
Lapangan Golf
Luca dan Hideo terkejut dengan kemampuan golf Alessandro yang tidak sesuai dengan handicap yang dia bilang sebelumnya karena dari 18 holes, rata-rata dia mendapatkan par dan dua kali mendapatkan eagles serta hanya sekali boogey.
"Apa kamu yakin handicap kamu 17?" tanya Luca yang pagi ini permainannya sedikit jelek dari biasanya.
"Well, saya kan sudah lama tidak main jadi seingatnya saja" jawab Alessandro sambil menyesap orange juice nya.
"Aku rasa dia membohongi kita semua, Dad" ejek Luke sinis. Hari ini dirinya hanya unggul sedikit dari Alessandro. Luca dan Hideo sendiri tidak terlalu bagus permainannya hingga harus berada di bawah dua pria muda itu.
"Aku mengatakan apa adanya Luke."
"Masih tidak percaya" jawab Luke sebal.
"Jadi kamu membuang keluargamu ke Fureai Sekibutsu? Gila kamu Ale, aku saja tidak berani kesana menjelang sore. Ini malah kamu tinggal disana! Dan kamu Luke, kenapa juga mau ikutan bantu si Ale?" Luca menatap kedua orang di hadapannya bergantian.
"Habis idenya boleh juga kan Dad, daripada tanah sana kosong dihuni para hantu, harus ada yokai watch nya" sahut Luke cuek.
Hideo tersenyum smirk. "Yokai watch..."
"Apa itu yokai watch? Jam merek Yokai?" tanya Alessandro bingung.
Ketiga orang disana terbahak. "Bukan, Ale. Yokai itu bahasa Jepangnya semua jenis setan yang ada di cerita Jepang. Jadi yokai watch itu seperti pawang setan atau pengawas setan" kekeh Luke.
"Oh Astagaaa..." Alessandro menggaruk kepalanya.
"So, Ale, bagaimana rasanya dihukum oleh Hideo?" tanya Luca. "Tapi kamu masih mending hanya dihukum setahun tidak boleh ketemu langsung, dia sampai harus ditodong pistol" kekeh opa dua cucu itu sambil menunjuk ke arah Hideo.
"Lha kamu apa kabar, bang. Kata Oom Takeshi, kena getok pakai pedang Kendo setiap saat" kekeh Hideo teringat cerita Takeshi Takara saat Luca sedang berusaha mendekati Emi dulu.
"Ish iya tuh Yakuza Kampret satu memang. Tidak ingat kalau pedang Kendo itu bisa bikin benjol!" sungut Luca mengingat almarhum ayah mertuanya.
"Dad, kok selalu benar sih ngatain Ojisan Yakuza kampret?" gelak Luke yang juga sama dengan Luca dulu, tidak selamat dari pedang Kendo kalau salah gerakan.
"Kan opamu itu memang Yakuza Kampret! So Ale, gimana dihukum ayah Sakura?"
"Bagi saya dan Sakura, merupakan ujian kehidupan asmara kami. Saya tidak tersinggung dengan sikap Signor Park karena bagaimanapun beliau masih punya hak dan kewajiban pada Sakura" jawab Alessandro kalem. "Setidaknya komunikasi kami rutin setiap hari sesibuk apapun."
"Hideo, setidaknya si Moretti masih mending daripada si Mancini. Dia tidak bikin Sakura macam Leia sampai harus menendang hidden gem Dante" kekeh Luca.
"Siapa bilang Signor Bianchi. Sakura sama saja dengan Leia" potong Alessandro.
"Memang apa yang dia lakukan padamu?" tanya Hideo.
"Menendang tulang kering kaki saya..."
Hideo tersenyum smirk. "Kenapa tidak sampai patah sekalian?"
Luca dan Luke melongo mendengar ucapan mantan pemimpin Mafia Silver Shinning itu sedangkan Alessandro hanya tersenyum tipis.
"Tulip masih manusiawi dibandingkan appanya" jawab Alessandro santai yang membuat Hideo terbahak.
__ADS_1
"Oh Astagaaa kalian berdua itu" gumam Luca.
***
London Inggris, Kediaman Keluarga McCloud
Sakura menyetir mini Cooper unyu unyu nya menuju area Sutton untuk ke toko pastry milik Elane Moon. Misinya dia hari ini adalah merayu sampai bisa agar Elane mau diajak pergi ke New York besok Juni guna menghadiri double wedding Savrinadeya dan Raveena.
Di dalam mobilnya, Sakura bersenandung dengan santainya apalagi skripsi nya tinggal maju sidang Minggu depan.
If you asked me to
I'd let you in my life forever
If you asked me to
All you gotta do is ask me to
All you gotta do, all you gotta do
All you gotta do is ask me to
Lagu lama milik Patti LaBelle yang dicover oleh Céline Dion dinyanyikan oleh Sakura dengan semangat. Tiba-tiba suara telepon masuk ke dalam ponselnya dan wajah gadis itu tersenyum. Panggilan video dari pria yang sedang melakukan pendekate ke appa dan mommynya.
"Halo, Uno" sapa Sakura sambil menatap Alesandro yang muncul di layar.
"Kamu dimana?" tanya Alessandro. "Mau kemana, Tulip?"
"Luke paling konsisten, aku nomor dua."
"Hebaattt. Appa dan Oom Luca gimana?"
"Ya seperti biasa, appamu sok gengsi gitu dan agak jelek mainnya" cengir Alessandro. "Dapat bogey empat kali."
"Noooo. Kamu bagaimana?"
"Boogey sekali tapi lainnya par dan eagles dua. Lumayan kan? Luke yang konsisten dapat Eagle tiga. Sisanya par."
"Hebat. Memang kamu handicap berapa?" tanya Sakura.
"Aslinya? 12. Tapi aku bilang 17" cengir Alessandro.
"Alessandro Moretti ! Kamu memang minta dijitak!" bentak Sakura gemas.
Alessandro tertawa terbahak-bahak. "Maaf, Tulip, tapi aku kan harus merendahkan diri dulu di depan baru di lapangannya aku membuktikan bahwa aku bisa main. Bagus kan strategi aku?"
"Oh Astagaaa! Kamu bakalan bikin appa manyun kalau tahu!" gelak Sakura.
"Yaaaa setidaknya calon menantunya satu ini tidak malu-maluin soal permainan golf..." senyum Alessandro. "I miss you Tulip."
"I miss you too Ale..."
__ADS_1
Wajah Alessandro yang biasanya dingin di dunia bisnis, menjadi sangat berbeda jika bersama dengan gadis chubby itu. "Aku tidak diundang ke New York ya?"
"Sorry manusia grafitti... hukumanmu masih berlangsung..."
"Dan kembali ke manusia grafitti..." kekeh Alessandro. "Hati-hati menyetirnya."
"Oke Uno. Bye."
"Bye."
***
Kamar Alessandro di Tokyo Jepang
Alessandro masih menatap ponselnya yang bergambar Sakura di wallpaper nya. Belum pernah dirinya merasakan begitu mencintai seorang gadis hingga dia mau melakukan syarat yang dibuat oleh ayah Sakura.
"Apa kalau Shinichi bilang? Kembang kantil?". Alessandro mulai membrowsing apa itu kembang kantil dan melotot tidak percaya saat tahu kegunaan kembang yang dipakai mitos memanggil makhluk halus.
"Astagaaa Shinichi Park! Aku tidak terima Tulipku dibilang kembang kantil!"
***
Toko Pastry Moon Daerah Sutton
Sakura memarkirkan mobilnya yang imut itu dekat dengan toko pastry milik Elane Moon. Gadis itu lalu berjalan dengan percaya diri menuju toko yang sudah beberapa kali dia datangi baik sendirian maupun bersama Garvita dulu.
"Assalamualaikum" sapa Sakura membuat Elane dan neneknya, Hasanah menoleh.
"Wa'alaikum salam. Lho ada nak Sakura. Ayo duduk sini" ajak Hasanah.
Sakura pun langsung salim tangan Hasanah dan mencium pipi wanita paruh baya itu. "Nenek sehat?"
"Alhamdulillah. Sakura sama siapa?"
"Sendiri. Kan Garvita sudah kembali ke Dubai usai wisuda."
"Sakura. Sorry tadi aku melayani pembeli dulu" salam Elane sambil cipika cipiki dengan Sakura. "Ada apa kamu kemari? Apa ada pesanan Eagle yang kurang?"
"Pesanan mas Eagle baik-baik saja. Aku kemari untuk mengajak kamu ke New York besok Juni."
Elane melongo.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1