Bianca

Bianca
Bianca -> Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Langkah-langkah Reagan bergetar di sepanjang koridor klinik yang terang benderang. Hatinya berdebar keras, mencoba mengejar setiap napas yang tercekat di tengah kecemasan. Setiap detik terasa seperti berabad-abad saat dia melangkah menuju pintu klinik yang ditujunya.


Ketika pintu terbuka, suasana di dalam klinik memancarkan atmosfer yang tegang.


Reagan menatap Anisa dan suaminya dengan mata penuh kekhawatiran. Dalam hatinya, ia berharap mendapatkan kabar yang lebih baik tentang keadaan Bianca.


“Bagaimana keadaan Bianca?” tanya Reagan dengan suara gemetar, tatapannya bergantian antara Anisa dan suami Anisa.


Anisa menggigit kecil bibirnya, mencoba menenangkan diri sebelum memberikan jawabannya. “Bianca mengalami pendarahan yang cukup hebat,” ucapnya dengan suara lembut.


Reagan merasakan dadanya berdebar lebih cepat dan nafasnya tersengal-sengal. Dia mencoba menjaga ketenangannya, meskipun kecemasan yang melanda.


“Pendarahan cukup hebat?” Reagan mengulang, suaranya penuh dengan kegelisahan. “Apakah Bianca dalam bahaya? Apa yang bisa kita lakukan?”


“Kondisi Bianca memang memerlukan perhatian medis segera,” ucap Suami Anisa dengan suara tenang. “Pendarahannya sedang dikendalikan oleh tim medis, dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya.”


Reagan merasa seolah-olah dunianya berputar cepat. Kecemasan dan ketidakpastian mengisi pikirannya, tetapi dia mencoba mencari ketenangan dalam situasi yang sulit ini.


Melihat reaksi Reagan yang cukup kacau Anisa mencoba berbicara. “Reagan keadaan ini cukup gawat, kita harus memberitahu orang tua Bianca,” saran Anisa.

__ADS_1


Reagan menatap Anisa dengan pandangan campuran antara kepanikan dan keberatan. Hatinya penuh dengan kekhawatiran.


“Anisa, aku tahu kita harus memberitahu orang tua Bianca, tapi aku takut akan reaksi mereka,” ucap Reagan dengan suara yang penuh kecemasan. “Aku takut mereka akan merasa sangat terpukul dan kecewa. Bagaimana jika mereka menyalahkan diri sendiri atau mungkin mereka akan menyalakan aku? Kalau itu terjadi aku tidak mungkin bisa bersama Bianca lagi.”


Anisa memahami kekhawatiran Reagan, tetapi dia merasa penting untuk berbicara jujur dengan orang tua Bianca dalam situasi yang serius ini.


“Reagan, mereka adalah orang tua Bianca, dan mereka berhak tahu apa yang sedang terjadi,” ujar Anisa dengan lembut. “Aku tahu ini berat bagi kamu dan Bianca, tapi apa yang bisa kita lakukan. Kita butuh wali untuk Bianca, dan orang tua Bianca berhak tahu. Mau bagaimana pun kita menutupinya jika kondisi Bianca seperti ini, ia tidak mungkin bisa pulang cepat. Kamu mau memberikan alasan apa pada orang tua Bianca?”


Reagan menghela nafas panjang, menyadari kebenaran dalam kata-kata Anisa. Meskipun sulit, ia tahu bahwa melibatkan orang tua Bianca adalah langkah yang tidak dapat dipungkiri.


“Baiklah,” Reagan akhirnya menyetujui dengan hati berat. “Kita harus memberitahu mereka.”


Dengan hati yang berat, mereka mempersiapkan diri untuk memberitahu orang tua Bianca tentang kondisi yang dihadapi Bianca.


Reagan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tua Bianca. Ia mencoba menghubungi nomor milik Fiona. “Halo Tante,” sapa Reagan begitu teleponnya tersambung.


[Ada apa Reagan?]


Mata Reagan menatap pintu UGD yang tertutup rapat. Ia menarik nafasnya terlebih dahulu. “Bianca masuk UGD di klinik x.”

__ADS_1


[Baik, Tante dan om akan segera ke sana.]


Rasa cemas dalam diri Reagan semakin menjadi, ia duduk di kursi tempat menunggu dengan perasaan gelisah.


Setelah lima belas menit yang panjang dan penuh ketidakpastian, pintu klinik belum juga terbuka. Namun, mereka masih belum mendapatkan kabar apa pun tentang kondisi Bianca yang sedang dalam perawatan.


Fiona, beserta suaminya Ignazio baru saja tiba di klinik, mereka mendekati Reagan dan Anisa dengan wajah yang mencerminkan kekhawatiran yang mendalam. Dia segera menghampiri mereka untuk mencari tahu kabar Bianca.


“Apa yang terjadi Reagan?” tanya Fiona dengan suara gemetar. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca?”


Reagan dan Anisa saling bertukar pandangan sejenak, mencari cara untuk memberikan penjelasan kepada Fiona. Sebelum mereka bisa menjawab, seorang dokter datang mendekati mereka dengan seragam putih yang mencolok.


“Dokter, bagaimana keadaan Bianca?” tanya Reagan dengan nada gugup.


Dokter itu mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum memberikan penjelasan. “Kami sudah melakukan pemeriksaan. Kandungan Bianca dalam keadaan lemah, namun sepertinya dia melakukan aktivitas yang terlalu berat. Sayangnya, kondisinya saat ini membutuhkan prosedur kuret untuk menghentikan pendarahan yang terjadi di dalam rahimnya.”


Wajah Fiona terkejut dan kesal sekaligus. Tangannya memegang dadanya dengan erat, seolah-olah mencoba menahan perasaan campuran yang ada dalam hatinya.


“Kuret?” Fiona mengulangi dengan suara penuh kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2