
“Kamu sedang apa di apartemennya Reagan?”
“Apaan sih kok jadi kepo sama urusan orang. Lo tuh hanya saudaranya Reagan doang, sadar diri dong!”
Bianca kesal bukan main mendengar ucapan wanita di hadapannya. “Lo yang harusnya sadar diri, bukan siapa-siapa juga tapi berlagak kayak pacarnya Reagan,” balas Bianca tidak mau kalah.
Reagan yang mendengar keributan segera menghampiri dan melihat Bianca yang sedang adu mulut dengan Nasya. Ia berjalan menarik tangan Bianca. “Nasya Lo tunggu di dalem aja.”
Saat masuk ke dalam lift Bianca melepaskan tangannya yang di tarik Bianca.
“Kamu kenapa enggak bilang kalau mau mampir?” tanya Reagan dengan nada lembutnya saat melihat Bianca dengan raut wajah kesalnya.
“Kenapa harus bilang, Reagan takut kepergok kayak barusan lagi selingkuh sama dia?”
Bibir Reagan tersenyum. “Kamu cemburu?”
Bianca memalingkan wajahnya menghadap dinding. “Tidak,” ketus Bianca.
Tangan Reagan memegang dagu Bianca dan menuntunnya agar menatapnya. Dengan kecepatan kilat ia mengecup pipi Bianca.
Wajah Bianca yang sedang marah berubah seketika, namun ia berusaha menyembunyikan wajahnya senangnya karena sedang marah pada Reagan. “Jangan cium-cium Bianca!”
“Mau es krim? Reagan belikan yang banyak untuk Bianca.”
Mendengar kata es krim imannya tergoda, namun ia masih marah pada Reagan. Tapi Bianca tidak bisa menolak hal itu. “Tapi Reagan suapi ya,” pinta Bianca.
__ADS_1
“Iya.” Reagan tidak pernah menyangka akan mudah membujuk Bianca yang sedang marah hanya dengan es krim.
Sampai di minimarket Bianca mengambil beberapa kotak es krim yang ia inginkan. Setelah membayarnya Reagan menuntun Bianca untuk di duduk di salah satu meja yang ada di pelataran minimarket.
Bianca mengeluarkan kotak es krim rasa cokelat kesukaannya. “Suapi,” ucap Bianca menyerahkan kotak es tersebut pada Reagan.
Reagan membukanya dan menyuapi Bianca, beruntung siang itu minimarket sedang sepi sehingga Reagan tidak malu menyuapi Bianca.
“Cewek itu siapa Reagan, kenapa ada di apartemennya Reagan?” tanya Bianca. Ia menerima suapan dari Reagan.
“Nasya, anaknya teman Ayah,” jawab Reagan. Ia kembali menyuapi Bianca.
“Reagan enggak sukakan sama dia?” tanya Bianca. Ia sadar akan dirinya, Nasya lebih cantik, belum lagi Bianca kalah jauh tingginya dari Nasya. Jika di perhatikan tubuh Nasya setara dengan Reagan tadi. Sementara Bianca hanya sebatas bahu Reagan saja.
“Apaan Bianca, kenapa kamu berpikir begitu?”
“Kalau sampai Nasya lapor ke Ayah yang ada aku tidak di ijin kan tinggal di apartemen lagi,” jawab Reagan serius.
“Tapi Nasya cantik, nanti Reagan berpaling lagi dari Bianca.”
“Memang Nasya cantik, cantik banget,” puji Reagan dengan sengaja.
“Aaaaa Reagaaan,” rengek Bianca dengan nada anak kecilnya.
Reagen tersenyum senang melihat bibir Bianca mengerucut, terlihat menggemaskan.
__ADS_1
“Jadi ada apa Bianca datang ke apartemen?” Tanya Reagan.
“Bianca tidak mau jawab,” ketus Bianca.
“Ya sudah kalau begitu aku balik ke apartemen saja ya,” ancam Reagan.
“Aaaa Reagan menyebalkan!”
Reagan bangkit dari duduknya untuk memancing Bianca berbicara.
“Kak Luisa tahu kalau Bianca hamil,” ucap Bianca pada akhirnya.
“Kita bicara di mobil saja,” Reagan menggenggam tangan Bianca menuju basemen. Dan masuk ke dalam mobil.
“Kamu memberitahu Luisa?” tanya Reagan.
“Tidak, Kak Luisa masuk ke kamar Bianca dan menemukan buku catatan periksa dari dokter,” jawab Bianca. Ia mengeluarkan buku tersebut dari dalam tasnya. “Kata Ka Luisa Reagan saja yang pegang.”
Reagan menerimanya. Dia menunggu Bianca melanjutkan ucapannya.
“Kak Luisa juga bilang kalau ini masalah besar. Ka Luisa mau mengadu pada Daddy dan Mommy. Tapi Bianca menahannya dan memohon. Kak Luisa tidak jadi mengadu tapi dia bilang untuk membicarakan dengan Reagan tentang ke depannya.”
Reagan sudah menduga hal itu. “Bianca kita hanya punya dua pilihan, menikah dengan resiko Bianca harus berhenti sekolah untuk sementara. Atau-“
“Atau apa Reagan?” tanya Bianca tidak sabar saat Reagan menjeda ucapannya.
__ADS_1
“Atau menggugurkan kandungan Bianca. Namun kita bisa menjalani hidup normal seperti siswa lainnya.”