
Perfektur Toyama, Jepang
Akhirnya rombongan Yakuza Takara tiba di area yang dituju dan berhenti di sebuah rumah kuno khas Jepang yang ternyata barusan direnovasi oleh pemiliknya sebagai tempat menginap para turis jika ingin dekat dengan area patung-patung itu.
Alessandro tampak puas setelah Luke berhasil membelinya dari si pemilik. Tentu saja Alessandro tidak masalah mengeluarkan kocek lumayan untuk membeli rumah yang jaraknya hanya dua kilometer dari lokasi patung pertama.
Suasana mistis semakin terasa apalagi menjelang sore membuat para anak buah Alessandro dan Luke membawa ketiga orang yang masih pingsan itu ke dalam rumah.
"Rumahnya bagus." Alessandro memindai rumah yang berusia 150 tahun itu. "Terasa macam rumah Sadako."
Luke menatap judes. "Sesuai permintaan kamu, bahan makanan cukup untuk dua Minggu dan sudah aku tinggalkan uang ¥1juta ( $8,000 - Rp 135jt ) untuk biaya hidup."
"Biarkan mereka cari tahu cara bertahan hidup di negeri orang agar tidak bisa seenaknya minta kompensasi yang tidak usai. Jika mau hidup kamu enak, jangan macam-macam!" ucap Alessandro dingin.
"Yūri hakase, karera wa itsu mezamemashita ka ( Dokter Yuri, kapan mereka bangun )?" tanya Luke dengan bahasa Jepang.
"Sarani 30-bu ( tiga puluh menit lagi )" jawab Dokter Yuri yang juga istri Hidetoshi Shinoda, tangan kanan Luke.
"Yuk kita segera pulang. Semua aturan tinggal disini sudah aku siapkan dengan bahasa Italia. Jadi tinggal tahu beres lah!" ajak Luke.
Setelahnya rombongan itu pun meninggalkan rumah kuno khas Jepang itu untuk kembali ke Tokyo. Setengah jam kemudian, satu persatu anggota keluarga Moretti itu pun terbangun dari tidurnya dan tampak terkejut melihat mereka berada di tempat asing.
Dan menjelang malam, mereka pun mengalami hal-hal aneh apalagi setelah tahu mereka berada dekat dengan lokasi yang dikenal horor setelah mereka mengetahui dari GPS ponsel mereka.
Malam ini ketiga anggota keluarga Moretti itu tidak dapat tidur karena merasa seperti ada yang mengawasi tapi bukan CCTV. Dalam hatinya mereka semua mengumpati Alessandro tapi mereka tidak bisa apa-apa karena pasport mereka tidak tahu berada dimana.
***
Tokyo Jepang
Alessandro mendatangi toko emas milik Hideo Kojima Park yang berada di daerah Ginza, salah satu area atau distrik yang terkenal di dunia sebagai area elite macam Beverly Hills di Los Angeles atau Manhattan di New York. Pria bertubuh tinggi tegap itu harus menunggu sampai Hideo mau menemuinya. Alesandro melihat bagaimana toko ekslusif untuk kalangan atas itu melayani pembeli dengan sangat profesional.
Setelah harus menunggu hampir setengah jam, ayah Shinichi dan Sakura Park itu mau menemui pria yang sudah diklaim anak gadisnya sebagai kekasihnya. Alessandro pun diajak masuk ke dalam ruang kerja Hideo yang berada di belakang display.
Jin, asisten Hideo membukakan pintu ruang kerja Hideo dan pria Italia itu melihat wajah dingin pria blasteran Korea dan Jepang duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Duh mukanya si mafia kampret
"Signor Park" sapa Alessandro sopan.
"Moretti. Duduk" perintah Hideo dengan nada dingin.
"Anda membutuhkan saya, Mr Park?" tanya Jin, asisten setia Hideo.
"No, Jin.감사합니다 ( Kamsahamnida )."
Jin pun undur diri meninggalkan Hideo bersama pria Italia yang dia tahu adalah kekasih Sakura. Sambil menutup pintu ruang kerja Hideo, Jin tersenyum tipis. Kekasih Sakura memang lebih kacau dari boss.
Pria Jepang itu lalu menelpon seseorang setelah berada di ruang kerjanya. "Halo, Shin. Oom Jin. Kamu tidak akan menyangka siapa yang datang ke kantor appamu di Ginza."
***
Ruang Kerja Hideo Kojima Park, Toko Emas Kojima Ginza , Tokyo Jepang
"Ada apa kamu datang ke Tokyo? Saya yakin kamu datang kemari bukan untuk menemui saya maupun ibunya Sakura." Hideo menatap dingin ke Alessandro yang duduk di hadapannya.
Jangan judes sama calon mertua...
"Kasus mana lagi, Moretti?"
"Kasus yang saya harus mendapatkan tahanan kota hingga dua bulan."
"Penjualan hasil desain kamu?"
"Benar Signor. Mereka memang sudah dicoret dari keluarga Moretti tapi mereka masih meminta uang kompensasi dengan alasan Thomas Moretti tidak bisa bekerja dan kedua orangtuanya juga masih merasa bagian Moretti. Mereka tetap menganggap saya mesin uang seumur hidup karena perlakuan saya ke putra mereka. Padahal Thomas sudah sembuh total, tapi malas saja!"
Hideo menyimak ucapan Alessandro. "Lalu, kamu buang ke perfektur Toyama? Dimana?"
"Fureai Sekibutsu no Sato Kawasan Osawano."
__ADS_1
"Patung 800?" Tidak disangka Hideo tertawa terbahak-bahak. "Astagaaa! Jangan bilang kamu bertanya ke Freya? Apa yang kamu pikirkan Moretti?"
"Hanya teringat kasus Michel de Luca jadi kenapa tidak saya terapkan lagipula saya berjanji pada Sakura untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum." Wajah Alessandro tampak melembut saat mengucap nama Sakura dan hal itu tidak lepas dari pengamatan Hideo.
"Jadi sekarang kamu datang kemari?"
Alessandro tersenyum. "Mencoba mendekati calon ayah mertua."
Hideo tersenyum smirk. "Really?"
"Sì Signor. Saya datang kemari dengan tujuan utama itu karena saya tahu, saya tidak hanya bersama dengan Sakura tapi juga bersama dengan keluarga nya yang cukup rusuh dan durjana. Kata - kata rusuh dan durjana saya peroleh dari Sakura."
Hideo memajukan tubuhnya dengan tetap memasang wajah dingin. "Kenapa kamu yakin sekali jika Sakura akan menjadi milikmu? Bisa saja saya tidak mengijinkan Sakura bersamamu. Dia memang sudah dewasa tapi dia tetap putri saya sampai kapanpun!"
Alessandro melakukan hal yang sama. "Setidaknya, saya cukup gentleman menghadapi anda dan Shinichi, tidak seperti anda yang memanfaatkan kondisi amnesia Signora Fayza Sky untuk membalas dendam keluarga Korea anda ke keluarga Kim Hyun-ji ayah Joshua Akandra."
Hideo terkejut mendengar ucapan Alessandro.
"Sejak awal saya bertemu dengan Sakura, saya mencari tahu tentang siapa gadis berpipi chubby yang pemberani dan galak itu. Dan saya tahu latar belakang anda, Signor. Beruntung Signor Javier Arata tidak menghabisi anda" senyum Alessandro.
"Opa Javier Arata memang tidak menghabisi saya tapi ayah mertuaku yang hampir menghabisiku. Apa yang Raffa Moretti dapatkan, belum seberapa pada saat sebuah Glock sudah ditodongkan di dahimu dan pada saat itu kami sudah berada di titik pasrah nyawamu dicabut saat itu juga! Bayangan aku tidak bisa melihat anakku lahir berkelebat di mataku." Hideo tersenyum miris. "Al Fatihah untuk Opa Javier."
Alessandro hanya terdiam karena dirinya sudah tahu bagaimana kisah Hideo dengan Fayza. ( Baca Love and Revenge of Mr Mafia ).
Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat kedua pria itu menoleh.
"Appa! Ngapain manusia corat-coret ini datang kemari?" hardik Shinichi dengan wajah galak.
Alessandro memegang pelipisnya. Kacau!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️