Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty-two


__ADS_3

"Kak Dito baru bakal pulang 4 jam lagi. Lama banget sih, jalan waktu 2 jam tapi serasa sehari." Sepanjang hari Gheina hanya berguling-guling dikasur. "Aku mau keluar, tapi ksk Sisva pasti ada diluar." hanya berandai-andai yang keluar dari dalam pikirannya.


Dering telpon terdengar nyaring. "Nomor siapa ini?" Tidak ada nama dilayar. "Nomor siapa yang belum aku simpan." Daripada lebih penasaran, Gheina mengangkat telponnya.


"Halo?"


"Hai, akhirnya. Bener, ini nomor lo."


"Ini siapa. Aku belum save nomornya."


"Ternyata lo sombong juga ya. Gue gak ada di list handphone lo."


"Kenapa sih. Ini siapa, kalo gak ada keperluan gak usah telpon!"


"Jangan dulu dimatiin... gue Abrar. Save nomor gue ya."


Orang ini lagi. Aku udah capek nanggepin dia. Kenapa dari sekian banyak orang harus dia yang telpon aku.


"Pasti lo lagi bosen banget disana."


"Haaaahh... dimana. Emangnya kamu tau aku dimana."


"Dirumah. Lebih spesifiknya dikamar."


"Iya sih, ngapain kamu telpon. Dapet nomor aku darimana."


"Dari Virqa. Dia sahabat gue dii..."


"Dii..?"


"Diantara anak-anak kampus lainnya. Dan lo juga sahabat dia. Jadi, otomatis lo temen gue sekarang."


"Ngaco!"


"Gak usah ngelak. Pasti lo seneng banget disana. Gue gak perlu lo nunjukin ke gue kalo lo suka sama gue, tapi cukup gue rasain heart to heart."


"Ih. Ap.."


tut.


"Ngeselin banget deh. Kok Virqa juga ngasih nomor aku sembarangan sih. Akukan gak mau privasi aku diikut


campur orang asing." Gheina kecewa pada Virqa yang sangat ia percaya. "Ngapain juga Virqa harus ngasih nomornya ke Abrar. Aku ke ganggu banget kalo dia yang telpon." Gheina masih tidak


terima dengan sikap Abrar yang membuat moodnya hancur lebur. "Kenapa orang itu selalu nyebelin."


ting.


Virqa : Apa kabar. Gimana, udah baikan. Atau gimana? 13.20


terkirim...


 


Gheina : Virqa, aku kecewa... 13.20

__ADS_1


*terkirim*...


Virqa : Maksudnya? Kenapa. Kecewa sama siapa. jangan terlalu dipikirin. Nanti kesehatan jadi rurun lagi. 13.21


*terkirim*...


 


.................


 


Gheina : Sama kamu. Kenapa kamu kasih nomor aku ke orang lain. Aku gak deket sama dia. Kamu harusnya sebagai temen aku, jaga dong privasi aku. 13.24


*terkirim*...


 


Dibaca.


"Bukannya dibales, malah cuma dibaca. Virqa kok gitu sih, sama aja kayak Wulan. Gak direspon pula. Bukannya


minta maaf atau merasa bersalah." Seperti biasa, cewek ingin dibujuk. Gheina juga cewek, sama seperti cewek pada umumnya. Kenapa juga Gheina


harus menjawab pesan dari Virqa jika dia marah. itu mungkin salah satu cara agar Virqa mengakui kesalahannya.


°°°


Suasana kampus masih seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin bedanya, hari ini lebih ramai. Mungkin di beberapa jurusan ada yang akan ujian. Deffa sedang duduk didekat pintu masuk kampus. ada tangga disana. Dan ada beberapa mahasiswa


"Abrar mana sih. Belakangan ini dia gak pernah keliatan. Gak pernah


ketemu gue dikampus. Gak main basket juga." Sudah sekitar 3 hari Abrar dan Deffa tidak berkabar dikampus. Melihatnya lewat saja tidak. "Gak mungkin Abrar fokus urusan kampus." Sudah bukan rahasia umum lagi jika Abrar jarang masuk jam


kelasnya. Dia datang ke kampus hanya untuk meminjam buku di perpustakaan dan bermain basket bersama teman-temannya.


"Kak Deffa, kakak belum pulang. Ini udah siang loh kak. Kakak kan udah gak kelas." Seorang mahasiswi menyapa


Deffa secara tiba-tiba. "Heh? he'em, gue gak ada kelas lagi. Gue lagi nunggu orang." Deffa terus menyapu pandangannya. "Siapa kak, kalo boleh tau..." kenapa juga dia harus tau. Setiap orang harus punya privasi kan.


"Kenapa lo nanya gitu. Pasti yang ditunggu in itu cewek. Pasti si Gheina yang waktu itu viral di grup kampus." Teman yang bersama mahasiswi yang bertanya-tanya pada Deffa berbisik namun masih


didengar suaranya oleh Deffa. "Hah?! Kak, emang bener, kakak lagi nunggu Gheina?" Wajahnya langsung panik tidak terima. Deffa hanya membalas


dengan senyuman tipis.


"Tuhkan, bener kata gue. Mereka udah jadian." Kini temannya mahasiswi itu berbisik lebih kecil. "Tapi si Gheina juga kan deket


sama kak Abrar. Gimana dengan persahabatan mereka." Mahasiswi itu masih mencoba mengelak fakta yang ia terima. "Mungkin sekarang kak Deffa dan kak Abrar bersaing. Dan yang menang adalah kak Deffa."


"Mereka akhir-akhir ini sudah jarang keliatan bareng. Mungkin persahabatannya hancur. Karna memperebutkan si Gheina." Setelah berargumen asal, kedua mahasiswi itu pergi dari hadapan Deffa tanpa


berpamitan atau sepatah kata pun. "Gue kira... gosip antara gue, Abrar sama Gheina udah beres. Ternyata masih jadi simpang siur." Deffa berdiri dan berjalan menuju kantin.


Saat melewati lapang volly, Deffa melihat Virqa sedang bersiap untuk main. "Itu Virqa. Pasti dia tau dimana Abrar berada." Deffa menghampiri Virqa. Dan

__ADS_1


orang-orang yang akan bertanding bersama Virqa disana tidak melanjutkan permainan saat melihat Deffa yang berjalan mendekat. "Ayo, main. Suit dulu. Siapa yang pegang bola." Tapi semuanya tetap diam tidak bergeming. "Kenapa. Ayo main." Semuanya tetap diam. Lawan main yang


berada tepat didepan Virqa mengisyaratkan bahwa ada seseorang yang menghampiri, tapi Virqa tidak mengerti.


"Jangan main dulu, gue mau ngomong sama lo. Sebentar ya, gue pinjem satu personil." Deffa menepuk pundak Virqa, dan menariknya menjauh dari lapang volly. "Eh, Def. Elo ternyata. Gue kira


kenapa mereka diem." Deffa dan Virqa berhubungan baik, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Gue lagi nyari Abrar. Udah beberapa hari terakhir gue gak liat dia. Gak keliatan batang


idungnya. Biasanya dia keliaran diarea kampus." Seperti bersembunyi didalam batu saja. "Gue sih tadi pagi ketemu dia, tapi cuma sebentar. Abis dia paksa gue buat kasih nomor Gheina ke dia.


sampe ngancem, pas gue udah kasih, gak ada terimakasih sama sekali. Dia nyelonong aja pergi."


Virqa menjadi kesal pada Abrar. Karena ancaman dan paksaan Abrar


sehingga Virqa terpaksa


memberi nomor telpon Gheina padanya. Dan Gheina marah pada Virqa. "Kira-kira kemana dia pergi. Gue mau ngomong penting sama dia." Deffa meminta informasi soal


keberadaan Abrar. "Gue gak tau sekarang dia kemana dan dimana." Virqa menjawab sejujurnya, "kasih tau gue dimana markas baru. Gue mau kesana, siapa tau dia lagi disana."


"Abrar gak mungkin kesana. Dan gue gak akan kasih tau dimana markas baru."


°°°


Sisva sedang mempersiapkan diri untuk melakukan apa yang telah ia rencanakan. Sisva telah menelpon Dito. Dia beralasan akan membeli makanan pukul


berapa, agar tidak dingin nanti saat dimakan. Dito menjawab biasa. Tanpa tau apa yang akan terjadi


sesungguhnya. "Reno, gue minta lo profesional dan gak teledor." Sisva sangat tegang. Ia takut rencananya gagal. "Siap. Kakak mending sekarang keatas kasih dia minum." Reno sedang fokus memeriksa sesuatu.


"Minum doang? Emang dia gak akan curiga." Sisva merasa ragu. "Kalau kita kasih dia makan, otomatis setelah obatnya gak berpengaruh dan dia sadar, dia masih kuat untuk berdiri dan jalan menuju ke rumah. Kakak gak mau kan sampe dia


balik lagi kesini?" Sisva jelas akan menggeleng cepat. Gheina adalah hal yang sangat dia dan Reno benci. Dan yang mereka inginkan supaya Gheina pergi sejauh mungkin dan tidak kembali. "Kakak pinter, pasti kakak bisa cari alasan supaya dia percaya."


Dan Sisva membawa gelas berisi air meniral yang akan diberi pada Gheina. Tentu gelas itu senjata utama yang akan menundukkan Gheina. Reaksi paling parah, maka Sisva juga Dito akan semakin senang.


tok tok tok.


Sisva membuka pintu kamar Gheina. "Kak, masuk." Gheina mempersilahkan, "ini minum. Kata kak Dito lo harus banyak minum. Kalo enggak, nanti gue yang kena


marahnya kak Dito. Gue keluar dulu." Acting yang sangat bagus dihadapan Gheina. Dan... setelah Sisva keluar juga menutup pintu, Gheina meminum air mineral yang dibawakan Sisva.


"Kak, gimana. Udah berhasil, dicuriga?" Reno memastikan semuanya sesuai rencana. "Aman." Sisva merasa puas dengan actingnya barusan. "Kita tunggu 10 menit. Terus kita balik lagi buat bawa dia ke mobil." Reno berjalan didepan Sisva.


10 menit kemudian.


"Ayo. Ini udah 10 menit." Sisva mengintruksi. Reno sedang asyik menonton film. "Iya kak." Reno mematikan tv dan bergegas menuju kamar Gheina. Setelah sampai didepan kamar, Reno yang membuka pintu. Mereka sangat puas sekali


melihat isi kamar Gheina. Air yang dibawa Sisva habis. Tidak terisisa. "Dasar anak bodoh, gampang banget dibohongin."


"Bagus dong kak, jadi kita gak perlu susah ngibulin dia." Reno sudah mulai mengangkat tubuh Gheina. "Iya sih, ayo. Takutnya keburu ada sesuatu diluar dugaan." Sisva dan Reno juga Sisva akhirnya keluar


kamar dan menuju mobil. "Siaaappp.... berangkat!" Seruan bersemangat sangat bersemangat. "Lo bakal lebih bagus kalo didalem hutan. Sama sodara lo, berkumpul lagi deh keluarga bahagia. Hhaha.." Tawa puas memenuhi langit-langit mobil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2