
Tubuh Gheina sudah mulai melas. Ruangan semakin pengap disana. Gedoran pintu yang awalnya keras, sekarang perlahan-lahan tidak ada gedorannya lagi. Wajah
Gheina pun sudah basah kuyup oleh keringat. "Tolong..." Gheina masih berusaha berdiri. Sebenarnya pandangannya sudah tidak jelas, dan tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Aku udah sesak napas. Tolong... Pak Mamed, tolong..." Pak Mamed yaitu satpam depan rumah Gheina. "Siapapun tolong..."
bruk
Gheina sudah tak sadarkan diri.
Sementara didepan rumah...
"Eh eh eh! apa ada ini. Tidak boleh masuk sembarangan ke rumah orang!" Pak Mamed berusaha menahan segerombol wanita yang ingin menyerobot masuk kedalam rumah Gheina. "Saya mau ketemu sama perempuan yang tinggal disini!" salah satu wanita menjawab, "dirumah ini ada 2 orang perempuan. Siapa yang kalian semua cari."
"Kita semua cari yang namanya Gheina. Mana anak kegatelan itu!"
"Kegatelan? Kalian dokter ya. Nona Gheina lagi sakit ya. Yaudah, silahkan."
"Hah?! Nona? Haha.. kita bukan dokter. kita mau ngelabrak Gheina karna udah ngambil cowok kita."
"Kalau gitu, tidak boleh. Tidak boleh ada keributan disini. Silakan kalian pergi dari sini. Ayo!"
Semua wanita itu tidak ada yang bergeming. Malah tetap mencoba masuk menerobos. Ada yang masih
tertahan, ada juga yang sudah bisa menerobos karena tidak sanggup ditahan. "Heh! Jangan masuk, atau saya lapor." Tidak ada yang perduli. Mereka terus beejalan menuju pintu depan rumah.
"Stop!" suara lain, bukan suara satpam yang berteriak. Wanita-wanita itu semuanya mengenali suara itu. Jadi semua melirik ke asal suara. Yang datang yaitu Abrar. Abrar akhirnya menemukan rumah
Gheina. Berkat para wanita itu Abrar jadi mengetahui rumah Gheina yang waktu itu sempat hampir diketahuinya. "Kalian jangan sampe berani jalan selangkah lagi mendekat ke rumah itu. Atau, jangan harap lo bisa deket-deket sama gue!" Semuanya langsung terdiam dan menunduk. Pandangannya yang asalnya buas menjadi luluh.
"Pulang lo semua, sekarang!" Abrar menghentakkan kakinya. "I..i..iya." Para wanita itu menjawab berbarengan. Lalu mereka segera pergi dari pandangan Abrar. Mereka sudah tidak punya harapan untuk berusaha mendekati Abrar lagi. Sepertinya Abrar sudah menentukan siapa wanita
pilihannya. "Pak Gheina dimana ya." Abrar menghampiri Pak Mamed. Nada bicaranya sudah turun lebih tenang. "Nona Gheina ada didalam sejak tadi. Nona tidak keluar rumah sejak tadi pagi. Bahkan duduk ditaman sanapun tidak. Tadis empat keluar, namun cuma sampai depan pintu dan sudah menutup pintu. Tiba-tiba nona Gheina berlari kedalam. Lalu setelah itu ntah apa yang terjadi didalam.
Kayaknya si Virqa udah ngasih tau ke Gheina supaya gak keluar rumah. Untung Virqa ngasih tau gue, kalau enggak, Gheina sekarang pasti udah abis sama semua cebe tadi.
"Pak, saya boleh masuk ya."
"Boleh tuan, silahkan."
"Tapi saya nunggu temen saya dateng kesini dulu."
"Oh, iya. Silahkan, silahkan."
Abrar menunggu kedatangan Virqa. 5 menit, 10 menit, Virqa tidak juga datang. Akhirnya Abrar duduk diteras sambil duduk.
°°°
Kitna dan Virqa sedang duduk ditangga dekat laboratorium kampus. Mereka lagu berteduh dari sinar matahari yang menyengat pukul 10 pagi. "Kenapa hari ini panas banget sih. Terik banget. Padahal baru jam 10." Kitna mengibaskan bukuditangannya kedepan wajahnya. "Gue lagi khawatir sama Gheina nih." Virqa menyender
ke tangga. "Kenapa lo, suka ya sama Gheina." Kitna malah melontarkan pertanyaan yang absurt. "Apaan sih lo. Gue serius." Virqa sedang tidak ingin bercanda. "Gue juga seeius. Emang perasaan lo candaan?"
"Semakin lama semakin dangkal aja otak lo. Gue gak mungkin suka sama Gheina. Gue juga sahabatnya. Perasaan gue lagu gak enak tentang Gheina." Kitna langsung mengubah posidi duduknya
menghadap Virqa. "Hah?! Kenapa emangnya. Emang lo tau sesuatu?" Kitna kini juga jadi merasa khawatir. "Lo gau tau, Gheina itu lagi diincar sama cewek gak jelas kampus. Karna gosup beresar yanv sama temen gue, si Abrar. Terus juga dia sama Deffa. Cewek-cewek iru saking dendamnya, dia sampe cari alamat rumah Gheina." Virqa memberitahu apa yang terjadi.
"Terus, kok malah diem disini gak jelas. Kenapa gak ke rumahnya." Kitna berdiri. "Sini duduk dulu. Gue gak bisa kesana, gue udah suruh dia supaya gak keluar rumah. Dan Abrar juga udah gue suruh kesana. Gue nunggu disini biar pastiin dia sampe ke kampus dengan selamat atau enggak." Virqa menarik tangan Kitna
agar duduk kembali. "Virqa kita harus kesana!" Dahi Virqa mengerut, "kita gak tau gimana keadaannya gimana. Bisa aja cewek-cewek itu paksa masuk rumah Gheina. Dan Abrar gak bisa nahan mereka." Virqa yang kini berdiri. "Iya, ayo kita kesana. Bener kata lo," Virqa dan Kitna berlari menuju parkiran.
°°°
Abrar belum juga masuk ke dalam. Abrar tidak berani masuk kedalam sendirian. Rasanya sangat tidak
__ADS_1
sopan baginya jika memasuki rumah, namun pemiliknya tidak terlihat keluar untuk menyambut. Karena sudah terlalu lama menunggu kedatangan Virqa yang tak kunjung datang, jadi Abrar mengambil handphonenya disaku dan
mencari kontak Virqa.
"Halo, Rar. Gimana, Gheina aman. Soalnya perasaan gue gak enak nih."
"Gue gak tau. Lo kemana sih, udah 20 menit gue nunggu disini. Gue belum masuk ke dalam. Gue nunggu lo, jadi masuknya bareng."
"Kenapa lo belum masuk. Lo gak liat Gheina keluar?"
"Kata satpam rumahnya sih, Gheina gak keluar rumah dari tadi pagi. Jadi kemungkinan Gheina ada didalam."
"Tadinya gue mau nunggu di kampus. Karna dia hari ini ada kelas siang. Tapi pas tadi gue ngobrol sama Kitna, gue emang harus nyusul kesana."
"Lo daritadi gak menuju kesini. Jadi daritadi lo diem dikampus."
"Jadi daritadi kita saling nunggu. Lo nunggu gue dateng, gue nunggu lo sama Gheina dateng ke kampus."
"Yaudah, gue 10 menitan lagi nyampe sana."
"Yok."
Tut.
"Daritadi gue nunggu percuma. Yaudah, gue masuk aja deh." Abrar berdiri dan membuka pintu perlahan. "Per..misi." Peetama kalinya Abrar masuk ke rumah
perempuan selain keluarganya. "Gila. Perdana gue masuk rumah cewek asing. Bahkan, gue pacaran aja gak pernah main ke rumah. Soalnya pasti ribet, emaknya nanya-nanya gitu." Padahal belum tentu semuanya benar. Tidak semua orang tua seperri yang diperkirakan Abrar.
"Bagus juga penataan rumahnya. Rumah gue aja ditata sama arsitek gak se rapih ini. Mungkin arsiteknya gak jago nata perlengkapan rumah kali." Abrar kelupaan tujuan utamanya masuk ke rumah itu. "Si Gheina tinggal sama
siapa ya. Gue jadi penasaran sama kamar-kamar dirumah ini." Abrar sedang melihat pasangan-pasangan. "Ya tinggal sama orang tuanyalah. Gimana sih gue. Eh, gue lupa. Gue masuk kesini buat cari Gheina. Ngapsin juga ya gue cari dia. Kenapa gak ditalpon aja. Kan dia bukan barang."
"Yaudah ah."
prak.
"Gheina. Lo ada dimana. Sekarang lo usah aman. Cewek-cewek gak jelas itu udah pada petegi. Gue udah nolong lo. Jadi lo harus bayar semuanya. Lo
harus balas Budi sama gue." Teriakannya memenuhi seisi rumah. Dilantai bawah akhirnya ia cek per ruangan. Kecuali gudang. "Ini gudang ya. Iya deh kayaknya. Yaudah ah, kesana lagi biar cepet beres. Ngapain juga cek gudang." Lalu Abrar lanjut mengecek lagi ruangan lain.
Di gudang.
Gheina tidak juga sadar. Dia masih pingsan kekurangan oksigen didalam gudang. Gudang itu tidak bisa memasukkan ataupun mengeluarkan udara di dalamnya kecuali pintu gudang terbuka. Sedangkan pintunya pun tidak bisa terbuka. Sangat sulit terbuka. Seperti perhimpit sesuatu.
"Udah gue cek semuanya lantai ini. Gak ada. Kemungkinan Gheina ada dilantai 2. Semoga aja beneran ada." Abrar duduk sejenak dikursi meja makan. "Capek banget
dah. Gede banget rumahnya. Ada berapa lantai sih ini rumah. Kayaknya gur harus nunggu si Virqa temen ceweknya." Tidak lama dari Abrar bicara, ada
suara mobil datang. "Itu kayaknya si Virqa." Abrar menuju pintu depan.
Ternyata benar, yang datang mobil Virqa. Dan didalam mobil hanya ada Virqa dan Kitna. Sepertinya Reno dan
Sisva akan pulang telat. "Bro." Abrar berseru senang. Akhirnya Virqa yang ditunggu-tunggu datang juga. "Lama banget lo." Abrar dan Virqa bersalaman anak laki-laki yang baru saja bertemu. "Gimana Gheina." Kitna tiba-tiba bicara. "Oh iya, gimana?" Virqa juga sudsh fokus pada Gheina. "Gue udah cek lantai 1. Dan hasilnya sih gak
ada. Tapi gue belum keatas. Sebelum gue cek satu-persatu ruangan, gue sempet teriak-teriak manggil nama dia sih. tapi gak ada jawaban. Bisa jadi dia tidur dikamar."
"Yaudah, kalo kayak gitu mendingan yang cek keatas lo aja." Abrar menunjuk Kitna. "Gue, gue juga belum pernah kesini sebelumnya. Gue gak tau gimana isi
rumahnya. Kalo gue kesasar gimana. Atau pula jalan awal." Kitna berpikir terlalu jauh. "Lo kira ini labirin." Virqa menoyor kepala Kitna.
"Tapi, kalo beneran lantai atasnya gwde banget, gak mungkin gue cuma sendiri. Lo juga kan baru
dateng." Sekarang Kitna memukul bahu Virqa. "Lo telpon dulu si Wulan deh. Gue gak liat dia dari pagi dikampus." Saran yang tidak mau Kitna turuti.
__ADS_1
Ih kenapa harus si Wulan sih. Dia lupa apa, beberapa hari yang lalau gue sama diakan marahan. Masa tiba-tiba gue telpon dia.
"Bengong. Bukan waktunya." Virqa menggoyangkan tubuh Kitna. "Cepet telpon. Gue mau minta nomor kakaknya Gheina." Kitna tetap diam tidak
melakukan yang diminta Virqa. "Kok malah dirm aja sih lo. Kenapa, gak tau. Karna waktu itu. Sini, biar gue aja." Virqa malah jadi kesal pada Kitna. "Masalah kecil aja, digedein." Virqa sedang mencari-cari kontak Wulan di handphone Kitna.
Tutt... tutt... tutt..
"Kenapa lo. Ngapain telpon gue. Kalo masih butuh gak usah muna deh!"
Buset. Nih cewek nyerocoss... aja.
"Gue. Ini gue. Kalian sama aja. Kayak bocah. Masalah kecil aja panjang. Norak lo berdua."
"Elo."
"Iya, gue. Virqa."
Mereka malah basa-basi membahas hal lain yang ridak lebih penting dari masalah Gheina. "Pulsa gue abis ntar. Cepetan." Kitna sewot. Mungkin membalas
perlakuan Virqa padanya barusan.
"Gue tau lo leader. Tapi lo gak bisa ngatur-ngatur ego kita." Wulan tidak pernah ingin dikendalikan oleh siapapun. Namun mengendalikan orang lain yang bukan urusannya.
"Lo udah temenan sama Gheina udah lama. Pasti lo tau nomor kakaknya si Gheina. Gue minta."
"Kenapa. Emang Gheina kenapa. Kok gue gak tau apa-apa."
Sepertinya, akan ada perdebatan lagi. Kasih hpnya ke Virqa please. Gue lagi serius nih." Kitna memberikan
kembali handphonenya pada Virqa. "Jadi gimana." Virqa kembali mendengarkan Wulan. "Gue kasih nomornya. Sekarang Gheina dumana. Kalian emua ada dimana." Wulan akan menyusul ke tempat itu. "Dirumah Gheina. Kita gak nemuin Gheina didalem rumah. Kita mau cari lagi. Masih di daerah rumahnya."
tut.
Wulan segera mengambil kunci mobilnya, lalu berangkat.
"Wulan menuju kesini. Mau bantu juga katanya."
"Bagus."
"Kenapa lagi lo."
"Gue gak suka cara lo kayak tadi. Ini bukan barang lo. Dan lo gak berhak atas ini." Kitna mengangkat handphonenya. "Apalagi sih ini." Virqa sudah malas
berdebat yang tidak penting. "Bro, enak banget jadi lo. Dikerubutin banyak cewek." Abrar menaik-turunkan alisnya sebelah. "Gue sahabatin semuanya. Abis itu baper semua. Dan, kalau mereka
semua udah pada baper dan ada perasaan sama lo, jangan pilih salah satunya."
"Jago banget lo." Abrar mengangkat tangan untuk ber tos. "Enggak kali bro. Mana mungkin." Virqa dan Abrar tertawa cukup puas. Kitna tidak ikut
tertawa. Lawakan macam apa itu. Mendengarnya pun sangat membuat jengah. "Hahaha, so fanny!" Dengan gaya menyebalkannya, Kitna memberhentikan 2 tawa itu. "Lagi pms lo." Virqa mengikuti Kitna yang akan duduk
dikursi teras rumah Gheina.
2 menit ber duduk-duduk santai, tiba-tiba ada mobil yang tidak dikenali ketiganya. "Itu Wulan? Udah ganti mobil dia?" Virqa, Abrar, dsn Kitna bingung
siapa yang datang. Lalu orang dalam mobil itu turun. Mengunci mobilnya. Mengahampiri pos depan gerbang. "Siapa mereka. Kenapa ada didepan rumah." Pandangan tidak suka dengan mereka semua. "Teman nona Gheina nona." Pak Mamed ketakutan
akan kena semprot Sisva. "Gheina. Udah berani sekarang bawa orang asing ke rumah. Ada cowok juga." Sisva tiba-tiba teringat sesuatu.
Lebih bagus kalo aku lapor kak Dito. Jadi si anak gak guna itu udah rusak 2 kali kepercayaan kak Dito. Dengan itu, rasa sayangnya akan luntur dan balik ke gue dan Reno.
Sisva mengambil handphonenya didalam mobil. Dia akan menghubungi Dito untuk memberi informasi. "Kak Dito. Aku bisa dapetin kasih
__ADS_1
sayang kakak kayak dulu. Karna aku yang lebih pantes dapetin itu." Sisva tersenyum licik.
Bersambung...