Between Two Brothers

Between Two Brothers
Bertemu Dengan Keluarga Park


__ADS_3

Toko Emas Kojima di Ginza Tokyo Jepang


Alessandro hanya tersenyum smirk melihat calon kakak iparnya datang dengan wajah penuh permusuhan.


"Appa, i ingan-i wae yeogie ( ngapain manusia satu kesini )?" tanya Shinichi sambil berjalan mendekati Hideo sedangkan Jin menutup pintu ruang kerja yang dibuka sembarangan tadi.


"Geuneun appawa manh-eun iyagileul nanugo sip-eo ( dia ingin berbicara banyak dengan appa )" jawab Hideo tenang.


"Errr, kalian berbicara apa?" tanya Alessandro yang bingung kedua ayah dan anak itu berbicara menggunakan bahasa Korea.


"Makane Sinau ( Makanya belajar )! Njaluk adikku tapi ora gelem Sinau bahasa bapake ( Minta adikku tapi tidak mau belajar bahasa papanya )!" balas Shinichi judes membuat Hideo tersenyum smirk.


"Hah? Excuse me?" Alessandro merasakan kepalanya pening. What kind language is that ( Bahasa apa tho itu )?


"Dengar manusia spidol, apa yang kamu lakukan di Tokyo?" Shinichi menatap tajam ke arah pria yang lebih tua darinya dengan cueknya. Bagi Shin hanya tiga yang dia takuti di dunia, Allah, keluarga dan dompet sekarat.


"Pertama, membuang orang. Kedua, aku berusaha mendekati calon mertua aku. Look, aku tidak bisa bertemu adikmu setahun, jadi aku dekati kedua orangtuamu lah." Alessandro menatap tenang ke Shinichi.


"Appa, apa appa sudah memberi ijin manusia grafitti ini bersama Kembang Kantil?" Shinichi menoleh ke arah Hideo.


"Alessandro memang sudah minta ijin kan dan appa menunggu progressnya dia, sejauh mana serius dengan Sakura." Hideo tersenyum tipis ke Shinichi. "Ngomong - ngomong, siapa yang memberitahu kamu ada Moretti disini?"


"Oom Jin."


"Kamu tidak kembali ke kampus? Biar appa yang urus disini. Oke?" Mata Hideo tampak serius ke arah Shinichi yang tahu artinya 'kembali ke kampus atau semua fasilitas dicabut'.


Shinichi hanya cemberut lalu menoleh ke arah Alessandro dan memberikan tanda dua jarinya eye to eye ke pria Italia itu. "We're not done, Uno."


"Aku menunggu untuk bisa ngopi lagi bersamamu, Park."


Shinichi mengangguk hormat ke Hideo lalu berjalan keluar ruang kerja ayahnya.


Setelah Shinichi pergi, Hideo beralih ke Alessandro dengan wajah dinginnya. "Kamu sudah makan siang?"


"Belum Signor Park."


"Kita makan siang karena akan ada seseorang yang harus tahu kamu disini." Hideo mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Fay, kita makan siang yuk, di Ginza."


***


London Inggris, Malam ( Tokyo 9 jam lebih awal dari London )

__ADS_1


Sakura masih enak-enak ngorok ketika suara getar ponselnya terdengar tanpa henti membuat dirinya merasa terganggu. Sambil meraba-raba dengan mata terpejam, gadis itu mengambil ponsel yang dia letakkan diatas nakas sebelah kiri tempat tidurnya.


Sakura lalu menggeser tombol hijau tanpa membuka matanya. "Kalau ini bukan masalah hidup dan mati isi tabungan aku, sebaiknya matikan saja..."


"Kembang Kamboja..."


Mata Sakura terbuka sedikit. "Apa mas Shin? Appa dan mommy kenapa?"


"Pacar grafitti kamu di Tokyo!" jawab Shinichi dengan nada kesal.


"Iya tahu. Mau buang orang ke perfektur Toyama. Kenapa emang?" gumam Sakura masih dengan nada ngantuk.


"Si Morotin Uno menemui appa di toko Ginza!"


Mata hijau kecoklatan Sakura terbuka lebar. "Haaaaahhh? Si Uno menemui appa?" Gadis itu langsung terduduk.


"Iya! Dia mau menaklukkan appa! Memang dikira semudah itu Férguso?" omel Shinichi.


"Mas Shin ... ini kakak Kungkang dimana?" tanya Sakura yang harus mensetting otaknya supaya tidak ngebug.


"Perjalanan pulang ke kampus. Naik mobil. Kenapa?"


"Oom Jin bilang kalau Morotin datang ke toko Ginza jadi aku kesana lah! Dan ternyata sampai sana, si Uno sedang mengobrol dengan appa. Tunggu, apa tadi kamu bilang? Morotin mau buang orang? Kemana ? Empangnya bang Lukie?" tanya Shinichi bingung.


"Nggak mas. Jadi Uno itu diporotin terus sama orang tuanya si Thomas..."


"Thomas itu yang menjual desain si manusia spidol?"


"Yup. Dan mereka membujuk hakim, kalau Uno harus memberikan kompensasi selama Thomas tidak bisa bekerja. Seriously, sudah dicoret dari keluarga Moretti dan tidak mau cari kerja padahal sudah sembuh total. Uno kan lama-lama kesal mas. Terus mengingat kasusnya Bang Michel, akhirnya tanya area di Jepang yang horor versi Tante Freya."


"Dan dibawa ke Toyama? Sebelah mana... Nooooo! Jangan bilang ke patung 800 itu..." seru Shinichi heboh.


"Bingo kakakku yang imut!"


Shinichi tertawa terbahak-bahak. "Ada untungnya punya Tante hobinya cari hantu dan ke tempat seram. Modyar deh disana !"


"Mas Shin, sini tuh masih malam. Aku ta tidur dulu deh! Beda sembilan jam maaasss!" gerutu Sakura yang mulai terasa pusing kepalanya gegara terbangun dengan mendadak.


"Oh... Masih malam ya? Sini baru jam sebelas siang..."


"Sudah ah! Kalau Uno mau pedekate ke appa dan mommy memang sudah seharusnya! Mau ambil aku, harus bisa dekat dengan appa, mommy dan mas Shin dulu. Baru ke opa dan Oma."

__ADS_1


"Memangnya semudah itu mendekati aku, kembang sepatu?" cebik Shinichi sinis.


"Lihat saja gimana caranya si Uno! Sudah ah! Aku mau minum obat sakit kepala dulu! Mas Shin telepon nggak lihat - lihat jam!" Sakura lalu mematikan panggilan Kakaknya.


Gadis itu pun turun dari tempat tidur menuju meja riasnya dan mengambil kotak obat untuk mencari obat sakit kepalanya. Dasar mas Shinchan! Bikin aku puyeng malam-malam !


***


Restauran Seafood di area Ginza Tokyo Jepang


Fayza menatap judes ke arah pria Italia yang mengklaim sebagai kekasih putri bungsunya. Hideo yang melihat wajah tidak suka istri tercintanya hanya memegang tangan Fayza lembut.


"Duduk dulu, Fay. Jangan pasang wajah judes seperti itu" ucap Hideo lembut membuat Alessandro sedikit terkejut bagaimana bucinnya seorang Hideo Kojima Park mantan ketua mafia Silver Shinning itu ke istrinya yang berambut pirang dan bermata biru.


"Ngapain dia disini Hideo?" tanya Fayza sebal sambil duduk di sebelah suaminya.


"Dia habis buang orang!" jawab Hideo tenang.


Fayza menatap suaminya bingung. "Buang orang?! Dimana? Empangnya Luke?"


"Nggak sayang, di Fureai Sekibutsu no Sato Kawasan Osawano perfektur Toyama..."


Mata biru Fayza terbelalak. "Disana?" Ibu dua anak itu langsung menoleh ke arah Alessandro. "Jangan bilang kamu bertanya dengan mbak Freya!"


"Well, technically saya bertanya dengan Michel de Luca yang menyampaikan ke Signora Lexington dan memberitahukan daerah mana yang asyik untuk buang orang tapi lebih manusiawi" jawab Alessandro tenang.


"Moretti, itu tidak manusiawi. Itu Ter*r mental! Yang benar saja kamu buang kesana!" omel Fayza.


"Signora Park, saya sudah janji dengan Sakura untuk menghukum orang itu hanya dengan pukulan atau hukuman manusiawi. Saya tidak sayang harus keluar uang tapi bisa menghukum mereka yang sangat seru" seringai Alessandro.


Fayza hanya bisa melongo. Astaghfirullah!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2