
Gheina bahkan tidak berniat untuk modus pada lelaki itu. Gheina tidak mengenal laki-laki itu, Gheina tidak akan banyak bicara pada orang yang belum dikenalnya. Kenapa Gheina harus bertemu dengan wanita seperti itu. "Akukan gak pernah ngarep buat jadi pacar ataupun sekedar
menjadi teman laki-laki itu." Gheina tidak merasa akan melakukan hal yang tidak mungkin dia lakukan. Seperti mendekati seorang pria. "Kenapa juga aku harus pikirin itu. Aku harus cari buku harianku." Gheina bergegas menuju perpustakaan.
Saat sampai didepan pintu perpustakaan, Gheina tidak bisa masuk kedalam karena pintu perpus tertutup dan
ada tulisan 'perpustakaan sedang tidak dibuka untuk beberapa hari' yang membuat Gheina sudah tidak mempunyai solusi untuk menemukan buku hariannya. Aku harus gimana sekarang, kalau buku itu gak ada atau diambil orang..."
"Eh, hai. Gheina kan, gue harap itu nama lo. Dan kalo gue bener, itu artinya gue belum ngelupain lo."
Laki-laki itu lagi. Kenapa dari sekian banyak mahasiswa dikampus ini aku harus ketemu dia lagi.
"Iya. Nama aku Gheina. Kamu siapa ya," berpura-pura tidak tau mungkin lebih baik. "Ternyata lo udah lupa sama gue." Kata-kata itu membuat bulu kuduk Gheina berdiri. "Aku, Abrar." Abrar menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Gak usah. Kan
wakti itu udah," Gheina menolaknya dengan menyingkirkan tangan itu, perlahan. "Bukannya lo bilang kalo lo lupa sama gue." Gheina menyadari kesalahan kata yang ia gunakan. "Kamukan tau mana aku, berarti kita udah pernah berkenalan sebelumnya."
Kenapa saat aku sama orang ini aku harus banyak bicara? Orang ini selalu menghabiskan tenagaku untuk sekedar basa-basi.
"Oh, btw lo ngapain diem disini." Abrar bingung, kenapa wanita didepannya ini malah diam didepan pintu perpus yang jelas-jelas tertutup. "Aku ada urusan diperpustakaan." Gheina menjawab saja seadanya. "Tapikan pintu perpusnya ketutup. Ngapain masih disini." Abrar melihat ke dalam perpustakaan. "Karna aku ngobrol
sama kamu. Udah, aku mau ketempat lain." Gheina berjalan meninggalkan Abrar, laki-laki yang selalu mengusiknya 2 hari belakangan ini. "Tunggu dulu, kenapa kita gak ngobrol lebih banyak lagi." Abrar menyeimbangkan langkah kaki Gheina. "Karna aku gak mau banyak bicara sama orang yang gak aku kenal. Permisi," Gheina tidak akan berhenti lagi meskipun ditahan.
Bukannya 2 hari yang lalu itu kenalan. Dan tadi, itu juga kenalan. Cewek yang satu itu kok susah banget diajak bicara. Segitu dingin sikapnya, atau emang segitu introvert?
Abrar meninggalkan Gheina yang ntah akan pergi kemana. "Bagus deh, cowok yang ganggu itu pergi." Gheina melanjutkan jalan menuju Virqa.
°°°
Gheina mencari Virqa dilapang basket tidak ada, dilapang futsal juga tidak ada. Sampai saat Gheina sedang duduk istirahat menghilangkan rasa lelah, Gheina melihat ada teman yang paling sering Gheina lihat bersama Virqa. "Itu temen mainnya Virqa. Dia pasti tau, sekarang Virqa ada dimana." Gheina berdiri dan segara
mengikuti arah kemana pria yang dimaksudnya. "Dia mau kemana sih. Disana emang ada apa. Aku gak tau ini bagian area kampus." Setahu Gheina, tidak pernah ada tempat ini sebelumnya. "Atau, bisa jadi ini tempat nongkrong mereka diluar jam kuliah," Gheina masih terus mengikuti dan berhati-hati agar pria didepannya tidak curiga sedang diikuti.
"Tapi, kenapa mereka nongkrong ditempat kayak gini. Mereka semuakan anak-anak keren semua. Ngapain juga nongkrong ditempat yang sepi kayak gini. Kayaknya juga tempat ini jarang ada
orang yang lewat atau tau." Gheina sepanjang mengikuti teman Virqa, sambil memerhatikan tempat yang baru saja ia temukan. Sejauh ini, teman Virqa yang Gheina ikuti tidak merasa curiga kalau sedang diikuti. Gheina dan lelaki didepannya sudah sampai disuatu tempat. Dari kampus tadi, tidak terlalu
jauh menuju ketempat itu.
"Kok gak ada Virqa. Dimana dia, bukannya cowok tadi temennya Virqa ya." Gheina bicara pada dirinya sendiri sambil berbisik agar tidak terdengar oleh siapapun. "Bro, kita mau ngapain nih sekarang." Salah satu orang yang ada ditempat itu memikirkan yang akan mereka lakukan. Lalu
ada satu orang lagi yang melihat keluar ruangan. Gheina segera mengumpat. "Hampir aja," mengusap dada lega. "Gue mau nyusun rencana yang kemaren belum kita selesain." Mengusulkan suatu rencana yang membuat Gheina bertanya-tanya. "Mereka mau ngapain sih. Rencana apa ya, apa mereka segerombolan anak nakal, dan mereka punya rencana jahat ke orang kampus yang mereka gak suka. Dan mereka rencanain semuanya disini." Gheina tidak mengetahui kebenarannya, namun itu bisa saja benar adanya.
"Kalau gitu, Virqa juga termasuk gerombolan itukan." Gheina ingin melabrak mereka, namun niatnya diurungkan. "Jangan. Kalo sampe aku kasana dan mereka marah sama aku, aku bakal jadi korban yang akan mereka arah." Tidak ingin
berlama lagi, namun masih ingin rau apa yang mereka rencanakan. "Itu Virqa. Bener, virqa ada disini." Gheina terkejut melihat keberadaan Virqa didalam sana. "Kita jangan pikirin buat prank itu dulu, mending kita piiirin dan bantu temen kita yang mau nembak cewek. Sebenernya gue bisa sih deketin dia sama ceweknya, soalnya gue kenal sama itu cewek." Virqa datang membawakan gelas yang berisikan minuman dingin.
__ADS_1
"Prank? Really? Jadi mereka bukan punya rencana jahat. Tapi mau rencanai buat bikin prank. Iya juga sih, mikir apa sih aku ini." Akhirnya Gheina benar-benar pergi dari tempat itu. "Berarti tempat ini tempat penting mereka. Gak boleh ada orang yang tau seharusnya." Sudah sedikit lagi menuju tempat keluar, Gheina melihat sosok laki-laki yang sepertinya akan
menuju itu. "Ada Abrar. Aku harus gimana ini. Tenang, jangan panik. Harus biasa saja," menenangkan diri dan berusaha agar wajahnya tidak terlihat panik. "Gheina. Ngapain disini," Abrar juga terkejut melihat Gheina ada dijalan itu. "Aku... aku... a..ku tadi ngejar kucing. Iya ngejar kucing." Gheina gugup, ntah akan
menjawab apa. "Kenapa kucingnya dikejar. Kucing lo?" Abrar bertanya lagi. "Enggak, bukan kucing aku. Tapi kucingnya lucu. Jadi aku kejar. Tapi kucingnya terlalu cepet larinya. Aku cuma bisa kejar sampe tiang listrik itu." Gheina berpikir, mungkin itu bisa menjadi jawaban yang meyakinkan. "Yaudah, kalo gitu sekarang lo gak ngapa-ngapain kan. Gue mau ngajak lo jalan."
What. Jalan, aku gak mau jalan sama orang ini. Gheina.
Gue harus bawa Gheina jauh dulu dari tempat ini, jangan sampe dia ngikutin gue sampe ke dalam. Abrar.
°°°
"Tapi kayaknya aku harus pulang deh. Soalnya aku takut dimarahin kalo sampe aku pulang telat nanti aku dimarahin kakak aku." Gheina baru mengingat, siang ini Sisva pulang kampus lebih cepat dari biasanya. "Gue anter lo pulang." Gheina
tidak nyaman saat jelan bersama pria yang sekarang berada disebelah. Karena sekarang dia jadi sorotan dan bahan gosip 1 kampus. "Katanya gak akan mau, gak suka. Digenggam tangannya, gak berontak sedikitpun. Munafik," wanita bernama Delya yang tadi memberi Gheina air
mineral. Dia juga berada disana, menuju parkiran. "Siapa nama dia, aku lupa." Gheina bergumam mengingat nama pria disebelah. Gumamannya terdengar oleh Abrar. "Nama gue Abrar, udah lupa lagi lo." Abrar berjalan sambil menggiring Gheina dengan cara menggenggam tangannya.
"Abrar, lepasin tangan aku. Kamu gak risih, kita diliatin banyak orang. Tadi didepan UKS aku dikerumunin sama orang-orang. Ditanyain apa aku pacar kamu." Gheina kembali teringat
kejadiannya. "Emang kamu siapa sih. Kamu artis?" Iya, bisa jadi. Karena dia artis, jadi banyak fans yang ngejar dia kemanapun. "Bukan, lo gak perlu
tau siapa gue." Abrar menatap Gheina lalu memegang hidung Gheina dengan telunjuknya.
Ih berani banget sih. Genggam-genggam tangan aku, sekarang pake pegang hidung sok cute gitu.
Apa-apaan sih. Gak jelas banget. Aku gak mau diginiin. Aku mau pulang.
"Tapi kak, sebelum kalian pulang aku mau nanya sesuatu dulu."
"Tanya aja."
"Kalian pacaran gak sih. Kok kalian keliatan bareng terus dari kemaren. Kasih penjelasan buat kita dong."
"Kita gak pacaran." Gheina yang menjawab. "Iya, kita gak pacaran. Belum mungkin," Gheina tidak menginginkan jawaban itu.
"Terus kapan dong kak,"
"Do'ain aja. Semoga digerakkan. Dibuka hatinya masing-masing." Semakin membuat jengkel saja. "Abrar. Kok kamu ngomongnya gitu sih. Kitakan..euh." Mulut Gheina ditutup oleh tangan Abrar. "Jangan bentak-bentak gitu ah. Gak baik." kejengkelan Gheina semakin menambah. "Terserah kamu deh. Aku mau pulang," Gheina sudah
kesal tidak bisa dibendung. "Kan gue mau anter. Lo gimana sih, jangan marah dong." Abrar menahan rubuh Gheina. "Aduhh... so sweet. Kita jadi iri sama lo Ghe."
Kenapa hari ini. Kenapa aku jadi orang yang beda. Gara-gara si Abrar.
"Gue anter." Abrar seenaknya menarik tangan Gheina. Sudah disamping mobil untuk membukakan pintu mobil Gheina. "Apaan sih. Aku udah bilang, aku gak mau dianter pulang. Dari awalkan kamu
__ADS_1
gak jadi anter aku pulang. Ditambah lagi, barusan itu aku gak suka." Gheina melepaskan tangan Abrar dari pundaknya. "Oke. Gue minta maaf, tapi jangan marah. Gue anter pulang. Kan lo bilang
tadi, lo gak boleh sampe telat pulang." Abrar masih membujuk Gheina agar mau diantar pulang. "Aku gak mau." Gheina menjauh dari Abrar dan mobilnya. "Hey, cowok yang pake hoodie biru. Disini," Gheina melambaikan tangan diatas kepala.
"Gheina," terulas senyum tulus di wajah pria yang dipanggil Gheina. "Ada apa." Pria itu sudah sampai didepan mobil Abrar setelah berlari. "Aku boleh numpang," Gheina merasa ragu akan diberi tumpangan. "Gak usah, ngapain. Gue bisa anter
lo sampe rumah. Biar lo gak dimarahin sama kakak lo." Abrar masih mengotot ingin mengantar Gheina pulang. "Gak usah. Aku mau diculik sama dia. Gak percayakan, aku juga gak percaya. Dia mau bawa aku ke tempat kosong. Dia mau sakitin aku." Gheina membuat aduan
palsu. "Yaudah. Tanpa dijelasin, ayo aja kok. Aku juga mau pulang. Rumah dimana," pria dengan nama Wisnu di hoodienya itu mempersilakan Gheina untuk menumpang di mobilnya dengan senang hati.
°°°
Mobil sudah setengah perjalanan. Dan Abrar tidak tampak mengikuti. "Bagus. Gak ada mobil yang ngikutin kita." Gheina setelah melihat kebelakang merasa lega. "Gue liat lo di grup kampus. Satu kampus lagi rame ngomongin lo. Lo pacaran sama Abrar. Tapi juga ada foto lo lagi
digendong sama Deffa." membahas soal Abrar dan Deffa yang sedang ramai digosipkan dengan Gheina. "Ih. Itu
emang lagi rame banget sejak 2 hari lalu. Lagian orang ngambil video sembarangan aja. Itu belum tentu bener juga." Gheina jadi teringat wajah
menyebalkan Abrar. "Kamu berantem sama Abrar gara-gara berita gak bener soal kamu deket sama Deffa ya. Padahal mereka itu temen deket. Deket banget, udah kayak adik sama kakak." memberi fakta yang Gheina belum ketahui. "Hah?! temen deket." reaksi Gheina seterkejut itu. "Kenapa. Emang Abrar gak pernah bilang apapun
sama lo. Pacaran macam apa yang main rahasia-rahasianya sama pacar sendiri." Obrolan semakin mengawur. "Bukan itu." Gheina tidak membenarkan berita apapun yang informasikan Wisnu sejak awal.
"Abrar pasti marah karna sahabatnya sendiri nikung dia. Itu bukan salah lo sih." Wisnu sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan Gheina sebelumnya. "Berita
digrup kampus soal aku, Abrar dan Deffa itu gak sama sekali bener. Gak ada yang bener. Aku kenal Abrar karna dia bantu aku yang pada saat itu aku dimarah-marahin sama anak semester 4 kalo gak
salah. Fakultas ekonomi. Tapi aku lupa namanya." Gheina ingin sekali menghapus semua gosip itu dari kampus. "Kalo sama Deffa,"
"Aku juga sama Deffa baru aja ketemu tadi pagi. Aku digendong sama Deffa karna aku abis jatoh tubrukan sama dia gara-gara aku buru-buru. Aku lari, dan
tubrukan deh Deffa. Aku juga gak ngarep suka sama seleb kampus."
Membayangkan mukanya saja, membuat nafsu makan yang tinggi menjadi hilang.
"Oh iya. Keasikan ngobrol, Rumah lo dimana nih." Wisnu menanyakan akan diantar kemana Gheina sekarang. "Oh, dari sini lurus aja. Nanti aku berhenti di depan nimimarket aja." Gheina menunjuk depan jalan. "btw, bagus deh kalo kamu gak jadian diantara mereka berdua atau cowok
manapun." kata-kata yang membuat ambigu orang yang mendengarnya. "Emang kenapa. Kamu punya masalah sama Deffa sama Abrar." Gheina menatap Wisnu penasaran. "Karna aku suka sama kamu." Diucapkan dengan lantang dan tegas. "Hah, kamu kok ngomong gitu. Kita aja baru ketemu." Gheina tidak mungkin menolak dan membuat Wisnu sakit hati.
"Kamu emang bary pertama kali ketemu sama aku, tapi aku sering liat kamu. Setiap hari. Dan selalu ingin gapai kamu." Wisnu membuat Gheina serba salah.
Keluar kandang beruang, masuk jebakan cinta. Aduhhh...
"Aku gak bisa jawab. Ini bakal nyakitin kamu." Gheina paling tidak bisa melihat air mata laki-laki manapun menetes apalagi karenanya. "Aku gak butuh jawaban Gheina. Aku cuma mau ungkapin perasaan yang udah aku pendam selama ini." Mengungkapkan perasaan secara tiba-tiba
itu tidak akan enak untuk pihak kedua. Bagus kalau perempuan yang ditembak juga menyukai si laki-laki. Kalau tidak, pasti akan menjadu musuh besar karena cintanya tidak diterima.
__ADS_1
Bersambung...