Bianca

Bianca
Bianca -> Dua Puluh Satu


__ADS_3

Luisa yang mendengar keributan segera berlari dan melihat Reagan dan Areliano yang malah berkelahi. “Sudah cukup!” teriak Luisa.


Areliano menghentikan pukulannya. Ia menatap tajam ke arah Reagan. “Putuskan hubunganmu dengan tunangan palsumu itu atau aku akan membawa Bianca untuk menjalani a bo r si.”


“Baiklah aku akan memutuskan hubunganku dengan Nasya, tapi berikan aku kesempatan untuk berbicara dengan Bianca sebentar saja,” mohon Reagan.


Luisa membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Bianca masih duduk di posisi saat di tinggalkan. Luisa ikut duduk di samping Bianca. “Reagan ingin berbicara,” ucap Luisa.


Bianca menggelengkan kepalanya, ia tidak mau bertemu dengan Reagan dalam keadaan kacau seperti ini.


Melihat penolakan tersebut Luisa kembali membujuk. “Ada hal penting yang harus Reagan bicarakan padamu, sebentar saja.”


Bianca tetap diam tak menjawab, Luisa keluar dari kamar dan menatap Reagan. “Bianca tidak mau bertemu.”


Dengan samar Reagan mendengar suara isak tangis yang terdengar pelan, ia tidak ingin membiarkan Bianca larut dalam kesedihannya. Reagan memilih menerobos, baru saja tangannya memegang jendela pintu namun baju bagian belakangnya di tarik cukup kencang.

__ADS_1


“Apa kau tuli, Bianca tidak mau bertemu denganmu. Lebih baik kau selesaikan urusanmu dengan wanita itu sekarang juga, aku tunggu keputusannya malam ini juga.”


Reagan sangat ingin bertemu dengan Bianca lebih dulu, namun ia tidak ingin egois. Jika yang terbaik memutuskan hubungan dengan Nasya lebih baik, maka Reagan akan melakukan hal itu lebih dulu. “Baiklah, titip Bianca,” ucap Reagan.


Areliano mengangguk, ia menetap kepergian Reagan.


Reagan membawa mobilnya menuju rumah orang tua Nasya. Tidak ingin membuang waktu Reagan segera menghubungi Nasya. “Aku ada di depan.”


Tanpa menunggu jawaban dari Nasya, Reagan lebih dulu memutus sambungan teleponnya.


“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” jawab Reagan. Ia melajukan mobilnya menuju mal.


Sampai di sana Reagan membawa Nasya berkeliling.


Nasya dengan sikap manjanya berjalan di samping Reagan dengan menggandeng tangan tunangannya. Meskipun ada rasa malu, tapi hubungan ini patut di banggakan.

__ADS_1


Reagan menyiapkan diri untuk mengakhiri hubungannya dengan Nasya.


Dari lantai dua di mal tersebut Nasya melihat ke bawah ada beberapa cafe di sana.


“Luisa aku ingin mengakhiri hubungan ini,” ucap Reagan.


Luisa menghentikan langkahnya, ia memandang Reagan dengan tatapan tidak percaya. “Kamu bilang apa?”


“Aku ingin mengakhiri hubungan ini, aku tidak mencintaimu,” ucap Reagan jujur. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada hal yang dapat membahayakan, supaya Nasya tidak bisa mengancamnya lagi.


Manik Nasya ke sana kemari mencari cara untuk mengancam Reagan. Namun tidak ada yang bisa di lakukan, di area tempat mereka berdiri hanya toko buku serta penjual pakaian.


Nasya melihat ke samping, pinggiran pengaman mal. Ia menempelkan tubuhnya pada besi pembatas. “Kalau kamu mau mengakhiri hubungan ini lebih baik aku melompat saja,” ujar Nasya. Meskipun ia tahu jika ia melompat tidak akan membuatnya mati, hanya akan cedera tulang saja.


Reagan menyesal ia kurang waspada dalam mengamati tempat. Ia mempersiapkan tubuhnya jika Nasya benar-benar melompat.

__ADS_1


“Aku tidak pernah mencintaimu Nasya, aku mencintai wanita lain. Dan wanita itu sedang mengandung anakku,” ucap Reagan.


__ADS_2