
Gheina hanya mengikuti penyelenggaraan apel itu. dia tidak tahu, ternyata dia hanya disuruh mengikuti serangkaian pengumuman yang ntah apa hasil dari pengumuman tersebut.
apa yang akan dilakukan semua orang yang berkumpul bersamanya. "ayo semuanya. apel selesai, silakan kembali ke aktifitas kalian masing-masing." kakak kelas cowo itu membubarkan apel pagi yang ntah apa tujuannya.
brukk!
Gheina langsung tersadar dari lamunannya dan sudah terjatuh. laki-laki tinggi yang tadi berdiri didepannya membalik badan dan ingin berlari. tapi Gheina hanya melamun tidak bergeming. "eh, sorry
gak sengaja. sakit ya, maaf-maaf." laki-laki itu membantu Gheina berdiri. "sorry ya." laki-laki itu mengangguk lalu melintas pergi. Gheina berbalik badan tanpa sadar sesuatu. lslu ada yang memegang pundak kirinya. Gheina menoleh.
"mau kemana. lo lupa kalo gue mau ngomong sama lo" ternyata kakak kelas itu lagi. "eh, iya kak. ada apa" Gheina tanpa rasa bersalah beetanya dengan begitu polosnya.
kenapa sih. siapa kakel ini. kenal aja enggak, tapi kok sok-sokan ada urusan sama aku. cepetan, aku mau ke kelas Gheina menatap kakak kelasnya dengan tatapan tidak biasa.
"kenapa lagi ya kak." Gheina sudah jengah dengan orang dihadapannya itu.
"lo ikut gue ke rooftop. gue tunggu secepatnya." airmuka Gheina langsung berubah jadi tegang.
aduh ini aku salah apa ya. apa dia perhatiin aku waktu apel tadi. apa aku bakal dihukum disana segala keresahan memenuhi pikiran Gheina.
"kak, kenapa ya. apa ada urusan aku yang harus aku kerjain. sampe aku harus pergi ke rooftop." Gheina hanya ingin tahu agar dia bisa memastikan dia selamat di rooftop nanti.
"bisakan gak banyak tanya. tinggal lakuin aja." Gheina malah dibuat jengkel.
"kak, tapi inikan udah jam 7. kalo nanti aku telat masuk kelas bisa dihukum." Gheina menutup mulutnya saat melihat wajah orang didepannya.
"ayo! banyak bicara" Gheina terperanjak karena laki-laki itu menarik tangannya.
di kelas.
"eh, ada yang liat Gheina gak pagi ini." perempuan dengan suara paling melengking berseru.
"udah si. gak usah dicariin. kalo telat juga peling dihukum." cewe hits seantero sekolah selalu tidak suka dengan anak seperti Gheina.
"Shelina, diem aja deh."
dua gadis itu saling berteriak tidak mau kalah. "kasian ya. temenannya sama orang munafik semua sih, makanya kaya gini." Wulan meninggalkan Shelina yang menahan geram.
__ADS_1
Wulan adalah teman Gheina yang paling bsik dan pengertian. mereka cuma berteman berdua. karena mencari teman yang tulus itu sangatlah susah. awalnya mereka berteman bertiga, namun satu orang yang bernama Dina. tapi Dina pindah sekolah, yang membuat mereka terpisah.
sementara di rooftop.
"kak. pelan-pelan, aku capek. ini jauh banget." Gheina meminta berhenti sebentar sebelum sampai ke rooftop.
"sebentar lagi sampe. sabar, jangan berisik." laki-laki itu menjengkelkan sekali. aku harus gimana biar dia gak bawa aku ke rooftop yang sepi banget. Gheina berharap-harap agar tidak terjadi hal tidak diinginkan disana.
hah! kok gak ada orang. jadi kita disini cuma berdua. siapapun tolong aku.. Gheina sudah takut karena pikirannya yang dari lapang tadi sudah benar-benar terbentuk. dan terjadi.
"kak, lwpaain aku mohon." Gheina mencoba melepaskan tangan yang dari lapang tadi digenggam kakak kelasnya.
"tolong, tolong. lepasin, tolong." pikirannya sudah tidak bisa tenang. dia mencoba memberontak. tapi nihil. dia malah merasakan tangannya sakit karena genggaman tangan kakak kelasnya semakin mengencang.
apa sih yang sipikirin anak ini. dia pikir aku bakal ngapain dia. cowo itu melihat jengah orang yang sedang memberontak.
"diem!" laki-laki itu sedikit benteriak. Gheina langsung diam bagai batu karena saking takutnya.
please tolong lindungi aku dari orang ini. aku gak kenal dia selain aku tau dia kakak kelasku. Gheina masih berharap ada yang datang ke rooftop. "sini." laki-laki tinggi itu menggiring Gheina. "lo tau gue siapa" laki-laki itu memulai pembicaraan. "kakak kelasku." Gheina menjawab pelan.
"selain itu," masih ingin tahu sejauh mana gadis dihadapannya mengetahui dirinya. menggeleng, mana aku tau dia siapa. emang dia siapa, aku harus tau dia. Gheina merasa jengkel dengan lelaki dihadapannya.
laki-laki yang sedang mencengkeram tangannya ternyata ketua osis.
"lo gak mungkin gak tau kalo gue ketos." laki-laki berbadan tinggi itu melihat ekspresi wajah adik kelasnya terkejut. "maaf kak. aku gak tau." Gheina menunduk, tidak mempunyai keberanian untuk mendongakkan kepala. "lo itu sekolah dimana sih. anak sekolah sini bukan?" lelaki itu heran. mana mungkin warga sekolahnya yang harusnya dibawah kendalinya tidak tau siapa dirinya.
aduh, aku kan waktu pekan pemilihan ketos dan wakil ketos aku gak sekolah. aduh ****** nih aku. diam tidak menjawab hanya bergumam dalam hati merutuki kebodohannya
karena tidak memgenali lelaki dihadapannya.
"bisa-bisanya lo gak tau kalo gue ketos disekolah ini. lo siswa gadungan ya "
jleb!
"maaf."
°°°
__ADS_1
Gheina kok gak dateng-dateng. ini udah jam delapan padahal. apa dia gak dateng, tapi Pak Jamil gak ngomong apa-apa tentang kehadiran dia. Wulan masih saja melamun memikirkan teman dekatnya yang tak kunjung datang.
"oke. pelajaran saya selesai. silakan ditutup bukunya, bagi yang belum mencatat materi dipapan tulis, silakan tulis dulu. terimakasih." gura mata pelajaran pertama telah selesai dan menutup jam mengajarnya.
Wulan mengambil alat tulisnya untuk mencatat sebagian materi yang
belum selesai ia catat.
di rooftop sana suasana masih sama seperti awal. tidak ada yang berubah.
"kak, maaf. tapi kita kesini mau ngapain." Gheina bicara se pelan mungkin. nyalinya belum cukup untuk bicara layaknya manusia pada umumnya.
"lo baru tau juga kalo setiap pagi, yang datang pagi hari dijam 6 itu harus rapat." lelaki itu juga penasaran, apa gadis adik kelasnya ini tau juga tentang peraturannya saat menyalonkan diri.
"emang gitu ya kak. aku gak tau. karna aku biasanya gak berangkat sepagi tadi. biasanya aku berangkat jam 6.15. jadi aku gak pernah ikut apel kaya tadi." Gheina masih bicara layaknya adik kelas yang takut dilabrak kakak kelasnya.
"gak ada yang nanya lo kenapa berangkat pagi." lelaki itu sangat berlaku dingin. emang gak ada yang nanya, tapi tadi kan dia yang nanya, aku tau atau enggak. Gheina ingin sekali menimpali dengan jawaban yang ada di hatinya. sayangnya nyalinya kecil. kalau sampai dia kena masalah dengan ketos dihadapannya ini,
urusan yang dia terima akan panjang. "iya kak. maaf." Gheina mengangguk, mengalah.
"maaf terus yang keluar dari mulut lo." ekspresi bicaranya datar. tidak ada ekspresi lainnya.
"aku gak tau kak soal apel pagi ini." Gheina menjawab pertanyaan sebelumnya. "oke. karna lo baru sekali ini apel pagi, jadi gue maafin lo yang gak tau ketos sekolah ini." lelaki itu melepaskan cengkraman tangannya yang sedari tadi tidak dilepas. "nams gue Dimas, dan wakil gue Ricka." Dimas memperkenalkan dirinya dan wakilnya.
"gak ada yang nanya." Gheina langsung menimpali, suaranya pelan.
"apa!" Dimas sperti mendengar adik kelasnya ini bicara sesuatu. "enggak kak, aku cuma bilang akhirnya aku tau." Gheina menggelengkan kepala, dia berfikir mungkin kakak kelasnya tidak mendengar apa yang Gheina ucapkan.
"tau apa." bertanya sok polos. "akhirnya aku tau siapa ketos dan wakil ketos sekolah ini." Gheina bernafas lega. ternyata memang lelaki itu tidak mendangar apa yang dia ucapkan.
"lo nyimak apel tadikan. apa pemberitahuan yang tadi disampaikan?" santai bertanya. tidak sama sekali bermaksud ingin mendengar jawaban adik kelasnya.
tapi saat memerhatikan airwajah gadis dihadapannya, dia terlihat seperti panik dan bingung.
"kenapa. jawab." dia jadi ingin tahu apa yang disimak oleh wanita itu.
"aku gak nyimak apel tadi pagi." Gheina semakin
__ADS_1
dalam menundukkan kepalanya. aku ksn gak nyimak apel tadi pagi karna aku gak tau tujuannya apa. dan aku aja baru tau kalo dia itu ketos sekolah ini. Gheina hanya bisa menggerutu dalam hati. bahwa ini bukan sepebuhnya salahnya. tapi karna dia tidak mengetahui kegiatan pagi tadi.
Bersambung..