
Kafe sudah mulai ramai. Seperti biasanya, kafe flavlip akan ramai pengunjung du malam hari. Karena tempat yang itu sangat strategis dan sangat romantis. Jadi
banyak pasangan yang dinner disitu. Apalagi malam minggu.
"Semuanya udah beres belum makannya?" Abrar bertanya sebelum meminta bill pada pelayan. "Udah, kita abis
ini langsung pulang aja." Virqa yang menjawab. Yang lain hanya ikut mengangguk. "Waiters, saya minta bill ya." Abrar mengangkat tangannya agar terlihat oleh waiters.
Setelah Abrar membayar, semuanya langsung merapihkan barang-barangnya. "Wulan, lo pulang sama gue ya." Zerdo mencengkram tangan Wulan. "Gue.. mau pulang sama Virqa. Anter gue pulang ya.
Virqa yang merasa terpanggil menoleh, "enggak. Gue pulang sama Kitna." Kitna merasa bingung, Virqa menatapnya meminta persetujuan.
Siapa yang minta dianter pulang. Mending gue pulang sendiri.
"Yaudah, gue pulang sama Abrar." Wulan tidak mau pulang dengan Zerdo bagaimanapun caranya. "Gue anter Gheina." Abrar mendekat kearah Gheina.
"Aku bisa pulang sendiri, kamu anter Wulan aja." Gheina menolak jika harus 1 mobil dengan pria itu. "Gak apa-apa, gue dibelakang aja. Lo kan bawa mobil." Wulan tetap berusaha. "Gue capeklah, enak aja li mau gue anter. Gue bukan taksi, gak ada bayar jasa lagi."
"Yaudah, kak Deffa anter gue ya. Bisakan kak," pertolongan terakhir. "Gu.. gue.."
"Kak Deffa anterin gue. Gue kesini tadi naik taksi. Ini udah mulai malem, gimana kalo ada orang jahat. Dan lo gak usah
ganggu pasangan orang. Itu ada pasangan lo, kenapa gak mau." Yura mendempet ke Deffa. Deffa sedikit menggeser.
"Iya, Zerdo baik banget lho mau anterin cewek kayak lo." Abrar berada sangat dekat dengan Gheina. "Kak, jangan modus deh," Gheina berbisik pada Abrar yang berada tepat disebelahnya.
Dan pada akhirnya, dengan terpaksa Wulan pulang dengan Zerdo.
Di dalam mobil
"Lan, lo kenapa segen banget liat gue. Kita pernah jadi patner kerja. Dan kita klik banget waktu itu." Zerdo tetap fokus melihat ke jalan. "Gue gak suka cara lo
bersikap sama gue. Ntah kenapa lo selalu campurin urusan gue. Gue muak."
"Gue cuma peduli sama lo. Bukannya itu yang selama ini lo cari. Coeok yang perhatian sama lo. Sampe lo iri sama sahabat lo yang pulang smaa Abrar itu." Wulan
terdiam. Dia terkejut dengan apa yang diketahui Zerdo. "Lo tau dari mana. Kenapa lo tau, gue gak pernah cerita ke siapapun." Wulan membenarkan posisi duduknya.
"Lan gue anak psikolog. Lo gak bisa bohong sama gue." Perjalanan semakin dekat dengan rumah Wulan.
"Oh ya, terus siapa orang yang gue suka?" Wulan menantang. "Kalo itu gur belum dapet gue belum bisa liat jelas siapa orangnya. Tapi yang jelas, suatu hari nanti lo
bakal suka sama gue."
Mobil berhenti di suatu rumah. "Tunggu, ini rumah gue. Bahkan lo belum pernah kesini." Wulan tidak menyebutkan arah rumahnya sejak tadi. Namun sekarang sudah sampai didepan rumahnya.
"Udah gue bilang, gue peduli sama lo." Zerdo mematikan mesin mobil. "Gi*a lo stalker. Jangan pernah dateng atau ada depan gue lagi." Wulan turun dari mobil lalu segera masuk rumah
Zerdo tersenyum sambil menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi.
__ADS_1
°°°
Abrar dan Gheina sudah sampai didepan rumah Gheina. "Makasih kak, lain kali kakak jangan dateng kesini sendirian. Apalagi aku gak tau," Gheina khawatir
banyak hal jika itu terjadi. "Makasih juga udah ngingetin. Lo khawatir banget sama gue ya. Khawatir dimarahin kakak lo." Dengan percaya dirinya Abrar.
"Aku gak mau aku kena masalah dan dihukum karna ngelanggar peraturan." Wajah Abrar yang asalnya berseri menjadi datar. "Bohong aja lo." Abrar menyalakan mesin mobil lalu mengklakson.
Kalo mau pergi gak usah pake klakson segala. Mesin mobilnya masih kedengar kok kalo bakal mundur. Gheina terkejut dengan suara itu.
Gheina masuk ke dalam rumah dan menutup kembali pintu depan. Biasanya, jika Pak Mamed sudah tidak ada disore hari, itu artinya Dito sudah pulang.
Dan akan kembali bekerja dimalam hari.
"Kenapa gak ngabarin?" Dito sepertinya sudah menunggu kedatangan Gheina sejak tadi. Gheina lupa mengabari
Dito kalau dia akan pulang telat karena ada urusan. Padahal ini hari pertama dia kembali dan kuliah.
"Maaf kak, aku tadi ada urusan penting yang gak bisa.. pokoknya mendesak. Maaf," Gheina mengaku salah. Ia menunduk.
"Kamu baru aja balik setelah menghilang, menghilang dek." Gheina terkejut, ini pertama kalinya Dito memanggilnya dengan sebutan 'dek'.
"Iya kak. Aku gak akan ulangin hal yang sama. Maaf kak." Gheina masih menunduk. "Sini, duduk." Dito menepuk tempat disebelahnya. Gheina pun mengikuti perintah Dito. Gheina duduk disebelah Dito yang sedang menyaksikan tayangan televisi.
"Pulang pake apa, dianter siapa?" Gheina tidak bisa menjawab apapun. Jika dia menjawab yang sebenarnya, masalah akan datang.
"Siapa? Kenapa kamu dianter cowok."
Abrar selalu bikin aku susah dengan keegoisannya itu.
"Dia pernah kesini waktu aku ke kunci digudang." Gheina bicara takut-takut. "Oh, yang mana orangnya? Kamu punya fotonya?" Dito memancing.
"Kakak pasti tau orangnya yang mana. Waktu itu dia dateng kesini kok." Gheina masih takut Dito akan marah. "Cowok yang waktu itu kesini gak cuma 1." Gheina
tidak benari untuk menjawab. "Kakak gak akan marah Gheina. Kakak tau mereka semua. Tapi gk tau yang mana orangnya, lebih tepatnya lupa."
"Ya tapi aku gak punya fotonya kak. Buat apa juga aku simpen fotonya." Gheina sudah tahu arah pembicaraan. "Cuma nanya. Jangan baper." Dito tersenyum. "Kak, aku ke kamar dulu ya." Dito mengangguk. Dan Gheina menuju kamarnya.
°°°
Ari sudah pulang dari kantor. "Ma, aku udah pulang.." Ari berseru. "Kak, buka sepatunya. Kebiasaan banget." Tina sudah bodan selalu mengingatkan Ari untuk membuka sendal atau sepatu dari luar.
"Sorry, capek." Ari duduk disofa ruang tamu. "Sana, buka sepatunya terus ke atas ganti baju." Tina menarik tangan Ari.
"Bawel. Mama gimana?" Ari khawatir soal keadaan Sani sejak Gheina pergi. "Mama udah baikan kok." Tina ikut duduk disebelah Ari. "Tuhkan! Bau banget,
sana mandi.." Tina memukul punggung Ari. "Kaget gue, sakit juga. Lu bener-bener." Ari menoyor kepala Tina. "Makanya mandi sana. Nanti gak ada cewek yang mau
sama lo, Gheina gak akan mau." Tina menyindir.
__ADS_1
"Sopan dikit jadi orang."
"Cie, ceweknya dibelain. Eh, gebetan." Ari tidak menjawab apapun. "Tapi kalo sampe Gheina suka sama kakak gue yang itu, dipelet dia." Tina bergamam.
°°°
Yura dan Deffa masih berada ditengah jalanan yang lumayan padat. "Kak, aku turun didepan aja." Yura menunjuk jalan. "Gak apa-apa?" Deffa tidak yakin. "Gak apa-apa, cukup disini aja." Deffa meminggirkan mobilnya.
"Makasih ya kak. Dianterin sampe sini aja udah seneng banget. Makasih," Yura amelambaikan tangan. "Beneran gak mau dianter sampe rumah?" Deffa masih tidak enak jika harus menurunkan
seorang wanita dipinggir jalan. Apalagi sekarang sudah mulai gelap.
"Gak apa-apa. Aku masih ada urusan. Jadi sampe sini aja. Kalo lain kali mau anter pulang boleh kok, ketemu camer (calon mertua)." Yura tersipu.
"Gimana? Gak terlalu kedengeran." Deffa mendekat kearah kaca disebelah kanannya. Yura tersadar, "enggak kak. Aku pergi duluan ya. Hati-hati dijalan." Yura melambaikan tangan sekali lagi.
°°°
Gheina sudah mandi dan mencuci rambutnya. Kini rambut dan kulit kepalanya masih masih terbalut handuk. Dia sedang mengejerkan sebagian tugas yang
ditoleransi oleh dosen untuk mengerjakan lebih telat sari yang lain.
"Aku cuma dikasih waktu 1 munggu, aku harus bisa gunain waktu itu dengan baik unruk nyelesain semua
tugasku." Gheina mengambil ponsel dan mencari kantak seseorang.
Gheina : Lan, aku minta format dan beberapa jenis tugas yang dikasih dosen. 18.27
terkirim...
Gheina menanti sejenak, lalu dari suara notifikasi. Segera Gheina membuka hpnya.
Wulan : Ok. Gue kirim sekarang ya. Sisanya banyak banget, dosen yabg kasih tugasnya ribet. Penjelasannya sedikit banget lagi. 18.29
terkirim...
Gheina mengerutkan dahi saat membaca balasan dari Wulan.
Gheina : Sisa? Emang kamu udah kirim ke aku tugasnya. Lewat mana?" 18.31
terkirim...
Bersambung...
__ADS_1