Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Sixteen


__ADS_3

Sejak Gheina keluar dari UKS dan dia lari ntah kenapa, Wulan tidak bertemu Gheina lagi.


"Gue mau minta satu hal dari lo." Seorang pria tinggi besar, memejokkannya diruang tengah rumah Wulan. "Apaan sih lo. Kenapa lo," Wulan tampak panik ntah kenapa pria didekatnya yang sekarang seperti akan membunuh dirinya. "Lo jangan guni dong. Kalo mau marah boleh, tapi gak usah kayak gini. Gue susah gerak Alfar!" Wulan mendorong tubuh tinggi


besar itu didepan tubuhnya. Namun tenaganya tak cukup besar untuk mengalahkan tenaga Alfar. "Udah berani sekarang panggil gue nama langsung." mencengkram keras pergelangan tangan Wulan. "Sakit. Abang macam apa sih yang jahat sama adiknya sendiri. Laki-laki mana yang bisanya nyakitin perempuan banci lo." Mencoba melepas genggaman kencang itu dengan memaki.


"Bagus. Lo udah nunjukkin seberapa bisa lo ngelawan gue." Alfar semakin mendekat. "Lepasin gue. Gue gak bisa nafas. Badan lo yang besar, gak bisa ditandingi sama badan gue yang kecil." Wulan masih terus melindungi diri. "Masa sih. Gue sih mikirnya badan yang kata lo kecil, bisa-bisa aja ditandingi sama badan gue. Gak percaya lo," kini Alfar menyeret


Wulan ke suatu ruangan. "Ngapain lo bawa gue ke gudang. Kalo lo bunuh gue, gue pastiin roh gue bakal gentayangan." Wulan sebenarnya takut. "Gue sih yakinnya, lo itu bakal mati ditangan gue dan semuanya akan lebih baik untuk dijalani." Alfar tertawa penuh kemenangan melihat


wajah Wulan yang ketakutan. "Lo ngapain iket gue kayak gini." Wulan berusaha berontak, namun Alfar jelas 2 kali lipat tenaga Wulan.


"Kenapa juga lo iket gue dikursi goyang. Biar gak boring gitu, modal dikit kek. Gue maunya jalan-jalan, bukan diiket dikursi goyang." Wulan protes, "diem lo. Seenggaknya lo bakal duduk dikursi yang suka


diduduki nek Iba." Alfar masih terus mengikat agar ikatannya kuat. "Nek Iba kan udah meninggal Alfar. Lo gumana sih," masih saja berusaha membuang tenaganya. "Gue tau. Nek Iba masih sering


duduk disini kok setiap malem. Jadi malem ini nek Iba pasti marah sama lo karna ngambil tempat duduknya." Wulan ketakutan, melirik ke kanan dan kirinya. "Far, lepasin.. lo tau gue takut sama nek Iba


dari dulu." Wulan menggonyangkan kursinya. "Itu tujuan gue. Lo bakal jadi patner nek Iba disini." Alfar melambaikan tangan. "Alfar... gue takut. Lo jangan sadis dong. Please, gue takut disini." Wulan mencoba melepas ikatan ditangannya. Nihil, tidak ada sama sekali perubahan dari ikatan itu.


"Gue mau lo disini sampe besok. Sampe bener-bener ketakutan." Alfar menutup dan mengunci pintu ruangan tersebut. "Alfar... please. Gue mohon sama lo. Lepaain woy." Percuma, dia hanya


membuat tenaganya sia-sia tanpa hasil. "Alfar, gue bakal turutin semua yang lo suruh, yang lo mau, gue bakal turutin semua. Asal lo lepasin gue." Wulan berteriak sekeras mungkin agar Alfar melepaskannya. Sebenarnya tidak perlu teriak-teriak sekeras itu, Alfar masih menunggu dibalik pinta. Apa yang bakal dikatakan Wulan agar Wulan dilepaskan.

__ADS_1


Terdengar suara kunci dibuka dari luar. "Bagus, akhirnya si anak gak tau diri itu tergiur sama tawaran gue." Wulan tersenyum menang. "Itu yang daritadi aku tunggu keluar dari mulut lo." Alfar membuka ikatan dibelakang kursi dengan pisau kecil. "Jangan sampe lo berani kibulin gue. Sampe itu terjadi, lo abis ditangan gue." Niat Wulan yang awalnya akan menipu Alfar


sepertinya diurungkan. Wulan sudsh takut duluan sebelum melakukannya. "Gue man berani boongin psikopat kaya lo. Bisa mati duluan sebelum ngelakuinnya." Padahal dalam lubuk hatinya, tadi baru saja dia bwrniat ingin mencurangi Alfar. "Mulai besok lo harus baca semua yang gue mau. Kalo sampe ada yang kelewat, lo bakal abis sama gue." Ancaman terus-menerus yang keluar dari mulut Alfar. "Iya. Banci banget sih. Ngancem cewek mulu." Wulan mengusap-usap bagian tubuhnya yang terasa sakit karena ikatan tali yang terlalu kuat.


"Gue tunggu pengabdian lo besok." Alfar meninggalkan Wulan setelah puas mengancamnya. "Jadi cowok gak gentle banget sih. Gue pengen deh, ngerasain disayang sama cowok yang juga sayang sama gue. Bahkan sepupu gue aja gak peduli sama gue. Gheina


beruntung banget. Hampir setiap hari ada yang ngengkapin perasaannya ke dia. Gue bantuin buat deket sama cowok, kenapa malah gue yang jadi salah. Gue tau lo kayak gimana Gheina." Wulan merasa iri pada Gheina yang sangat beruntung dalam hidupnya. Dia selalu dikelilingi orang yang sayang sama dia. "Sayangnya gue gak seberuntung dia." Dalam


hati kecilnya, ia merasa sangat sedih. Merasa hisup tidak adil. "Aku juga pantas untuk dicintai. Disayangi. Diberi perhatian." Wulan semakin merasa bahwa hisupnya sangat tidak adil baginya.


°°°


"Mau kemana Wulan." Wulan sudah terlihat rapih, dan siap berangkat. "Aku mau pergi sama temen ma. Nanti kalo aku pulang telat, aku hubungin." Wulan menyalimi tangan kedua orangtuanya. "Wulan, ini udah malem. Kamu aja berangkat jam 10, kapan kamu bakal pulang." Ayah


Wulan khawatir anak gadisnya pulang larut sendirian pula. "Iya pa. Aku paling cepet pulang yang 12." Wulan mengira-ngira kapan urusannya akan selesai. "Itu larut banget Wulan. Emang apa urusan kamu itu sampai kamu harus pulang paling cepet tengah malem gitu." Mama Wulan bertanya dengan nada yang sangat lembut.


kampus pokoknya." Wulan juga bingung menjelaskannya seperti apa. "Asal kamu kabarin mama sama papa, gak apa-apa." Akhirnya izin keluar dari mama Wulan. "Yaudah, Wulan bersngkat dulu ya." Wulan berjalan sambil melambaikan


tangan ke mama dan papanya. "Hati-hati dijalan." Ayah Wulan berseru, "iya." Wulan juga berseru.


°°°


Wulan menuju sebuah kafe yang cukup ramai pada malam itu. "Pak, saya mau parkir, tapi gak nemu juga." Wulan bicara pada satpam didepan kafe. "Oh, maaf mbak. Parkiran disini memang sudah kosong. Karena malam ini sedang ada acara

__ADS_1


dikafe ini, jadi parkiran sebagian dipindah kesebrang." pak satpam memberi tetunjuk parkiran sebrang. "Makasih pak." Wulan melajukan lagi mobilnya menuju sebrang kafe. Setelah selesai memarkirkan mobil, Wulan hendak menyeberang. Namun tiba-tiba hujan turun agak deras. "Yah, kenapa harus hujan sih. Gak bawa


payung, kenapa harus gak pas waktunya." Akhirnya Wulan tetap menyebrang jalan dengan menutupi kepalanya memaki tas yang ia bawa.


Wulan sebelum memasuki kafe, mengeringkan pakaiannya sebentar. Setelah sekitar 5 menit, ia akhirnya masuk kedalam. "Mana ya. Rame banget disini. Kenapa harus dikafe ini." Wulan akan bertemu seseorang, namun bukan untuk mengerjakan pekerjaan kuliah. Dia berbohong demi


bisa keluar rumah sampai larut malam. "Mbak, silakan kelantai 2. Karena dilantai 1 sudah diisi. Ada yang booking untuk acara." Seorang pelayan perempuan mempersilahkan Wulan menuju lantai 2. "Euh, maaf mbak. Ada yang booking tempat namanya Zerdo?" Wulan mencari Zerdo (temannya) mungkin lebih mudah dengan bertanya ke pelayan. "Ada mbak. Apa mbak


bernama Wulan?" Ternyata Zerdo sudah berpesan kepada pelayan untuk meminta Wulan agar diantar ke mejanya jika sudsh sampai. "Betul. Saya Wulan," Wulan membenarkannya. "Ayo ikut saya. Mas Zerdo sudsh menunggu sejak 15 menit yang lalu." Pelayan tadi mengantar Wulan menuju meja yang dipesan Zerdo.


Hah, 15 menit yang lalu?! Zerdo janjian sama guekan 5 menit yang lalu. Kok dia nunggu disini 10 menit sebelum waktu janjian.


"Ini, silakan." pelayan itu merentangkan sebelah tangannya, mempersilahkan. "Makasih," Wulan hanya membalas pelan. Dia sudah ketakutan melihat orang yang saat ini duduk didepannya. Zerdo sama sekali tidak menoleh, dia sibuk memainkan handphonenya. "Hai Do." Wulan menyapa ragu. "Kenapa lo, kayak nyapa setan." Pertanyaan Zerdo malah membuat Wulan semakin merinding. "Do, sorry. Gue tau gue telat. Tapi kok lo gak bilang


kalo janjiannya dimajuin 10 menit. Gue tadi kena macet, dan tadi dibawah parkiran penuh gara-gara ada acara. Jadi gue parkir mobil disebrang kafe sini. Terus, pas gue mau kesini lagi, tiba-tiba ujan. Lo juga taukan kalo tadi, malah sampe


sekarang masih ujan. Tadi tuh ujannya agak deres, jadi baju gue basah. Sebelum gue masuk kafe, gue keringin baju gue sebentar, biar gak terlalu basah." Wulan terus-menerus bicara tanpa henti. Mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi, Agar Zerdo tidak marah padanya.


"Lo bawel banget. Baju li masih basah. Gue rasa juga, itu baju gak mengering dengan lo diem dulu didepan kafe." Sepertinya Zerdo hanya mencerna kalimat terakhir yang dilontarkan Wulan. "Zerdo, gue ngomong panjang. Kok lo cuma


ngambil akhirnya doang sih." Wulan merasa penjelasannya yang panjang lebar tidak berguna. "Gimana gue mau cerna semua omongan lo tadi. Pertama, lo ngomong cepet. Kedua gue pusing denger lo ngomong yang gak gue butuh. Ngomong lo kebanyakan." Kata-kata Zerdo seperti menyambar Wulan. "Jahat banget lo." Wulan menginjak kaki Wulan.


Ditengah mereka yang sedang berdebat sambil menunggu makanan datang, ada seorang perempuan yang

__ADS_1


sedang mengira-ngira, perempuan itu menghampiri meja Zerdo dan Wulan.


Bersambung..


__ADS_2