
Malam harinya Bianca memilih mengobrol dengan Anisa lewat telepon. “Anisa,” panggil Bianca.
[Iya kenapa?]
“Anisa menikah dengan pacarnya Anisa?” tanya Bianca penasaran. Ia menyandarkan punggungnya, tangannya mengambil boneka dan memeluknya dengan erat.
[Menikah, karena orang tuanya pacarku tidak mau menanggung malu.]
“Pacarnya Anisa kan sudah lulus kuliah, dia bekerja?”
[Bekerja, memangnya kenapa?]
“Kalau bekerja kenapa Anisa juga bekerja, memang enggak capek ya bawa-bawa perut besar sambil bekerja?” tanya Bianca yang penasaran dengan kehidupan yang di jalani Anisa.
[Capek, tapi aku merasa bosan kalau seharian berdiam diri di rumah. Dan aku juga lagi menabung untuk tahun depan sekolah lagi, aku mau ambil privat supaya bisa sekolah sambil mengurus anakku nanti.]
“Memangnya suami Anisa tidak sanggup ya membiayai sekolah Anisa?” Bianca membayangkan betapa melelahkannya menjadi Anisa harus bekerja demi mengumpulkan uang.
[Sebelumnya suamiku berbisnis namun kena tipu orang dan rugi cukup banyak, sehingga keuangan kita lagi enggak baik-baik saja. Aku juga baru bekerja satu bulan ini.]
“Anisa, Bianca juga mau membesarkan bayinya Bianca. Apa Bianca juga harus pergi ya dari rumah dan bekerja seperti Anisa?”
[Hahaha]
__ADS_1
Bibir Bianca mengerucut kesal karena Anisa menertawakannya. “Jangan tertawa Anisa, Bianca kan bertanya karena tidak tahu.”
[Kalau Bianca mau mempertahankannya jalannya akan sedikit rumit. Yang pertama Bianca harus menikah, Reagan mau menikahi Bianca tidak?]
“Bianca tidak tahu, karena Reagan tidak bilang apa-apa selain mau mendukung keinginan Bianca,” ucap Bianca menyampaikan percakapan tadi siang.
[Kalau begitu Reagan pasti mau menikahi Bianca. Nah setelah itu yang paling sulit mendapatkan restu dari orang tua Bianca dan orang tua Reagan. Kalian harus bisa mendapatkan restu untuk menikah. Tapi kalau di lihat dari sikap orang tua Bianca kayaknya enggak akan kasih, apalagi Reagan sampai menghamili Bianca. Mereka pasti kecewa berat.]
“Lalu bagaimana?” tanya Bianca dengan nada sedihnya.
[Sebaiknya jangan bilang kalau Bianca hamil deh, siapa tahu orang tua Bianca kasih restu]
Bianca mengangguk mengerti Meskipun Anisa tidak dapat melihatnya. “Tapi Anisa ...”
[Kenapa Bianca?]
[Ya sudah habiskan waktu kalian berdua saja, sambil Reagan menyiapkan mental untuk menghadapi sifat kerasnya orang tua Bianca.]
“Bianca mau minta maaf ya, telah membuat Anisa sakit hati karena ulah orang tua Bianca,” ucap Bianca menyesal.
[Iya tidak apa-apa, lagian itu sudah berlalu. Bianca sudah dulu ya, suamiku sudah pulang. Bye.]
“Bye.” Bianca memutus sambungan teleponnya dengan Anisa. Ia memikirkan kata-kata Anisa. “Rasanya menikah itu seperti apa yah?” tanya Bianca berbicara seorang diri.
__ADS_1
Author : Ada yang mau jawab pertanyaan Bianca, rasanya menikah itu sepeti apa? Siapa tahu jawaban kalian bisa membawa secercah cahaya untuk anak gadisnya author 😂
***
Satu minggu ini Bianca sibuk menghadapi ujian sekolah. Ia tidak di perbolehkan pergi main. Namun hari ini menjadi hari terakhir ujian, dengan semangatnya Bianca mengumpulkan kertas ulangannya dan keluar dari dalam kelas dengan tasnya. Ia sudah tidak sabar untuk bermain bersama Reagan.
Bianca pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Ia sudah siap untuk berangkat namun Reagan tidak kunjung mengangkat telepon Bianca.
Bianca mengirim pesan pada Reagan. [Bianca pergi ke taman sekarang ya.]
Bianca lalu berpamitan dan pergi ke taman tempat mereka biasa bertemu. Bianca duduk menunggu kedatangan Reagan. Ia mengecek pesan yang di kirimnya pada Reagan, namun belum di baca oleh Reagan.
Tidak patah semangat Bianca mencoba menelepon Reagan namun tidak di angkat juga. Bianca berpikir positif bahwa Reagan sedang di jalan, dan kerepotan untuk mengangkat telepon. Akhirnya Bianca menunggu dengan sabar.
Setengah jam berlalu Bianca mulai bosan, dan pesan yang ia kirimkan pun tidak kunjung di angkat oleh Reagan. Ia mencoba berkali-kali menelepon Reagan namun tak ada satu pun panggilannya di angkat.
Bianca yang mulai kesal akhirnya memilih mematikan ponselnya dan diam dengan wajah kesalnya.
Wajah Bianca menengadah ke langit, awan hitam mulai berkumpul di atas kepalanya. Bianca rasanya ingin menangis. Ia dan Reagan sudah berjanji untuk bertemu namun sampai satu jam menunggu Reagan tidak kunjung datang.
Bianca menatap orang-orang yang mulai meninggalkan taman saat air mulai menetes dari langit.
Bianca meremas tangannya yang saling bertautan. Hatinya kesal bukan main, Bianca merasa di kecewakan.
__ADS_1
Intensitas air yang turun dari langit mulai lebat serta angin yang bertiup kencang membuat rambut Bianca beterbangan ke sana kemari. Namun terkena guyuran air hujan sehingga rambutnya mulai basah, bukan hanya rambut saja, baju Bianca pun basah terkena air hujan.
Bianca menangis di bawah derasnya hujan, hatinya sakit dan kecewa. Bianca sudah membayangkan akan menghabiskan waktu dengan Reagan namun nyatanya ia sendirian di bawah derasnya air hujan. “Reagan jahat,” teriak Bianca dengan sangat kencang mengeluarkan rasa sesak di dadanya.