
Milan Italia
Alessandro menatap jalanan kota Milan dengan perasaan kesal luar biasa. Sudah seharusnya kedua orang tua itu diberi pelajaran dan dibuang ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni dan menyeramkan. Pria berwajah dingin itu tersenyum smirk lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ciao Michel. Apa kabar?" sapa Alessandro ramah.
"Ciao Alessandro. Kabar baik. Ada apa kamu menelpon aku? Tumben... Apa kamu hendak mencari sekutu demi lolos menjadi menantu Hideo Park?" kekeh Michel de Luca.
Alessandro tertawa. "Nope, bukan itu. Soal mencari sekutu, aku tahu kamu dan Dante pasti akan mendukung aku dengan Sakura."
"Percaya diri sekali kamu Moretti" balas Michel jengah.
"Bagaimana kehamilan Gemini?"
"Alhamdulillah, sudah berjalan lima bulan dan anak kami berjenis kelamin laki-laki."
"Syukurlah. Oh, Michel, apakah benar ibu mertua kamu menghukum paman dan bibimu ke tempat angker?"
"Benar. Kenapa Ale? Kamu ingin mengirim orang kesana?" suara Michel terdengar antusias. "Siapa yang hendak kamu kirim?"
"Sama denganmu."
"Jangan bilang dua orang Thomas Moretti..." tebak Michel.
"Exactly! Tolong kamu tanya ke ibu mertua kamu, dimana enaknya buang orang di Jepang sekalian yang kosong tempatnya dan horor!"
Michel tertawa terbahak-bahak. "Astagaaa! Kamu cocok masuk keluarga Sakura! Ketularan bobrok!"
"Hei, mereka kan pola pikirnya sering out of the box dan tidak terpikirkan oleh kita."
"Coba aku hubungi mommy, nanti aku kabari. Oke?"
"Thanks Michel."
"Oh, Ale, sorry tampaknya Antonio Bianchi dan Alexis akan mengadakan double wedding. Mungkin kamu tidak diundang karena kalian kan sedang dipisahkan apalagi belum ada setahun."
"Tidak apa-apa. Demi mendapatkan bunga keluarga Park, aku jabani."
"Semangat Ale. Sakura itu meskipun brutal, dia sudah memilih kamu. Aku hubungi mommy dulu" pamit Michel.
"Oke Michel. Grazie" balas Alessandro.
"Boss, apa akan dikirim ke Jepang? Saya dengar disana banyak desa kosong yang jadi horor karena tidak ada manusia nya" celetuk anak buahnya.
"Bukankah itu bagus. Apalagi jika transportasi macam kereta sudah tidak ada disana. Biarkan mereka bekerja keras dari nol!" seringai Alessandro.
"Hukuman anda antara manusiawi dan tidak manusiawi sih..."
Alessandro hanya tersenyum smirk.
***
Rumah Mode Morr Milan Italia
Alessandro berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya di lantai dua mengacuhkan dua orang yang duduk menunggu di dekat meja sekretaris nya.
"Ale !" panggil ayah Thomas Moretti.
__ADS_1
Alessandro hanya mengangkat satu tangannya pertanda dia tidak mau diganggu dulu lalu menutup pintu ruang kerjanya diikuti oleh asisten dan dua pengawalnya. Dua pengawal lainnya berjaga di depan pintu ruang kerjanya.
"Jorge sudah sampai pelabuhan?" tanya Alessandro ke pengawalnya yang bertugas memonitor kontainer yang dikawal Jorge.
"Sudah Signor. Ini proses shipping."
"Bagus!" Alessandro mengehentikan ucapannya ketika ponselnya berbunyi dan wajahnya tersenyum smirk saat membaca siapa yang menelpon. "Ciao Michel, bagaimana?"
"Ada tiga tempat Ale. Fukuoka, perfektur Toyama dan Nagoro. Silahkan kamu browsing sendiri, kira-kira mana yang cocok buat kirim mereka" jawab Michel de Luca.
Alessandro langsung membrowsing ketiga tempat itu dan tersenyum licik. "Thanks Bro. Sangat membantu."
"Ibu mertuaku memang aduhai. Tidak ada takut-takutnya, bahkan tadi langsung semangat ingin ikut membantu membuang keluarga mu" gelak Michel. "Untung langsung dicegah Daddy. Bisa berabe macam aku dulu."
"Grazie, Michel. Salam buat Gemini" ucap Alessandro tulus.
"You're welcome. Nanti aku sampaikan ke Gemini. Bye Ale."
"Bye Michel."
Alessandro mematikan ponselnya lalu menatap ke dua pengawalnya. "Kalian berdua, bius dua orang yang duduk disana, culik Thomas Moretti dan kirim dengan pesawat menuju desa daerah Nagaro. Tinggalkan mereka disana dan kalian langsung pulang ke Italia. Aku akan hubungi Luke Bianchi agar mempermudah pekerjaan kalian."
"Sì Signor."
Kedua pengawal itu keluar dan asistennya menunggu perintah selanjutnya.
"Kamu siapkan pesawat dan buat mereka bertiga dibius yang bisa tidur 36 jam."
"Sì Signor. Akan saya laksanakan. Pesawat nya yang biasa kan Signor?"
Asisten Alessandro di rumah mode itu pun mengangguk hormat lalu keluar dari ruang kerja. Alessandro lalu menghubungi orang yang sebenarnya malas dia hubungi tapi ini terpaksa.
"Halo, Luke Bianchi. Alessandro Moretti."
***
London Inggris
"Haaaaahhh? Moretti Uno telpon bang Michel buat nanya tempat buang orang di Jepang?" seru Sakura saat Gemini menelponnya.
"Iya lho Sakura. Gara-gara mommy dulu ngerjain paman dan bibinya Michel, Alessandro sekarang jadi dapat ide yang menurutnya brilian tapi buat aku benar-benar deh!" kekeh Gemini.
"Terus rencana mau buang kemana?" tanya Sakura yang merasa gemas dengan pria bertatto itu.
"Mana aku tahu, Sakura..." senyum Gemini.
"Iiiisshhhh dasar manusia spidol satu itu!" gerutu Sakura.
"Michel hanya memberikan tiga tempat yang termasuk horor dan biar Alessandro memilih sendiri mana yang cocok."
Sakura memegang pelipisnya. Iya benar nggak bunuh orang tapi ngirim orang ke tempat angker kan gimana gitu...
***
Malam Harinya...
Sakura menatap judes ke Alessandro yang memberikan senyum manis. Pria itu tampak tidak memakai baju dan habis mandi langsung melakukan panggilan video ke Sakura.
__ADS_1
"Tulip... kenapa wajahmu judes begitu?"
"Menurut mu?" balas Sakura galak.
Alessandro tertawa geli melihat gadis berpipi chubby itu tampak semakin menggemaskan saat marah. "Gemini sudah cerita padamu?"
"Hhhhmmm."
"Tulip, daripada aku bunuh, lebih baik aku hukum dengan diasingkan ke tempat asing dan horor sekalian..."
"Kamu dapat ide dari mana sih?" bentak Sakura kesal.
"Kasusnya Michel. Aku mendengar nya dari Dante dan aku pikir itu hukuman yang masih manusiawi dari Tante mu" senyum Alessandro sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Uno... pakai baju dulu kenapa?" pinta Sakura yang sedikit terintimidasi dengan tubuh Alessandro.
"Kenapa Tulip? Bukankah kamu bisa melihat badanku dulu sebelum kita menikah biar kamu tidak terkejut dengan jumlah tattoo di badanku..."
Pipi Sakura memerah. "Pakai baju dulu baru telepon aku!" bentaknya lalu mematikan ponselnya.
Alessandro melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Astagaaa Tulip, kamu menggemaskan! Semakin tidak sabar untuk segera menikahi kamu..."
***
Kamar Eagle
"Jadi lusa saya harus membuat camilan khas Indonesia?" tanya Elane melalui panggilan telepon biasa bukan video.
"Iya Elane. Minggu ini temanya masakan Indonesia. Apa kamu bisa membuatnya sekitar empat varian selama seminggu setiap hari berbeda. Terserah kamu mau ambil dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, atau Ambon maupun Papua sekalipun. Hampir-hampir mirip dengan Malaysia kan?" ucap Eagle.
"Akan aku usahakan Eagle. Karena aku harus mengetahui jadwal menu nya tiap hari agar aku bisa membuat dessert yang pas dengan makanan hari itu."
"Tentu saja besok aku kirimkan jadwal menu Minggu ini. Dan kalau kamu ada yang ingin ditanyakan, kamu bisa hubungi aku."
"Baik Eagle."
"Oh Elane, bagaimana rasanya bertemu dengan opa dan omaku?"
"Opa dan Oma kamu menyenangkan. Kamu memiliki keluarga yang awesome."
"Kamu hanya tahu permukaan saja, Elane. Aslinya kami itu bobrok dan brutal gesreknya..." kekeh Eagle.
"Masa sih?"
"Makanya, kamu menikah dengan ku jadi tahu kacaunya keluarga aku..."
Elane melongo.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1