
"Sisva, kakak pulang." Dito berseru, "Sisva lagi nonton. Kakak..." Sisva teringat Reno yang blaru saja keluar. "Heh... lagi nonton apa?" Dito menghempaskan tubuhnya ke sofa depan tv. "Gak tau, random aja
daritadi pindah-pindah. Kakak mwnding mandi dulu deh." Sisva melirik kearah Dito lalu fokus lagi menatap tv. "ia. Yaudah, aku keatas dulu ya. Gheina dimana?" Sisva langsung diam termangu. "Kak, tadi kakak liat Reno? Soalnya dia baru aja keluar." Sisva hanya mencegah, namun tidak bisa menghentikan Dito. "Iya, tadi ketemu kok. Kakak baru maauk halaman rumah, dia lagi tutup pintu," Sisva tidak bicara apapun lagi setelah itu.
"Yaudah deh. Kakak mandi dulu." Dito mengacak-acak rambut Sisva. "Aduh.. gimana nih, kak Dito malah langsung nanya tentang itu. Gue gak boleh
keliatan mencurigakan, gue harua siapin jawaban meyakinkan buat kak Dito. Dan kenaoa juga harus ketemu Reno didepan tadi. Semiga dia aman aja," Sisva bergumam.
°°°
Reno sudah sampai didepan apartemen kompleks. Tidak ada yang ingin ia lakukan. Lagian, dia juga sudah
lolos dari Dito yang menjadi masalah utama. "Gue tadi juga udah ketemu kak Dito didepan rumah." Reno bersandar
disamping mobil.
dumpak dinding bak bak bak
Dering terlpon derdengar dari saku sweater. "Kak Sisva kenapa terlpon ya, minta beliin makanan?" Reno segera menggeser tanda menjawab telpon.
"Halo kak. Ada apa, mau nitup makanan? Nanti jangan lupa bayar dirumah. Mau beli apaan."
"Kamu lagi makan-makan?! Kakak butuh bantuan kamu. Sekarang juga kamu pulang, lagian kamu udah ketemu kak Dito didepan tadi."
"Iya, tapi aku bilang sama kak Dito tadi aku mau beli makanan. Jadi aku pesen makanan dulu. Kakak yakin gak pesen?"
"Beli buat kak Dito. Gak pake lama!"
tut.
Telpon telah selesai. Reno segera mencari makanan dan memesannya. Karena didekat apartemen itu sangat banyak makanan. Semacam street
food. Di apartemen juga ada kantin yang tidak terlalu melonjak harganya. Makanan itu yang sering dibeli Sisva untuk makan malam.
Reno sudah menemukan makanan yang ia ingin beli. Reno langsung memedan 2 karena dia tahu Sisva sangat
menunggunya dirumah. "Pak pesen 2 porsi jumbo." Reno duduk ditempat yang tidak terlalu banyak orang duduk. Dia menunggu makanannya dibuat, sambil melihat pemandangan
jalanan yang lumayan padat. Reno sedang menikmati suasana, tiba-tiba hpnya berdering beruntun, notifikasi.
__ADS_1
Sisva : No, cepet kek. Gue udah mumet banget, kapan beresnya. Beli makanan lama banget. 17.47
Sisva : Cepet kak dito mumpung masih mandi. 17.47
Sisva : jangan lama\-lama. Pleasee... 17.47
terkirim...
Sisva terus berharap Reno segera datang. Namun, Reno sedang bersantai memandang jalanan dengan banyak kendaraan berlalu-lalang. "Yaampun, kak Sisva bawel banget. Untung gue
lagi sini. Maaf-maaf nih ya, aku mau santai dulu disini. Capek dirumah, karna si anak gak guna malah gue yang repot."
"Dek, ini sudah beres. Semuanya 47.000." Bapak penjualnya tersenyum sambil menyodorkan kantong plastik yang berisikan makaman yang
melayani yang lain. "Yah... udah selesai makanannya. Aku disuruh boong lagi deh ke kak Dito. Aku diem disini dulu gak apa-apa kali ya, sebentar doang juga."
Sisva : Nooo..... cepetannnnn kak Dito udsh beres mandinya. Dia lagi cari baju diruang ganti. Kamu cepet pulang dong Noooo.....🙏🏻🙏🏻😟😟. 17.53
*terkirim*...
Sisva : Kalo enggak, liat nanti kamu. Pulang nanti jangan harap selamat dari petasan marmut. 17.54
*terkirim*...
Reno setelah membaca pesan terakhir yang dikirim Sisva, langsung berlari kearah mobil dan sesegera mungkin
melajukan mobilnya. Bahkan sampai dia harus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
°°°
Gheina tersadar dari pengaruh obat tidur itu lebih awal dari perkiraan Dito. Namun memang kondisinya sangat lemah karena pertama dia sedang sakit, kedua dia bekum makan sejak siang
tadi, dan yang terakhir karena pengaruh dari obat itu berakibat lemah. Karena dosis obat yang ditelan Gheina cukup tinggi.
"Aw.. aduhhh.. kepala aku kok pusing, pandangan aku juga kayak abis muter-muter. Kenapa ini," Gheina sedang merasa dunia bergerak. "Bahkan aku
gak bisa liat dengan jelas aku lagi dimana. Tempat apa ini, kok keras banget." Gheina meraba sekitarnya. 5 menit Gheina bersandar memperjelas pandamgannya, dia hanya melsmun dan berusaha menghilangkan rasa pusingnya. Setelah
merasa lebih baik, Gheina berusaha berdiri untuk mencari jalan keluar setelah ia menyadari sedang berada didalam hutan.
"Ini udah mau gelap. Aku harus cepat keluar dari sini. Kak Dito pasti nyariin aku." Mungkin jika Sisva dan Reno berada disitu juga, mereka akan bilang Gheina terlalu Reno sayang padanya. Namun nyatanya, disalam rumah Dito sedang
dikelabui oleh kedua adiknya yang tidak menginginkan Gheina kembali. "Makan malemmya udah siap, ayo makan. Nanti gak enak kalo udah dingin." Sisva sedang merapihkan meja
makan. Seperti menata gelas dan piring juga sendok garpu. "Reno, ayo makan malem dulu. Kita tanding PS ronde kedua abis makan."
Reno dan Dito pun menuju ruang makan. Saat mereka sedang menukmati makanan masing-masing, Dito menanyakan hal yang tidak bisa dijawab oleh Sisva dan Reno. "Oh iya, Gheina kok gak
keluar kamar. Masa dia belum bangun kalo dia tidur dari tadi. Kakak juga belum sempet ke kamarnya sih, abis
makan kakak mau ke kamar Gheina dulu buat kasih makanan sambil liat kondisi dia sekarang." Kedua adiknya hanya diam saling lirik. "Kalian tadi jaga Gheina dengan baik kan?" Dito mulai menanyakan soal amanah yang ia beri untuk menjaga Gheina.
"Kalian kok diem aja. Kakak lagi ajak bicara kalian lho. Kalian jawab dong, Gheina gimana perkembangannya." Semua masih teridiam tidak menjawab. Bahkan makanannya pun tidak lajut dimakan.
"Kak, aku..." Sisva sangat takut tiba-tiba Dito murka. Dia juga bingung harus bicara seperti apa agar Dito tidsk curiga apa yang terjadi sebenarnya. "Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi sama Gheina?" Dito meneguk air minumnya. "Aku..." Sisva masih belum menemukan kata yang meyakinkan untuk dikatakan.
"Aku keatas dulu." Dito sudsh merasa ada yang tidak beres. "Kak! Gheina gak ada dikamarnya." Sisva mencegah langkah Dito. Dito berhenti melangkah. "Gheina gak ada dukamarnya? Terus dia kemana? Dimana dia sekarang?" Dito memutar balik badannya dan menghampiri kursi Sisva. Reno tidak membantu bicara apapun. Dia hanya mengisyaratkan dengan matanya. Isyaratnya, kak kenapa terus terang sama kak Dito. Kakak gsk mubgkin bilang
yang sesungguhnya ke kak Dito kan? Kalo kakak sampe bilang, usaha kita sia-sia dan Gheina bakal balik lagi kesini.
Sisva menatap tatapan Reno dengan ekspresi cemas buruh bantuan. Reno tidak juga mengerti situasi saat ini. Akhirnya Sisva mendapat kata kebohongan yang harus ia ucapkan agar Dito tidak curiga. "Kak, tadi itu... aku sama Reno lagi
nonton TV. Terus Gheina turun. Aku tanya, ternyata dia mau ke taman. Aku udah dia, tapi dia tetep mau ke taman. Pas aku tawarin diri buat jaga dia, dua juga tolak. Jadi dia ke taman sendirian. Beberapa menit kemusian kakak pulang. Aku kira dia udah minta izin sama kakak.
"Dan aku gak kepikiran kalo Gheina jam segini belum pulang. Aku kira dia cuma sebentar." Dito terkejut bukan main. "Kalian emang gak pernah peduli sama Gheina. Padahal dia lagi sakit." Dito pergi dari
meja makan menuju ke pintu depan. Sepertinya Dito akan ke taman. Sisva tersenyum. Reno juga. "Yey.. aku kira, kakak bakal jujur sama kak Dito. Ternyata berbohong demi menutupi kebohongan. Seru juga ya. Sensasi tegangnya." Reno bicara tidak terlalu keras agar tidak didengar Dito.
__ADS_1
Bersambung...