
Rumah Kediaman Keluarga Moretti di Tokyo Jepang
Benigno dan Marjorie menatap putra sulungnya yang datang tanpa kabar sebelumnya dengan perasaan bingung. Jangan bilang minta dilamarkan ke keluarga Park.
"Ada apa Ale? Tumben datang ke Tokyo" ucap Benigno yang semakin tambah segar setelah tinggal di Tokyo.
"Tidak apa-apa, hanya rindu pada kalian..." jawab Alessandro usai peluk cium kedua orangtuanya.
"Padre ( ayah ) tidak percaya, Ale. Duduk! Ceritakan semua pada kami!" Mata coklat Benigno menatap tajam ke arah putranya yang dia tahu tidak akan jauh-jauh datang ke Tokyo kalau tidak ada maksud.
"Katakan pada Madre ( ibu ), kamu habis ngapain?" sambung Marjorie.
Alessandro duduk di sofa berhadapan dengan kedua orangtuanya. "Membuang keluarga Thomas ke Fureai Sekibutsu no Sato..."
"APPAAAAAA? Kamu buang mereka kesana?" seru Benigno dan Marjorie heboh. "Dapat ide dari mana?"
"Michel de Luca."
Benigno dan Marjorie saling berpandangan. "De Luca itu... cucu menantunya Ashley Sky bukan?"
"Benar."
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Marjorie penasaran kenapa putranya punya ide Membagongkan karena biasanya habisi selesai khas keluarga Moretti. Ini kenapa si Ale main buang uang yang tidak sedikit ke Jepang?
Alessandro pun menceritakan bagaimana awal mulanya mendapatkan ide itu dan membuat kedua orangtuanya melongo tidak percaya mendengarnya.
"Ale, kami tahu kamu memiliki hubungan khusus dengan anak gadis keluarga Park tapi bukan berarti kamu ikutan kacau macam mereka. Iya benar lebih manusiawi, tangan kamu tidak berlumuran darah mereka tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya sendiri main buang orang ke Negara lain juga!" omel Benigno yang gemas dengan putranya.
Meskipun Benigno dan Marjorie sudah tidak berkecimpung di bisnis keluarga Moretti karena lebih memilih membuka usaha sendiri, bukan berarti mereka tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka.
"Ale, memangnya kamu tidak masalah membuang mereka kemari? Apa pemeirntah Jepang tidak ribut?" tanya Marjorie.
"Lho apa gunanya aku berteman baik dan bakal jadi calon ipar dengan Luke Bianchi? Bukankah bagus desa di Jepang yang kosong, ditambah penghuni yang berbentuk manusia dan bernafas, bukan patung atau boneka yang menyeramkan?" jawab Alessandro cuek.
Benigno hanya bisa mengelus dadanya. Salah pacar ini anak!
***
Kamar Alessandro di Kediaman Keluarga Moretti
"Sudah di rumah Oom Benigno dan Tante Marjorie, Uno?" tanya Sakura saat Alesandro menelponnya.
"Sudah." Alessandro membuka bajunya membuat Sakura harus menahan nafas melihat tubuh yang dipahat sempurna meskipun penuh dengan coretan sana sini.
"Manusia grafitti..."
"Apa Tulip?" sahut Alessandro lembut.
"Bisa minta nomor telepon Tante Marjorie dan Oom Benigno?"
Alessandro mendekati layar MacBook nya dan menatap bingung ke arah gadisnya. "Ada apa kamu meminta nomor ponsel kedua orangtuaku?"
__ADS_1
"Aku kan belum sempat meminta maaf membuat kalian berdua berkelahi..." jawab Sakura pelan.
Alessandro tertegun. "Oh Astagaaa Sakura... Tidak perlu ..."
"It's necessary, Uno. Bukan apa-apa, setidaknya aku harus bertanggungjawab membuat kalian harus berpisah ..."
"Tulip, dengar. Kamu tidak perlu meminta maaf pada kedua orangtuaku karena apa, karena kamu disini tidak salah posisinya. Kami berdua saja yang sama - sama jatuh cinta padamu. Dan kamu berhak memilih salah satu diantara kami. Bukan salahmu Sakura..."
"Tapi Ale, aku sungguh tidak mau mendapatkan tanggapan buruk dari kedua orangtuamu... Aku dididik oleh kedua orang tuaku dan keluarga besar ku untuk bersikap tahu adab tapi akunya yang tidak ingat."
"Sayang, kedua orang tua aku bukan tipe yang seperti itu ... Mereka membebaskan pilihan kami karena kami sudah dewasa..." Alessandro menatap Sakura dengan tatapan sayang dan menghargai. "Tapi jika kamu ingin dekat dengan padre dan Madre aku, aku lebih suka lagi. Jadi kita berdua saling berusaha mendekati orang tua masing-masing."
Sakura tersenyum senang mendengar dukungan Alesandro kepada dirinya.
"Kamu tahu kenapa aku mendukungmu?"
"Kenapa Uno?"
"Karena kalau kamu memanggil nama depanku, entah kenapa aku tidak bisa bilang tidak..." senyum Alessandro membuat Sakura melongo.
"Berarti jika aku memanggilmu dengan nama depan, apapun yang aku minta, kamu kabulkan?" seringai licik muncul di wajah Sakura.
"Aku... lemah jika kamu memanggil nama depanku, Tulip..."
"Oke Ale. Aku minta dibelikan Lamborghini keluaran terbaru, tiga tas Hermès Birkin limited edition, dua tas terbitan Morr yang orang lain belum punya, lima sepatu Christian Louboutin dan Manolo Blahnik...."
"Stop Sakura! Bukan berarti kamu merampok aku!" protes Alessandro gemas.
"Jika kamu sudah menjadi istriku, apapun yang kamu inginkan, insyaallah aku kabulkan selama itu masih batas wajar..." senyum Alessandro membuat Sakura terpana. "Kamu ... kenapa?"
"Alhamdulillah sudah bisa bilang 'insyaallah'..." Wajah Sakura tampak terharu.
"Jangan nangis sayang, aku tidak ada disana..."
Sakura mengusap air matanya. "Ini air mata terharu Cumiiii!"
Alessandro terbahak. "Kenapa sih kalian selalu memanggil dengan nama Cumiiii? Shinichi kemarin juga berkata demikian dengan nada marah. Sebenarnya apa artinya cumi?"
"Squid."
"Astagaaa! Apakah Squidward?"
"Alhamdulillah kalau sadar diri" jawab Sakura kalem.
"Ya ampun! Sakuraaaaa!"
***
Pagi ini Alessandro sudah berangkat menuju tempat golf eksklusif karena diajak oleh Hideo dan Luke untuk bermain golf.
Alessandro tiba disana setelah sopir Hideo menjemputnya karena posisi rumah keluarga Moretti dengan rumah Bianchi dan Park berbeda. distrik.
__ADS_1
Alessandro tampak percaya diri menemui Hideo, Luca dan Luke.
"Wah pas nih empat orang" kekeh Luca. "Halo Moretti. Bagaimana kabar Benigno dan Marjorie? Sudah lama aku tidak mampir ke restauran mereka."
Alessandro berjabat tangan dengan tiga anggota keluarga Sakura. "Padre dan Madre sehat-sehat semua. Alhamdulillah."
Luca dan Luke melongo. "Wah, sudah mulai fasih. Semangat Moretti" dukung Luca.
"Terima kasih Signor Bianchi."
"Yuk kita mulai permainan golfnya. Aku sudah siapkan tongkatnya" senyum Luke sambil menunjukkan tas golf yang Alessandro harganya lumayan aduhai.
"Main berapa hole ini? 9 atau 18?" tanya Hideo.
"18 saja sekalian. Kamu handicap berapa Moretti?" tanya Luca.
"Well saya handicap 17" jawab Alessandro.
"Really?" ejek Luke.
"Well perkiraan segitu karena saya sudah lama tidak bermain golf" senyum Alessandro.
"Oke kita anggap saja begitu" kekeh Luca.
Keempat pria yang memiliki bisnis berbeda itu pun berjalan menuju golf car dimana Hideo duduk bersama dengan Alessandro sedangkan Luke bersama sang ayah Luca.
"Bagaimana Sakura?" tanya Hideo.
"Sakura baik-baik saja Signor Park. Kami tiap hari selalu berkomunikasi meskipun hanya say hi dalam waktu kurang dari 30 detik. Setidaknya kami selalu berkabar."
"Kamu mencintai putri saya?" tanya Hideo lagi.
"I love her so much! Saya suka personality nya tapi yang paling saya suka, dia paket lengkap sebagai pasangan saya..."
Hideo hanya mengangguk.
"Apakah saya sudah mendapatkan restu?" Alessandro menoleh ke arah pria Korea Jepang berwajah dingin itu.
"Belum."
Alessandro hanya menepuk jidatnya sedangkan Hideo tersenyum smirk.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1