
Tangis Bianca sudah mereda, perasaannya sedikit lebih lega dari sebelumnya.
Bianca mengangkat wajahnya dan menatap Reagan dengan penuh tekad. Walaupun tubuhnya masih lemah setelah melalui masa penyembuhan, namun semangatnya membara dan tekadnya kuat.
Reagan terkejut melihat Bianca melepaskan selang infusnya sendiri.
"Bianca, apa yang kamu lakukan?" ucap Reagan dengan nada khawatir.
Bianca tersenyum lembut sambil menggenggam tangan Reagan. "Reagan ... aku sudah siap untuk hidup bersamamu, berdua saja. Ayo kita pergi."
Reagan melihat ke dalam mata Bianca yang bersinar penuh keberanian. “Tidak Bianca,” tegas Reagan.
Bianca menarik diri dengan perasaan hancur. Tangisannya tidak bisa ia tahan lagi, menggenangi pipinya yang pucat. Tatapannya penuh kekecewaan dan luka.
“Kenapa, Reagan?” Bisiknya dengan suara terputus-putus. “Kenapa kamu tidak pernah mengerti perasaanku? Apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu?” Air matanya terus mengalir, menggambarkan betapa dalamnya kesedihannya.
Reagan melihat kesedihan yang menghancurkan hati Bianca. Rasa bersalah langsung menyelimutinya, dan ia menyadari betapa perbuatannya telah menyakitinya.
“Bianca, maafkan aku,” ucap Reagan dengan suara penuh penyesalan. “Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Tapi hubungan ini tidak akan pernah berhasil sampai kapan pun.”
Bianca menatap Reagan dengan mata yang penuh rasa kecewa. Hatinya sangat terluka.
“Kita tidak di takdirkan untuk bersama, bahkan janin yang ada di rahimmu pergi sebelum aku melakukannya.”
__ADS_1
Bianca merasakan kekecewaan yang mendalam. Setiap harapan dan pengorbanan yang ia berikan untuk hubungan ini terasa seolah sia-sia. Air matanya terus mengalir deras, menggambarkan kehancuran perasaannya.
“Jadi, apa artinya semua ini?” Tanyanya dengan suara yang terdengar rapuh. “Apa pengorbananku tidak pernah berarti sedikit pun? Atau kamu memang tidak benar-benar mencintaiku?”
Bianca sudah berusaha berjuang untuk hubungan ini. Ia menentang orang tuanya hanya demi Reagan, bahkan Bianca merelakan masa depannya demi janin yang di kandungnya. Saat Reagan bertunangan dengan orang lain Bianca masih bisa sabar menerima rasa kecewanya dan sakit hatinya. Tapi ini semua rasanya sangat tidak adil, perjuangannya diabaikan begitu saja oleh Reagan.
“Kita akhiri saja hubungan ini.” Berat rasanya namun, menurut Reagan ini yang terbaik.
Dunia Bianca rasanya hancur tak ada harapan lagi untuknya. Ia berusaha keras untuk menghapus air matanya, tapi rasa sakit yang ia rasakan terus membuat air matanya mengalir begitu deras.
Reagan tahu betul bagaimana perasaan Bianca. Ia mendekati tubuh Bianca, mendekapnya dengan sangat erat.
Isak tangis Bianca kini terdengar begitu menyayat hati Reagan. Ia menangkup kedua sisi pipi Bianca. Memandang mata Bianca yang terus mengeluarkan air mata. Reagan memberikan kecupan singkat sebagai tanda perpisahan mereka.
Dari balik pintu yang baru saja Reagan tutup ia mendengar teriakan Bianca yang cukup kencang.
Sahira memandangi wajah putranya dengan tatapan bingung. “Apa yang kamu lakukan Reagan?”
Reagan memandang wajah ibunya dengan wajah yang menahan air mata. “Bianca sekarang bebas Bu, dia bisa memilih apa pun yang dia mau. Tanpa harus terbebani olehku.”
Sahira memeluk tubuh putranya, dia tahu sebesar apa cinta Reagan pada Bianca.
***
__ADS_1
Fiona dan Ignazio kembali ke ruangan Bianca. Ia terkejut saat melihat selang infus di tangan Bianca terlepas begitu saja.
Kaki Fiona melangkah mendekati Bianca yang terduduk di lantai. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Bianca.
Tangan Fiona terulur menarik dagu Bianca agar menatapnya, Fiona cukup terkejut melihat wajah Bianca yang sembab.
“Bianca mau pergi Mom,” ucap Bianca parau dengan air mata yang kembali mengalir.
Fiona mengangguk, “Iya kita pergi ke rumah Oma ya.”
Bianca hanya menurut saja saat Fiona menuntun tubuhnya berdiri. Luisa yang baru saja datang sangat terkejut dengan wajah Bianca. Sebab dua hari ini ia tidak pernah melihat Bianca menangis sampai sembab seperti ini.
“Reagan ke sini Mom?”
Fiona menatap Bianca lalu bergantian menatap Luisa yang mengajukan pertanyaan.
“Iya.” Semua mata tertuju pada Bianca.
“Reagan mengakhiri hubungan ini," ucap Bianca parau menahan air matanya yang ingin keluar kembali. Hatinya begitu sakit, saat menyadari bahwa tak ada lagi ikatan di antara dirinya dan Reagan.
Luisa segera memeluk tubuh Bianca. “Lo kuat Bianca,” ucap Luisa. Tangannya mengusap pelan punggung Bianca menangkan sang adik.
Melihat hal itu Fiona ikut memeluk kedua putrinya, yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
Ignazio menghela nafasnya pelan, entah ini langkah yang baik atau malah sebaliknya. Namun baginya kini awal baru untuk kehidupan Bianca dan Fiona. Semoga dengan kepergian Reagan semuanya akan baik-baik saja. Ada doa serta harapan besar dalam diri Ignazio saat melihat istri dan kedua putrinya berpelukan