
Acara telah usai setengah jam yang lalu. Ternyata acaranya 1 jam lebih lama dari pemberitaan. Tetapi ditempat itu masih lumayan banyak orang. Ada yang sedang tertawa
bersama teman-temannya, ada yang sedang asik menghabiskan makanan yang tinggal beberapa tersisa. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Gheina lupa akan waktu karena keasikan
berbincang dan menikmati malam yang indah. Sangat jarang bagi Gheina bisa keluar malam sampai selarut ini. Karena
kakak-kakaknya pun tidak ada yang keluar sampai selarut ini kecuali Dito.
"by the way, ini udah jam berapa sih. Kok gue mulai capek banget nih." kerjaan Kitna dan Wulan berkeliling lokasi untuk menyapa, mungkin didalam hatinya
berniat untuk modus bertemu lelaki idaman atau tipe mereka. Gheina juga capek karena hanya mengikuti mereka seperti anak yang mengikuti arah ibunya di acara arisan atau pernikahan.
"Ini udah jam setengah sebelas sih. Kenapa," seperri tidak sadar ataupun ingat apapun soal rumah. "Lo bakal pulang jam berapa? kak Dito gak telpon ot something?" Wulan
meneguk sirup hingga habis. Matanya
melotot, Gheina baru sadar kalau dia tidak akan lebih dari jam 9 malam. "Aku
pulang dulu ya. Kak Dito nanti marah lagi." terburu-buru berdiri, namun lengannya dipegang Wulan. "Ini udah malem, lo pulang sama siapa. Kirain dijemput sama kak Dito." Gheina menggeleng, "Aku bawa mobil. Kak Dito bolehin aku bawa
mobil juga. Udah ya, aku pulang dulu." Lagi-lagi ditarik tangannya, "tunggu dulu. Emang kakak lo pernah marah, sejak kapan?" setahu Wulan, kak Dito memperlakukan Gheina dengan amat layak. Beda dengan kedua kakaknya yang lain.
"Ini beda urusan." Gheina tampak kesal karena malah membuatnya semakin lama untuk sampai ke rumah. "Coba dulu kali, cek hp." Gheina segera memeriksa hpnya. Dan hpnya mati, ntah sejak kapan. "Hp aku mati, jangan-jangan daritadi kak
Dito telpon aku. Udah ya, aku pulang dulu. Bye-bye, see you later." Gheina berlari sambil melambaikan tangannya pada Kitna dan Wulan. "Gue kok ngerasa aneh sih sama lo hari ini," Kitna melihat wajah Wulan yang sangat lelah. "Gak ada. Lo yang aneh,"
Wulan memang terlihat aneh.
°°°
malam sudah membuat langit semakin gelap. Waktu sudah menunjukkan
pukul 11 malam. Kaadaan jalanan malam sudah cukup sepi dan sunyi. Kecepatan
mobil yang Gheina kendarai normal.
Tidak terlalu cepat juga tidak
terlalu lambat. Didalam hatinya ada cemas yang membara. Aku kenapa bisa lupa waktu. Ini baru pwrtama kalinya aku telat pulang dan ini udah larut banget. Apa kak Dito bakal marah banget sama aku ya.
Namun Gheina teringat kata-kata Wulan. Bahwa Dito tidak pernah marah
pada Gheina itu memang benar. Dito memperlakukan Gheina dengan baik dan sepenuh jika memperlakukannya sebagai manusia biasa.
"Kak Dito emang gak pernah marah sama aku. Tapi kali ini apa untuk pertama kalinya kak Dito marahs sama aku." Gheina merasa kecewa pada dirinya sendiri. Dirinya sendiri
saja sudah merasa sang
at kecewa, apa kabar dengan Dito dirumah nanti.
Waktu terus berjalan, dan mobil terus melaju. Gheina sepanjang perjalanan seperti apa bila Dito marah padanya. Dan dia
sangat paham jika nanti Dito akan marah seperti apapun itu. Kecemasan memenuhi pikirannya sampai di
__ADS_1
depan gerbang rumah yang sunyi.
Security yang berjaga membukakan pintu. Gheina memasukkan mobil
kedalam garasi. "Selamat malam nona. Kenapa nona baru pulang, inikan udah jam 12." Gheina hanya tersenyum tipis lalu meninggalkan security yang menghampirinya.
Aku sudah tau kslau aku memang pulang sangat larut. Aku menyadari itu kali. Gak udah ingatkan aku, aku juga tau kalau nanti salah satu atau semua kakak-kakakku akan marah sama aku.
Gheina berjalan perlahan menuju pintu belakang. Mambuka pintu dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar suara dari pegangan pintu. Tapi usaha itu tidak membuatnya semalat dari kakak-kakaknya.
Reno sudah menunggu didrkat pintu sambil duduk memainkan hp.
Gheina tidak berani lagi untuk
melangkah. Kalau sampai dia melangkah, pasti kakak terakhirnya ini memarahinya lebih kejam. Reno dan Sisva tidak pernah
berani untuk keluar semalam itu. Jika
berkencanpun, paling telat masuk rumah pukul 9 malam. Atau mereka akan dicap
sebagai bersalah selama 2 minggu.
Dito tidak membuat peraturan itu, awalnya hanya membuat beberapa peraturan yang mungkin masih bisa dilanggar. Namun Reno menambah peraturan yang ada. Dia
menambahkan peraturan 'tidak boleh pulang
larut melewati pukul 9 malam
itu Reno. "Ehem. Masih gadis?" tanyanya jutek. Dengan enteng dan teganya Reno mengatakan hal diluar
dugaan Gheina. "Maksudnya," meminta penjelasan dari omongan kakaknya.
"Lo sekarang udah berani ngelanggar peraturan rumah ini. Apalagi ini
peraturan yang gue buat. Lo udah berani
pulang larut, selarut ini. Bahkan kita bertiga belum pernah ngelakuin itu. Gue sama kak Sisva pun gak pernah pulang malem lewat jam 9. Lo mecahin rekor keluarga ini." Reno sengaja membuat Gheina
merasa tertekan.
"Kalo lo udah gak bisa diatur sampai berani ngelanggar aturan, itu artinya lo udah gak mau lagi diatur. Dan lo harus
pergi dari sini." Reno sedikit meninggikan suaranya, "Reno. Lo kenapa malah teriak-teriak." Sisva menghampiri.
Aku gak akan selamat kalau harus berhadapan sama mereka berdua. Tapi aku juga gak akan bisa lolos gitu aja.
"Lo udah pulang ternyata. Bisa-bisanya lo buat kak Dito sampe ketiduran disofa.
Siap-siap besok pagi lo bakal pertama kalinya dapet amarah dari kak Dito." Sisva menyilangkan tangannya didrpan dada. "Lo gak usah capek-capek ngurusin dia, ini udah malem. Mendingan kita
urus besok. Kalo lo berisik sekarang, lo juga bsksl kena marahnya kak Dito."
Benar juga kata kak Sisva. Lebih baik aku tidur daripada aku
__ADS_1
harus ngurusin dia. Kita liat aja besok, apa yang akan terjadi.
Semuanya pergi meninggalkan Gheina. Gheina tidak berkutik apapun, "Kali ini aku harus sangat berterimakasih
sama kak Sisva. Aku diselamatin, kalo kak Sisva gak kasih usul apapun, aku bakal diterkam sama dua-duanya. Gheina pun pergi kekamarnya untuk bersih-bersih dan bergegas istirahat.
°°°
Mataharipun belum muncul. Ketukan pintu yang keras mengganggu
waktu tidur Gheina yang sangat minim karena dia pulang tengah malam. "Gheina bangun. Lo bisa kesiangan, walaupun gur gak perduli sih." Sisva memelankan suaranya diakhir kalimat.
Aku gak mau keluar buat buka pintu ah. Pasti aku diterkam sama kak Sisva.
Sedikit terkekeh dengan gerutu dalam hatinya. "Dari malem aku bilang terkam terus, harimau kali ah." Segera menyambar handuk dan masuk kamar mandi.
Tapi masa aku harus bikin hari produktif buat hindarin kakak-kakak aku yang
pasti bully aku.
Gheina benar-benar tidak mau berdebat atau menjadikan keributan apapun pagi hari.
Dia hanya ingin menikmati udara yang masih sejuk dan belum banyak atau bahkan belum ada polusi dengan
tenang dan tentram. Karena setiap harinya, pasti dia akan mendapat serangan-serangan dari kedua kakaknya itu. Dia tidak menghindari, hanya mengulur waktu.
Selesai sudah ritual Gheina pagi ini didalam kamarnya. Saatnya untuk turun dan
sarapan pagi. Sesaat Gheina teringat sesuatu, "gimana sama kak Dito ya. Apa kak Dito bakal marah pagi ini. Apa ini waktunya aku ngerasain juga dimarahin sama kak Dito. Ya ampun, kenapa aku bisa ada diposisi ini sih. kenapa aku harus
ceroboh tadi malem, sampe aku lupa waktu. Dan yang parahnya, bikin kak Dito nunggu sampe ketiduran." Gheina sedikit ragu turun untuk sarapan. Ketakutannya masih sangat besar, dia belum berani untuk. berhadapan dengan kakak pertamanya setelah membuat kesalahan fatal.
"Ghe! Buka pintunya. Kak Dito nunggu lo dimeja makan. Lo lagian kenapa sih gak turun juga. Lo gak sarapan, ini udah siang Ghe. Lo belum bangun juga," terus-menerus
gedoran pintu terdengar malah semakin keras. Gheina akhirnya menyerah, hanya bisa pasrah. Lagi pula ini semua salahnya. Kalaupun dia mendapat hukuman pertama dari Dito, itu wajar dan sangat
pantas. "Aku udah bangun daritadi kok. Aku gak nyautin kakak karna kakak daritadi berisik. aku juga bakal kebawah
kok. Aku juga buruh nutrisi
pagi hari kak," bicaranya santai, tidak menunjukkan sikap berani melawan. Tapi kata-katanya malah bikin Sisva jengkel.
Sumpah. Belagu sekarang dia. Awas aja lo, gue bakal ketawain lo nanti kalo sampe lo dapet hukuman pertama lo dan
dengan hukuman pertama ini, gue bisa bikin
hukuman untuk selanjutnya.
Sebuah ancaman dari kakaknya sendiri lagi dan lagi menjadi boomerang. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan
Sisva setelah Dito turun tangan. Begitupun Reno.
Bersambung...
__ADS_1