
Kediaman Keluarga Park Tokyo Jepang
Alessandro menatap Sakura bingung setelahnya melirik ke Fayza yang memeluk erat Hideo dan menoleh ke arah Shinichi dan Kedasih yang sama-sama mengintip dari balik bantal lalu dirinya kembali fokus ke Sakura yang menyembunyikan wajahnya di lengannya.
"Tulip, itu cuma film. Kamu cuma dibohongi spesial effect..." bisik Alessandro lembut.
"Tetep saja serem Uno!" gumam Sakura yang semakin bersembunyi di balik lengan kekar Alessandro.
Pria Italia itu hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana anggota keluarga Park kecuali Hideo heboh melihat adegan saat setannya mulai meneror pelaku klenik.
"Astagaaa... Ini film apa sih? Nggak ada faedahnya ..." gumam Alessandro usai film musyrik selesai.
"Welcome to our family Ale. Ya begini lah kalau pada nonton film horor dan konyolnya Fay, Shin dan Sakura, sukanya horor Indonesia" kekeh Hideo.
"Horor Indonesia itu lebih serem dari pada horor Hollywood!" celetuk Shinichi sambil memakan pizzanya setelah film selesai.
"Biasa aja Park. Nggak ada serem-seremnya. Aku merasa merinding itu, harafiah merinding karena aku jarang merinding, ya waktu di Fureai Sekibutsu itu. Sumpah, untuk pertama kalinya aku merasa hawa dingin tidak enak disana" jawab Alessandro sembari menyesap coke nya.
"Kamu wajib nonton ini!" cengir Shinichi lalu memutar film Suzanna yang judulnya Sundel Bolong. "Kalau sampai kamu nggak nightmare Uno, hebat!"
Fayza mendelik. "Astaghfirullah Ichiii! Nggak kapok kamu jejeritan?"
"Seru lagi mom!" Shinichi lalu bersiap bantal bersama Kedasih untuk menutupi wajahnya kalau tiba-tiba Suzanna nongol.
Hideo hanya bisa memegang pelipisnya. Iya benar dia ingin suatu saat berkumpul bersama istri, anak dan menantunya menikmati kebersamaan tapi ya nggak pakai acara maraton nonton film horor jugaaaaa!
***
Gazebo halaman belakang rumah keluarga Park
Alessandro mendongakkan wajahnya diatas kepala sofa dengan mata terpejam. Dirinya merasa butuh ketenangan mata dan otak gara-gara harus nonton film horor bersama dengan keluarga Sakura.
Gini amat ya cara mendekati keluarga Tulip. Masa ya harus nonton tiga film horor berturut-turut? Mana tadi apaan tuh? Minta sate 200 tusuk? Yang benar saja! Mio Dios! Alessandro merasa kepalanya pening meskipun sudah makan siang bersama tadi dengan keluarga Park.
Suara langkah seseorang datang ke gazebo membuat Alessandro membuka matanya dan tampak Shinichi datang sembari membawakan dua ice cappucino.
"Uno."
"Park."
Shinichi menyerahkan segelas ice cappucino ke Alessandro. "Tenang, tidak aku kasih arsenik." Pria imut itu pun duduk di sebelah kekasih adiknya.
Alessandro terkekeh. "Bukan gayamu memberikan arsenik, Park."
"Memang bukan. Mending aku ikat di mesin roketku..." jawab Shinichi sambil menyesap ice cappucino nya. "So, apa kamu serius hendak menikahi adikku si kembang kantil..."
__ADS_1
"Stop panggil Sakura kembang kantil, Park!" potong Alessandro.
"Ya sudah kembang api..."
Alessandro hanya melengos. "Terserah kamu Park, tapi jangan kembang kantil!"
"Serius kamu Uno?"
"Ya Allah Shinichi Park! Aku serius dengan adikmu! Sampai hukuman dari Oom Hideo aku jabani. Adikmu itu adalah segalanya untukku."
"Bagaimana dengan Muka Rata?"
Alessandro harus mencerna ucapan Shinichi dan baru sadar yang dimaksud adalah adiknya, Raffa. "Soal Raffa, dia sudah betah di Los Angeles dan sudah menerima lama kalau Tulip memilih aku."
Shinichi menatap tajam ke arah Alessandro. "Sebenarnya aku ingin melanjutkan hingga acara menembak dan Kendo tapi sayangnya aku harus berada selama tiga bulan ini di JAXA ( The Japan Aerospace Exploration Agency ) bersama Kedasih efektif Minggu depan. Kami mendapatkan tawaran magang disana dan aku tidak bisa seenaknya pergi seperti di Todai. Setidaknya aku bersyukur saat kalian mau menikah akhir tahun ini, aku dan Kedasih sudah menyelesaikan magang kami."
"Hebat kamu Park. Dibalik kekacauan dan random kelakuan kamu, otak mu sangatlah jenius" puji Alessandro.
"Karena dengan fisika, setidaknya bisa mengurangi kerandoman aku. Kalau tidak, aku bisa bablas Membagongkan" cengir Shinichi.
"Baru kali ini kita bisa mengobrol secara beradab tanpa harus ribut..." senyum Alessandro.
"Kalau aku tidak harus magang, bisa saja kamu aku jabani dua duel terakhir tapi aku tidak mau menghabiskan energi sebelum ke JAXA. Berada disana sudah membuat aku kehabisan energi karena etos kerja yang berbeda dengan di Todai."
"Well, aku melihat bagaimana adikku tidak bisa lepas dari kamu. Jadi mau gimana lagi?"
Alessandro tersenyum. "Thanks Park."
"Tidak gratis."
"Astaghfirullah! Harus pakai apa itu namanya, pelangkah?" tanya Alessandro.
"Ya iyalah! Wajib itu!" jawab Shinichi.
"Kamu minta apa?"
"Aku pikir-pikir dulu..." jawab Shinichi dengan gaya yang mirip dengan keponakannya, Arsyanendra.
Alessandro terkekeh. "Semoga masih masuk akal."
"Heeeiii, kapan aku tidak pernah masuk akal?" protes Shinichi.
Kedua pria itu tertawa.
"Kamu sendiri, kapan dengan Kedasih?" tanya Alessandro.
__ADS_1
"Belum tahu. Bisa tahun depan bisa tahun depannya lagi karena kita memang ilmuwan yang lebih prefer memikirkan proyek dan penelitian. Jadi santai saja lah. Hedwig juga bilang santai, ya kami selesaikan dulu tugas dan penelitian kami dulu."
Dua pria dengan fisik berbeda itu sama-sama menyesap ice cappucino nya.
"Kamu memang penggemar film klasik ya Park?"
"Yup. Film klasik itu healing aku. Bahkan dari film klasik, aku bisa mendapatkan ide aneh-aneh" kekeh Shinichi.
"Lha kalian disini rupanya" ucap Sakura yang datang bersama Kedasih. "Nggak berantem kan?"
Sakura lalu duduk di sisi kiri Alessandro sedangkan Kedasih duduk di sisi kanan Shinichi. Alessandro secara otomatis memeluk pinggang Sakura membuat gadis itu bersandar di tubuh kekar kekasihnya.
"Bahas apa tadi?" tanya Sakura.
"Bahas Kakakmu akan magang di JAXA Minggu depan jadi acara menembak dan Kendo dibatalkan karena kakakmu sudah memberikan restu, Tulip."
Sakura menatap Shinichi. "Mas Shin ke JAXA? Kereeenn! Berdua sama Kedasih?"
"Iya Sakura. Minggu depan kami resmi tiga bulan magang disana" senyum Kedasih.
"Libur Natal sudah selesai kan?" tanya Sakura penuh harap karena seperti saudaranya yangmemilih menikah akhir tahun, libur natal adalah waktu yang pas untuk menikah.
"Insyaallah sudah Sakura" jawab Kedasih.
"Tapi masih mending di JAXA daripada harus ke NASA" ucap Shinichi. "Sebenarnya ada dua penawaran antara JAXA dan NASA buat kami berdua tapi aku dan Dash-dash sepakat di JAXA yang masih di Tokyo."
Sakura pun bangun dan memeluk kakaknya yang akhirnya memberikan restu dirinya dan Alessandro. "Domo Arigato mas Shin..."
"Tapi nggak gratis! Kan kamu langkahi mas Shin..." cengir Shinichi yang mendapatkan keplakan dari adiknya.
***
Sementara itu Hideo dan Fayza melihat keempat orang di Gazebo yang asyik mengobrol sambil tertawa, sangat bersyukur karena kedua anak mereka mendapatkan pasangan cocok.
"Alhamdulillah..." ucap keduanya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1