Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty-seven


__ADS_3

Ari memutuskan untuk pulang karena sudah malam. Karena dia ingin membeli baju untuk Gheina pulang besok, dia harus ke toko baju dahulu. Jika terlalu larut, tokonya akan tutup dan tidak akan terbeli bajunya.


"Kira-kira baju apa yang pas buat dia ya, ujuran bajunya juga gue gak tau. Coba tadi gue nanya dulu, gue malah terlalu senang mau beliin dia


baju." Ari mencari toko baju yang sangat bagus dan berkualitas tinggi untuk diberi pada Gheina besok paginya. Setelah berkeliling akhirnya


mendapat sebuah toko yang sepertinya baru saja ada didaerah itu, dia masuk kedalamnya dan segera memilih bajunya.


°°°


Dito sudah putus asa. Dan tentu, Sisva dan Reno sangat senang dengan keputusan Dito. Dito merasa sangat bersalah. Mengapa hari itu dirinya harus


meninggalkan Gheina yang sedang sakit. Dia merasa semuanya kesalahan dirinya yang tak akan pernah dia Maafkan jika


terjadi hal yabg buruk pada Gheina. "Kak, dari kemaren hp kakak selalu ada telpon. Tapi kakak gak pernah angkat telponnya. Siapa kak," Sisva sering mendengar dering hp berulang kali. Itu berasal dari hp Dito.


"Bukan apa-apa. Itu cuma someone yang punya urusan sama kakak. Nanti juga kakak bakal jelasin sama dia kalo Gheina udah ketemu."


"Tapi kak, kslo misalnya ada masalah yang mau dia bicarain gimana?"


"Setelah ini. Kakak mau fokus cari Gheina."


"Yaudah deh kak. Mending di silent. Aku agak ke ganggu kak."


"Hem. Iya, nanti kakak silent." Reno yang mendengar percakapan itu, merasa sangat jengkel. "Kak, kitangobrol ditaman yuk." Reno berbisik sambil menarik tangan Sisva mengajak berbincang. "Ayo."


Mereka menuju taman belakang rumah. "Ada apa No." Sisva duduk dikursi kayu yang dipayungi. "Aku lama-lama kesel sama kak Dito. Percuma kita


bawa dia ke hutan bambu yang jauh itu. Kalo pada akhirnya Gheina masih aja terus dicari." Reno langsung ke point-nya.


"Sama No. Gue juga udah bosen. Setiap hari yang pertama keluar dari mulut kak Dito pasti si anak gak guna itu." Sisva juga


sangat kesal. usahanya untuk membawa Gheina pergi dari rumah


tidak memberikan dampak keuntungan. "Kita kayaknya harus cari cara ampuh yang bisa bikin kak Dito berhenti cari Gheina." Sisva memberi usul. "Bener juga kak. Yaudah, sekarang kita fokus cari cara baru biar Gheina gak semakin dicari lagi." Tekad mereka semakin kuat. Rasa takut mereka terhadap Dito sudah menipis.


15 menit mereka memikirkan cara didalam pikiran masing-masing, akhirnya salah satu dari mereka bicara. "No, apa kamu udah ada ide?" Sisva mendekat kearah Reno yang sedang memainkan


dedaunan. "Belum. Aku rasa, cara yang aku pikirin gak bakal efektif. Kakak udah


dapet ide?" Reno bertanya balik. "Ada sih," Sisva ragu untuk merencanakan ini. Dia mengkhawatirkan


rencananya akan gagal. "Kenapa kak." Reno ingin segera mendengar ide itu dari kakaknya.


"Aku ngerasa ragu. Gimana kalo ini bakal gagal. Dan malah kita yang


kena. Senjata makan tuan," Sisva memang ingin sekali Gheina terhempas dari


rumah. Tetapi jika cara yang ia lakukan akan berdampak pada dirinya juga, Sisva tidak ingin menerima resiko. "Kak, percaya sama aku, kakak harus optimis. Emang apa rencana kakak?" Reno mengenal betul kakak perempuannya ini. Dia tidak akan pernah ragu jika menghadapi sesuatu. Jika dia sudah merencanakan, tidak ada kata mundur baginya. Tetapi ada apa dengan saat ini.

__ADS_1


"Kita bayar orang buat bikin laporan palsu soal keberadaan Gheina. Kita buat seakan-akan dia udah gak ada. Dengan kayak gitu, gak ada gunanya lagi kak Dito cari Gheina. Kan Gheina nya udah gak ada." Sisva memberi usulnya itu kepada


adiknya yang pasti akan membantunya. "Aman kak. Aku yakin, Gheina udah mati beberapa hari yang lalu. Tapi pasti ada orang yang udah bawa dia


ke rumah sakit." Reno tehu apa yang akan dia lakukan. "Jadi, kita harus ngelakuin hal apa." Sisva masih bingung dengan arah pembicaraan. "Kita cari rumah sakit terdekat, dan kita hapus riwayat pasien." Reno mengatakan misi pertama yang harus mereka kerjakan sebelum misi utama.


"Tapi No, kalo Gheina gak dibawa ke rumah sakit gimana?"


"Nanti kita pikirin lagi. Ayo masuk kak. Kita disini udah terlalu lama, nanti kak Dito curiga sama kita."


"Yaudah, ayo."


°°°


Ari sudah sampai dirumah. Saat Ari memarkirkan mobil, dia baru ingat satu hal yang tidak ia kerjakan. "Ini udah malem banget. Gue lupa ke rumah tante-tante lagi. Pasti dudalem sana


orang-orang udah kayak beruang kelaparan." Ari berusaha bersikap biasa saja untuk masuk kedalam rumah. Saat dia membuka pintu, sudah ada beberapa orang yang sepertinya menunggu kedatangannya.


"Dzakri! Kamu kemana


aja hari ini." Ari tersentak mendengar berntakan ibunya. "Aku sibuk banget ma, hari ini banyak benget client." Ari sengaja membuat nada bicaranya seakan-akan sedang lelah.


"Kak, tadi aku telpon sekertaris kakak. Tapi katanya kerjaan kakak dikantor udah beres. Dan hari ini juga gak terlalu banyak kerjaan. Bahkan kakak pulang


lebih awal." Adik perempuan Ari berkomentar. "Ya... itu.. itukan kantor. Setelah aku dari


gak ada hubungannya sama kantor." Ari berusaha mengelak lagi. "Terus, itu apa?" Tanya mamanya ketus. "Ini.. ini baju."


Ari mengangkat tas belanjaan yang isinya baju untuk Gheina.


"Coba aku liat ya." Adik sepupu Ari merebut tas belanja itu. "Sini, gak boleh kepo deh. Sini cepet!" Ari sudah mulai kesal.


"Kak, ini kok baju cewek. Emang Kakak punya cewek? Bukannya kakak kerja terus. Mana ada waktu buat pacaran." Semua


mata tertuju padanya. "Ari, baju siapa itu." Mamanya mulai curiga pada Ari.


Dia merasa, anaknya sedang menyembunyikan sesuatu. "Kan tadi Ari abis meeting. Kebetulan ada temen jauh Ari juga disana. Terus dia nitip baju itu buat sahabatnya. Katanya sih gitu." Ari masih bertahan untuk tidak memberitahu semuanya.


"Kenapa gak dia aja yang kasih ke orang itu?" Mamanya bertanya lagi. "Karna dia udah harus pergi lagi. Dan dia juga yang sebagian besar pegang kerjaannya." Sejauh ini Ari sangat jago berakting. Dia sangat pintar memainkan matanya agar tidak terlihat mencurigakan. "Ydah ya mam. Aku ke


kamar dulu. Bilang papa nanti." Ari mengambil kembali tas belanjanya, lalu menuju kamarnya.


"Dasar anak itu!"


°°°


Pagi hari yang sejuk dan cerah. Cahaya matahari sudah merambat melewati kaca


jendela kamar Ari. Namun Ari masih berada dialam mimpi. Kak, Kak Ari. Ini udah jam setengah delapan. Kakak gak ke kantor?" Adik perempuan Ari mengetok pintu

__ADS_1


kamar Ari. "Ia. Ini bangun, kamu turun lagi sana." Padahal matapun


bekum terbuka.


"Bisa aja banguninnya. Bulang udah jam setengah delapan, paling masih jam 6 atau 7." Ari pun membuka mata dan melihat jam dinding dikamarnya. "Hah! Beneran udah siang. Aduh..." Ari langsung berlari menyambar handuk dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Ari buru-buru menuju lantai bawah. Ia tidak berniat untuk sarapan. Karena dia sudah sangat terlambat.


Juga, ia tidak bisa mampir ke rumah sakit untuk mengantar Gheina terlebih dahulu. "Kunci mobil mana.. lagi."


°°°


Gheina menunggu Ari yang tak kunjung datang. Dia juga tidak bisa menelponnya. Saat kejadian dihari itu, sepertinya Gheina tidak meninggalkan hpnya. Mungkin honya berada dirumah. "Ari, kok belum


dateng juga sih. Apa sepagi ini udah macet. Atau dia lupa kalo hari dia anter aku pulang." Gheina merasa agak bad mood. Namun akhirnya ia memaklumi, mungkin Ari ada urusan yang lebih penting daripada mengurusinya yang bukan siapa-siapa.


"Apa aku pulang sendiri aja? Tapi aku gak bawa baju. Karena Gheina bisan, akhirnya Gheina keluar ruangan. Menuju taman, tempat favoritnya dirumah. Saat Gheina berjalan menuju


taman, Sisva juga sedang berada ditempat yang sama. Bersama Reno tentunya. Mereka berpapasan namun tidak menyadari satu sama lain. Tujuan Sisva dan


Reno disana karena ingin mengecek data pasien. "Kak, kita tanya kesana kan?" Reno menunjuk kearah resepsionis. "Ia. Ayo." Sisva berjalan tak sabar.


Gheina berjalan biasa menuju taman rumah sakit. "Sus, apa ada pasien bernama Gheina yang baru aja masuk beberapa hari yang lalu?" Sisva langsung membuka


percakapan dengan pertanyaannya. "Sebentar ya, saya cek dulu." Suster resepsionis


itu langsung mengecek ke layar komputer yang isinya daftar nama pasien. "Oh iya, ada." susternya


tersenyum kearah Sisva. "Dia selamat?" pertanyaan yang tiba-tiba ditanyakan Reno. Sisva mencubit lengan Reno yang terasa sangat sakit. "Ia. Dia masih berada dirumah sakit ini." Suster itu memberi informasi lagi.


"Oke. Sus, bisa gak datanya langsung aja dihapus."


"Maaf mbak, kami pihak rumah sakit tidak bisa menghapus atau mensabotase data pasien. Kami hanya ditugaskan


untuk mencatat pasien yang masuk."


"Sus, kita kakaknya. Kita daei luar kota. Asik kita itu tinggak dikota besar ini cuma sendiri, dan sekarang dia lagi diincar sama orang jahat."


Tapi kemarin yang membawa kw rumah sakit dan yang menjenguknya masih orang yang sama."


"Mungkin itu temannya. Tolong ya sus di bantu. Kita gak mau adik kita celaka."


"Baik mbak. Tapi, karena pasien masih berada dirumah sakit atau masih tercatat sebagai pasien, jadi datanya belum bisa dihapus. Dan biaya administrasi juga belum selesai."


"Oke suster. Karena kita gak bawa uang untuk bayar tagihan rumah sakit, jadi biar temennya yang bawa dia kesini aja yang bayar tagihannya. Kalo adik saya udah pulang, langsung dihapus ya sus."


"Baik, nanti akan saya kerjakan." Sisva telah menjalankan rencana awalnya, tinggal ke rencana intinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2