
“Kalau kamu masih bersikukuh untuk menolak untuk menikah dengan Nasya, kamu penyebab utama kematian Ibu.”
Setelah beberapa menit berlalu bahkan sang ayah sudah pergi, namun ucapan Filio terus terngiang-ngiang di kepala Reagan.
Jujur ia takut jika itu memang terjadi, namun Reagan sangat yakin jika Ayahnya mampu menangani hal ini. Setelah meminum obat kini kepalanya terasa tidak begitu sakit. Kepalanya menengok saat melihat Bianca yang masuk ke dalam kamar dengan rambut yang basah serta piama panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Sepertinya Bianca baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan datang kemari.
“Mau makan malam lagi?”
Bianca ikut duduk di samping Reagan, tangannya meraba lengan Reagan yang terbebat infus. “Roti saja sudah cukup membuat Bianca kenyang.”
Reagan terdiam memandangi wajah murung Bianca. “Sebenarnya ada apa?” Reagan cukup penasaran akan hal yang membuat Bianca murung.
“Bianca mau di nikahi secepatnya,” ujarnya. Ia menunjukkan bentuk perutnya yang sedikit menggembung. Tidak begitu terlihat, namun Bianca menjadikan itu sebagai alasan. “Nanti dia semakin besar kalau di biarkan, dan Bianca juga ingin bersama Reagan. Ke mana pun Reagan pergi, Bianca ingin ikut.”
Reagan terdiam beberapa saat memikirkan ucapan Bianca. Kepalanya mengangguk, “Aku akan secepatnya menikahimu,” ujar Reagan dengan nada penuh ke yakinnya, kini ia hanya tinggal menunggu kabar baik ibunya dan akan segera berbicara serius dengan Ignazio dan Fiona.
__ADS_1
Bianca senang bukan main, ia memeluk tubuh Reagan yang berada di posisi terlentang. “Kalau setelah menikah Bianca ingin tinggal berdua bersama Reagan ya,” pinta Bianca dengan nada menjanya.
“Iya,” jawab Reagan singkat. Ia memeluk tubuh Bianca dengan cukup erat.
Bianca menguap, ia sudah mengantuk di tambah hari ini begitu melelahkan baginya. Ie ikut melentangkan tubuhnya, dan miring ke samping tempat di samping tubuh Reagan. Tangan Bianca melingkar di perut Reagan, sementara kepalanya berada di posisi ternyaman, dada bidang milik Reagan.
“Kenapa tidur di sini, kalau mengantuk kan ada kamar tamu. Kamu bisa tidur di sana.”
Bianca memejamkan matanya. “Tidak mau, Bianca mau di sini saja.”
Sementara Fiona dan Ignazio tergesa menuju ke rumah Filio saat mendapat kabar jika Bianca sudah tertidur.
Fiona masuk ke dalam rumah Filio. Ia mendapati Filio tengah duduk serius bersama beberapa anak buahnya. “Kak Fio,” panggil Fiona.
“Bianca ada di kamar Reagan,” jawab Filio. Ia kembali melanjutkan percakapannya dengan anak buahnya.
__ADS_1
Sementara Fiona memilih untuk berjalan menuju kamar Reagan, ia tidak ingin menguping tentang pembicaraan Filio dan anak buahnya. Ignazio mengikuti langkah kaki Fiona. Sampai di kamar Reagan Fiona tampak tergesa masuk ke dalam.
Ignazio dapat bernafas dengan lega saat melihat Bianca baik-baik saja. Ia menghampiri tempat tidur.
“Bawa saja pelan-pelan,” titah Fiona.
Reagan terbangun saat mendengar suara seseorang, saat membuka mata ia dapat melihat dengan jelas wajah Fiona dan Ignazio yang tampak tidak bersahabat.
Rasa rela itu muncul saat Ignazio membawa tubuh Bianca yang tertidur dalam gendongan Ignazio.
“Semoga lekas sembuh,” ucap Fiona. Terlepas dari masalah mereka namun ia juga menyayangi Reagan seperti pada anaknya sendiri. Fiona hanya ingin kebaikan masa depan untuk keduanya.
“Terima kasih Tante.”
Fiona mengangguk lalu ikut menyusul Ignazio yang membawa Bianca.
__ADS_1