya sudah sesak. Tidak ada usara segar lagi didalam sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2