
Kringg....
Bel istirahat pertama berbunyi.
Gheina berlari dari rooftop menuju kelasnya. Saat dia belok
brukk..
Pinggang dan kaki Gheina terasa sakit.
"Eh, baru belajar jalan ya." orang yang terrubruk Gheina kesal. "Aduh, maaf ya. Aku gak sengaja." Gheina meringis kesakitan.
Dari ujung lorong ada yabg berteriak memanggil nama Gheina. "Ghe!" suara yang melengkingnya itu terdengar jelas oleh para siswa/siswi yang sedang berjalan di koridor.
Wulan berlari kencang menghampiri teman baiknya yang terlihat sedang terduduk dilantai.
"Ghe!" Wulan sudah berada didepan Gheina yang masih terduduk. "Apa. aku mali, kenapa kamu teriak manggil nama aku." pertanyaan Gheina hanya dibalas dengan cengiran Wulan. "Aku kira kamu gak masuk. kemana tadi?" Wulan ingin menanyakan beribu pertanyaan pada Gheina.
"Jangan nanya itu." Gheina tidak meu membahas kejadian tadi yang membuat jantungnya rasanya ingin copot. "Tapi aku penasaran banget." Wulan tetap ingin mendengar apa yang terjadi pada temannya.
"Terus kamu ngapain duduk disini. banyak yang lewat disini tau," Wulan menatap heran temannya. Kenapa dia harus duduk dijalan yang banyak orang lewat.
"Kaki sama pinggang aku sakit. Tadi, waktu aku mau ke kelas aku lari. terus kena orang," Gheina dibantu berdiri oleh Wulan.
Mereka tidak ke UKS, tapi mereka menuju kantin. Karena keduanya sudah tergiur oleh godaan kantin.
Ghe, kenapa sih. akukan mau tau kamu kemana aja tadi. apa ksmu diajak jalsn sama kakel. atau kamu ditembak, aku mau tau.. Wulan memikirkan apa yang tadi terjadi pada temannya. Dan kenapa dia tidak sama sekali ingin bercerita padanya.
Saat Wulan dan Gheina memasuki kantin, Gheina berjalan menunduk melihat ke sepatunya. lalu, "eh!" berbarengan dengan lelaki yang tertubruk Gheina.
Yaampun. hari ini aku kenapa sih. udah 3 kali tubrukan sama orang. Gheina belum mendongakkan kelapanya.
"Hey, kalo jalan matanya liat ke depan. bukan liat ke bawah." Gheina seperti pernah mendengar suara itu. Lalu Gheina mendongakkan kepala. Dia melihat wajah itu lagi.
Wajahnya langsung pucat dan terlihat kesal. "Wulan!" Gheina mencengkram tangan Wulan yang hendak melanjutkan jalsn memasuki kantin. "kenapa" Wulan menoleh. Si ketos dan temannya masih berdiri diam disana.
"Tolong beliin makanan buat aku. Aku mau ke UKS. kaki aku sakit kalo banyak jalan." Gheina bicara dengan nada dingin yang tidak biasa dilakukan.
Dan barbalik badan meninggalkan kantin.
"Dia kenapa ya." Wulan heran. Tidak biasanya Gheina seperti itu.
__ADS_1
°°°
Gheina duduk dikursi yang ada di UKS. Wajahnya masih terlihat kesal. Kenapa harus dia lagi yang aku liat. Aku kesel banget. jangan sampe hari ini aku ketemu si ketos aneh itu lagi.
Gheina melamun melihat kearah kotak obat. Dia sebenarnya sedang mencari obat untuk meredakan memar dikakinya. Namun dia tidak ingin berdiri, karena kakinya benar-benar sakit jika berdiri.
Lalu Gheina berdiri karena sudah melihat dimana obat itu. Saat berdiri, berbarengan dengan orang yang membuka pintu UKS, Gheina terjatuh. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya dengan kuat.
brukk..
"Aww... Sakit." Gheina meringis kesakitan karena kakinya semakin sakit.
"Eh!" orang yang baru saja masuk ke UKS lsngsung berlari.
"Kenapa. Ada yang sakit." seorang lelaki berkulit putih membantu Gheina. "Eh, makasih ya. udah nolong aku. makasih." Gheina tersenyum hangat. "Kenapa, kakinya sakit?" lelaki itu terlihat panik saat wajah Gheina terlihat kesakitan. "Eh, enggak apa-apa kok. Udah dibantuin bangun aja udah makasih banget." Gheina sangat berterimakasih. Sampai saat ini, semenjak Gheina pergi dari kantin tadi, Wulan belum juga muncul. padahal
sudah hampir 20 menit Gheina diam di UKS.
"Eh, kamu cewe yang tadi pagi waktu selesai apel gak sengaja aku tubruk ya" lelaki itu mengenali wajah Gheina. "sorry ya soal tadi pagi.
Tadinya aku mau langsung lari itu karna aku mau kerjain tugas yang belum selesai." lelaki itu masih merasa bersalah atas kejadian tadi pagi. "gak apa-apa kok.
"Tspi tetep aja aku tadi nubruk kamu sampe jatoh. apa kaki kamu sakit karna katubruk tadi pagi" laki-laki itu semakin merasa bersalah.
"Eh, enggak kok. Enggak sama sekali. Ini bukan karna tadi pagi. Tadii.. aja, aku ketubruk orang waktu aku lagi buru-buru. Terus aku jatoh dilantai kenceng banget."
Gheina menjelaskan agar lelaki itu tidak salah memahami.
"Tapi tetep aku tadi yang salah." lelaki itu tidak mau menghindari kesalahannya.
"Gak apa-apa kok. Kamu tadi ngebantu aku itu udah balesan tadi psgi." Gheina mencari apa yang sudah dilakukan lelaki itu, hal yang sudah membantunya. "Nama aku Vino." Dengan sangat ramah dia memperkenalkan dirinya.
"..." Gheina tidak bergeming, menatap Vino. "Hey, kenapa" membuyarkan lamunan Gheina. "Eh, maaf. aku Gheina." Gheina menjabat tangan Vino. "oh, oke. Dipanggilnya apa nih. biar enak jadinya." Gheina diam sejenak, "bebas." Gheina menatap jam dinding. "Udah jam segini. Aku balik dulu ke kelas ya. Tadi aku cuma mau minta obat ini. Ketemu kamu, jadi ngobeol deh." Gheina langsung ingat Wulan. Tidak ada tanda-tanda Wulan datang sejak tadi.
"Oh iya, kamu perlu apa kesini." Gheina memberi pertanyaan terakhir sebelum ia ke kelas. "Aku osis. Bagian PMR." menjawab seadanya. "Oh iya! Wah. takjub banget. Ternyata kamu osis. Gak keliatan sih. Soalnya kamu gak bersikap besar kepala kaya..." Gheina hampir saja menyebut nama si ketos itu. "siapa"
Vino ingin mendengar lagi. siapa osis besar kepala yang dimaksud Gheina. "Eh. Aku duluan ya." Gheina keluar UKS meninggalkan Vino yang mungkin mengecek sisa obat atau apalah.
Gheina sudah didepan pintu kelas yang masih gaduh karena belum ada guru yang masuk. "Itu si Ghei." Novita aka best friendnya Shelina langsung membuat bahan sindiran.
"Eh, kemana aja daritadi." Shelina menimpali ikut mengganggu Gheina.
__ADS_1
Gheina tetap berjalan menuju bangkunya tanpa perduli omongan mereka. "Orang ngajak ngomong tuh dijawab kali. punya mulutkan." Gheina duduk mengambil tasnya dikolong bangku. "Tanya aja sama ketos yang angkuh parah itu." Gheina tidak minat membicarakan orang itu lagi. Wulan menghampiri bangku Gheina. Mereka tidak sebangku. Mereka dekat karena mereka dulu sama-sama belum mempunyai teman. Wulan menduduki kursi
disebelah Gheina yang masih kosong karena yang menempati kursi itu belum mesuk kembali. "Kenapa kesini." Gheina tidak menatap ataupun melirik Wulan. Dia sedang sibuk memeriksa hpnya.
"Aku mau ngomong dulu sama kamu. Banyak yang mau aku tanya ke kamu. Biar nanti Rubi duduk dibangku aku." Wulan menatap pintu. Yang dibicarakan masuk kelas.
"Rubi! Aku duduk disini dulu ya. Sampe nanti pulang. Kamu duduk dibangkuku." Wulan mengambilkan tas Rubi.
"Oke. Makasih ya." Wulan menerima tasnya yang disodorkan Rubi dan dia menyodorkan tas Rubi.
"Ehhh..... tunggu! Wulan! lo duduk disini aja. Kenapa mesti pindah duduk segala. Ngobrol sama sahabat lo itu bisa nanti. Lo duduk disini." Dira protes.
"Hari ini doang kok. Lo juga kan pernah pake dia." kata-kata Wulan menimbulkan gelak tawa satu kelas. "Itu juga terpaksa. kalo bukan karna mantan gue waktu itu yang masih ngejar gue, gue gak akan juga pake dia." Dira menjaga harga dirinya.
"Hai" Rubi dengan ramah setelah apa yang Dira katakan tadi. "Gak usah sok asik lo. Gua gak pernah mau kenal sama lo. Gue gak kenal sama lo." Terlihat jelas Dira menjaga harga dirinya dihadapan teman sekelasnya. "Yaudah, nama aku Rubi." Rubi mengulurkan tangan. "Ih. Gak usah sok asik jadi orang." Dira sangat
jengkel. Ih, bener-bener ini orang. Ngajak ribut. Mancing gue terus. Dira sudah bosan meladeni orang
freak.
"Asik banget ya ngobrolnya ya." Gheina melirik Wulan lalu menatap layar hpnya kembali. "Maksudnya." Gheina sedang fokus mencari informasi penting di sosmed.
"Kamu beliin aku makanan gak. Akuksn tadi minta tolong beliin makanan. Aku tunggu di UKS. Aku tungguin, gak dateng juga." Gheina polos sekali bicara seperti itu.
"Uhh... polos banget temen aku satu ini. Aku tadi udah ada didepan pintu UKS. Pas aku mau masuk, aku liat di kaca pintu ada Vino. Aku gak enak ganggu orang pacaran." Gheina lsngsung menutup mulut Wulan agar tidak melanjutkan bicara.
"Ssttt...." Tangan sebelah kanannya masih menutup mulut Wulan, dan yang kiri menyimpan telunjuknya dibibirnya. "Jangan kenceng-kenceng nfomongnya. Kalo yang denger malah salah paham, apa lagi mereka," Gheina menunjuk Sherina dan Novita dengan Dagunya.
"oke, lepas. Masa aku tadi harus liatin kalian pacaran. Aku juga punya pacar kali." Wulan malah memanfaatkan situasi untuk menggoda Gheina.
"Siapa yang pacaran!" Gheina kesal, Wulan malah menggodanya. "Terus, makanannya mana." Gheina menengadahkan satu tangan ke depan Wulan, meminta makanan apa yang dibeli Wulan.
"Ada dibangkuku." Wulan menunjuk bangkunya yang sedang diisi Rubi.
Dari tempat duduk Dira terdengar lagi suara gaduh. "Ih. Manusia ubi! lo bisa geser kesana. gak usah dempet ke gue." Dira teriak karena kesal.
"Kamu juga waktu itukan peluk-peluk aku. Sekarang dempetan gak masalah." Rubi tidak perduli dengan ocehan orang disebelahnya. "Itukan terpaksa. Gue juga gak mau sebenernya." Wajah Dira merah padam, geram. Rasanya dia ingiemukul Rubi sekeras mungkin. Tapi dia tidak mau malah jadi bahan. "Iya. Sengaja peluk juga gak apa-apa." Rubi membuat kelas penuh dengan gelak tawa lagi.
Gheina melirik kebangku yang sekarang diduduki Dira dan Rubi. *Kok mereka lucu banget sih kalo berantem-berantem gitu.
Bersambung...
__ADS_1