
Intercontinental Barclays Hotel Manhattan New
Sakura datang ke ballroom sambil menempelkan airpods di telinganya. Gadis itu ditelepon oleh Alessandro dengan alibi ingin mendengar acara ijab qobul dua sepupu gadis itu.
"Berarti nanti malam ada acara penggagalan unboxing?" tanya Alessandro yang tahu tradisi keluarga Sakura.
"Gadha, Uno. Bang Tomat curang! Habis acara resepsi mau langsung terbang ke Paris. Otomatis kalau cuma gangguin bang Alexis kan nggak seru!"
"Jadi acaranya apa?"
"Sudah semalam. Mas Bayu mengajak para sepupu pria ke markas keluarga main tembak-tembakan."
Alessandro terdiam. "Main tembak-tembakan? Maksudnya apa Sakura?"
"Jadi kami punya tempat latihan menembak dan para pria menghabiskan bachelor party disana."
"Sayang aku masih dihukum appamu. Bisa ikutan kalau tidak."
"Sing sabar njih..." Sakura cekikikan saat mengucapkan itu.
"Kamu ngomong apa sih? Tulip, janganlah ngomong pakai bahasa yang aku tidak paham." Alessandro merasa gemas mendengar Sakura sering berbicara berbagai bahasa yang tidak paham. Sudah kemarin diomeli Shinichi tidak bisa bahasa Korea dan Jepang, sekarang kamu ngomong apa, aku tidak paham.
"Itu bahasa Jawa, Ale."
"Please, sayang. Jangan bicara dengan bahasa yang aku tidak paham. Artinya apa?"
"Yang sabar ya" kekeh Sakura.
"Sayang, cukup ya. Pakai bahasa Inggris atau Italia saja ..."
"Makane Sinau!" balas Sakura lagi sambil tertawa.
"Apa lagi itu Tuliiippp!" protes Alessandro gemas. "Coba kalau aku disana, sudah bengkak bibir kamu."
"Artinya makanya belajar. Memang bibirku kenapa bengkak? Kena sengat lebah?"
"Iya. Lebahnya aku."
Sakura tertawa. "Dasar pria Italia! Tukang merayu!"
"Aku hanya merayu kamu saja Tulip..." ucap Alessandro mesra.
__ADS_1
Wajah Sakura memerah mendengar rayuan receh Alessandro. "Dasar!"
"I love you Tulip."
"Love you too Morotin."
Sakura terdiam ketika acara hendak dimulai dan dirinya mengirimkan pesan pada Alessandro bahwa dia akan diam saja membiarkan Alessandro mendengarkan acara ijab qobul tersebut.
***
Usai Acara Ijab qobul Savrinadeya dan Raveena
Sakura melihat bagaimana Kakaknya Shinichi dan para sepupunya memilih tidur di sebuah ruangan yang disiapkan Oom Rama dan Oom Pandu karena tahu para sepupu prianya pasti super ngantuk.
Gadis itu lalu mendekati Elane yang duduk sendirian merasa bingung karena Eagle sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Eonni, kenapa?" tanya Sakura ke gadis berhijab itu.
"Bingung..." senyum Elane. "Kalian banyak banget, sampai aku tadi salah nama Tante. Harusnya aku panggil Tante Arimbi malah ke Tante Rina. Harusnya Oom Bima, malah Oom Aji... Pusing aku Sakura..."
"Hahahaha, sabar ya Eonni, maklum lah, keluarga kami memang banyak banget! Kalau salah ya dimaklumi karena Eonni baru pertama ketemu dengan keluarga kami."
"Sakura, apa benar kak Rin itu mantan preman?"
"Tapi beneran mantan preman?"
"Waktu SMA sih iya. Tapi begitu kuliah sudah tidak. Mbak Rin sudah meninggalkan dunia yankee sejak kuliah dan bekerja sebagai ahli gizi."
"Keluarga kamu itu... "
"Eonni tidak nyaman? Kami memang bar-bar sih tapi sayang satu sama lain meskipun tidak lepas dari menistakan dan durjana satu sama lainnya."
"Bukan itu, aku hanya terkejut bagaimana kalian bisa dengan berbagai profesi dan latar belakang, akur seperti ini..."
"Tidak mudah, Eonni. Boleh dibilang dari jaman buyut kami, sudah banyak drama dalam hubungan percintaan tapi percayalah, kami adalah tipe setia. Jika sudah menikah, dijamin kami adalah orang-orang paling bucin seantero bumi. Kami nyaris tidak pernah bercerai kecuali mbak Mintang karena satu lain hal."
"Sakura, kenapa Eagle tampak mengantuk pagi ini?" tanya Elane. "Dan tadi katanya mau tidur di ruangan itu."
"Well, semalam ada acara bachelor party..."
"Aku tahu. Apakah acaranya seperti bachelor party pada umumnya?"
__ADS_1
Sakura menoleh ke arah gadis berhijab itu. "Eonni, kalau mengira bachelor party nya dengan wanita dan alkohol, Eonni salah besar. Semalam itu acaranya menghabiskan peluru, anak panah, pizza, pasta, coke, kopi, teh dan air putih."
"Apa? Peluru? Anak panah?" Mata coklat Elane tampak terbelalak.
"Eonni jangan pingsan ya. Susah nanti aku gotong nya. Kami itu punya hobi latihan menembak dan panah, jadi semalam para pria latihan menembak di gedung latihan milik keluarga McGregor dan Blair. Tahu kan tempat latihan menembak? Nah semacam itu. Jadi acara bachelor party nya adu jago siapa yang paling persisi mengenai sasaran."
Elane menyandarkan punggungnya sambil mengipas- kipas wajahnya dengan tangan karena sangat terkejut. "Astaghfirullah Al Adzim... Apa Eagle jago menembak?"
"Kami semua mbak. Kecuali mbak Rin yang tidak mau latihan menembak."
"Kamu juga?" Elane semakin terkejut dengan keluarga Eagle.
"Hukum wajib Eonni dan itu sudah aturan baku dari dulu. Kami diwajibkan untuk bisa bela diri dan menembak untuk membela diri jadi bukan untuk sok jago. Kami semua punya lisensi internasional. Radeva malah atlet menembak dari kampusnya di NYU dan masuk tim olimpiade Amerika Serikat."
Elane semakin terperangah dengan santainya Sakura bercerita.
"Eonni, jika tidak nyaman, cerita saja sama aku. Aku tahu sebagi orang baru pasti akan kesulitan menerima bagaimana keluarga kami sebenarnya tapi percayalah, jika kami semua sudah menerima kamu, Eonni. Kami memang bisa menembak dan bela diri tapi bukan sebagai gaya-gayaan, murni bekal kami. Tahu sendiri kan kami keluarga dari mana?" Sakura menatap Elane serius.
"Sakura, sejujurnya aku terlalu sangat terkejut karena Eagle tidak bercerita apapun."
"Mas Eagle tidak mau kamu ketakutan, Eonni. Tapi percayalah, mas Eagle ingin melindungi kamu, mbak Dira juga. Kami tahu kamu bukan tipe macam mbak Rin atau macam mbak Gemma yang memang cewek tangguh. Kamu tangguh dengan gayamu sendiri jadi janganlah merasa gimana-gimana. Mas Eagle itu sayang sama kamu Eonni."
Elane mengangguk. "Sakura, terimakasih sudah bercerita tentang keluarga Eagle. Jangan khawatir, aku wanita kuat. Dan aku tahu kalian seperti itu karena aku bisa memaklumi karena kalian bukan keluarga sembarangan dan terkadang kalian tidak membutuhkan pengawal jadi harus bisa membela diri."
Sakura tersenyum senang. "Alhamdulillah kalau Eonni bisa paham ya kenapa kami seperti ini."
"Sejujurnya aku sangat terkejut tapi aku paham. Tapi tolong, jangan ajak aku untuk belajar menembak, aku sangat takut dengan jenis senjata apapun..." pinta Elane memelas.
Sakura tertawa. "Nggak lah Eonni. Itu tugasnya mas Eagle, mau ajari Eonni atau tidak..."
"Sakuraaaaa..." rengek Elane yang merasa panik mendengar andaikata Eagle suatu saat mengajarkan cara menembak.
"Nggak lah. Mas Eagle pasti tidak mau tangan mbak Elane terluka jadi tidak bisa membuat pastry nanti."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️