
Terima kasih buat kalian yang selalu kasih dukungan buat aku lewat like, komentar, permintaan update dan dukungan lainnya buat aku.
Rasanya aku lagi pengen nangis, huhuhu. Merasa tertekan, mungkin bukan hanya aku semua penulis lain. Tapi kalian tenang aja, dengan dukungan yang kalian kasih aku bakal tetap semangat dan mencoba produktif kembali. Kenal aku lebih dekat yuk, Bantu Follow akun Instagram ku dong 😭 @riskaalmahyra
Love u all 💕
Selamat membaca 😊
***
“Kuret?”
“Iya Bu Pasien harus segera mendapatkan penanganan jadi dimohon untuk menandatangani persetujuannya.” Suster yang berdiri di samping dokter memberikan surat persetujuan kepada Fiona untuk di tandatangani.
Tangan Fiona bergetar saat memegang bolpoin, keputusan yang sangat sulit tetapi ia menyadari bahwa pilihan ini yang terbaik untuk Bianca. Ia meyakinkan diri dan menandatangani surat persetujuan tersebut.
Wajah Reagan memucat saat ia menyaksikan semua ini. Ia merasa tak berdaya dan dadanya terasa sakit mengetahui kabar tersebut. Meskipun awalnya ia bersikeras untuk menggugurkan kandungan Bianca, namun rasa sakit yang ia rasakan sekarang jauh melebihi bayangannya.
Anisa menghapus air matanya yang turun, ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan semua orang.
Wajah Ignazio memancarkan kemarahan saat dokter masuk kembali ke dalam ruangan. Ia menatap Reagan dengan ekspresi serius dan tegas. Kemudian Ignazio mengucapkan pertanyaan yang tajam, “Kamu yang menghamili Bianca?”
Reagan dengan jujur menjawab, “Iya.”
Tindakan tersebut memicu kemarahan yang mendalam pada Ignazio. Tanpa ragu, ia memberikan satu pukulan yang keras mengenai wajah Reagan, mengekspresikan rasa kesal dan marah yang ada dalam dirinya. Ignazio mengungkapkan kemarahannya karena tidak puas dengan apa yang telah terjadi kepada Bianca dan merasa bahwa Reagan bertanggung jawab atas kehamilan tersebut.
__ADS_1
Reagan hanya terdiam, menerima pukulan itu sebagai bentuk hukuman yang pantas baginya. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan atas apa yang telah terjadi.
Fiona mengusap air matanya dengan lembut, lalu menggenggam tangan Ignazio dengan lembut untuk meminta dia menjauh dari Reagan. Meskipun hatinya sebagai seorang ibu hancur karena kejadian ini, dia menyadari bahwa saat ini dia harus mendoakan yang terbaik bagi Bianca. Fiona memahami bahwa melampiaskan kemarahannya pada Reagan tidak akan mengubah apa pun. Sebagai gantinya, ia memilih untuk diam dan berdoa kepada Sang Pencipta, memohon kebaikan dan kesembuhan bagi Bianca.
Reagan, yang masih merasakan rasa sakit dari pukulan itu, mengangkat kepalanya dan bertemu dengan pandangan mata Fiona. Di matanya, ia melihat campuran rasa sakit, kekecewaan, dan harapan. Dalam hatinya, ia berjanji untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia lakukan dan mengambil tanggung jawab penuh atas konsekuensi perbuatannya.
Dalam keheningan yang tegang, mereka berdiri di ruangan itu menunggu kabar baik dari dokter tentang keadaan Bianca.
Semuanya berjalan begitu cepat, dan sekarang Bianca telah dipindahkan ke ruang perawatan setelah proses kuretasi yang lancar.
Ketika Fiona memasuki ruang rawat Bianca untuk pertama kalinya, pandangannya langsung tertuju pada wajah hancur Bianca yang penuh kesedihan. Terlihat jelas bahwa beban berat dan kepahitan telah menghampiri gadis kecil yang begitu manis itu di usia yang masih sangat muda. Hatinya hancur melihat keadaan putrinya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit.
Dengan suara yang bergetar, Fiona berkata, "Maafkan Mommy, Bianca." Air mata mengalir di pipinya saat dia mencoba menahan perasaan bersalah yang membebani hatinya. Ia berharap Bianca bisa merasakan betapa besar cinta dan penyesalan yang ada dalam hati Fiona.
Fiona duduk di samping tempat tidur Bianca dan memegang tangan putrinya dengan lembut.
Bianca merasa amarah memuncak dalam dirinya. Ia tidak ingin menjalani prosedur kuretasi tersebut, tetapi dokter telah mendapatkan persetujuan dari wali, Fiona, untuk melakukannya. Rasa marahnya meluap begitu kuat, karena ia merasa bahwa harta berharganya, anak yang ia kandung, telah hilang begitu saja.
"Maaf, Bianca, tapi semua ini tidak akan pernah terjadi jika kamu mendengarkan kata-kata mommy untuk menjauhi Reagan," ujar Fiona dengan suara yang terdengar angkuh dan menyebalkan di telinga Bianca.
Ucapan Fiona memicu kemarahan dan kekesalan yang semakin dalam pada diri Bianca. Dalam pikirannya, ia merasa bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk menyalahkan dan menegurnya. Saat ini, Bianca hanya ingin merasakan dukungan dan pengertian dari ibunya.
Namun, di balik kata-kata yang mungkin terdengar tidak pantas, Fiona sebenarnya sedang berjuang dengan perasaan bersalah dan kebingungan yang melanda dirinya sendiri. Dia berusaha menjaga kekuatannya dalam menghadapi situasi ini, tetapi sering kali emosinya tak terkendali.
Setelah beberapa saat, Bianca mencoba menahan emosinya dan berkata dengan suara yang terguncang, "Mommy, Bianca mengerti Mommy mengkhawatirkanku. Tapi mommy tidak pernah mengerti jika Bianca jatuh cinta pada Reagan. Mommy selalu saja memisahkan kami. Bianca tahu kami melakukan kesalahan, tapi aku masih mencintainya. Dan aku tidak bisa memungkiri perasaan itu, sampai kapan pun Bianca hanya mencintai Reagan. Harusnya mommy mengerti akan hal itu."
__ADS_1
Fiona merasa terdorong untuk mendengarkan dan mencoba memahami apa yang sedang dirasakan oleh Bianca. Walaupun hatinya masih penuh dengan kekhawatiran dan ketidaksetujuan, dia menyadari bahwa saat ini Bianca juga membutuhkan dukungan dan kehadiran ibunya.
Dengan suara yang lebih lembut, Fiona berkata, "Bianca ... Maaf, tapi sampai kapan pun Mommy tidak bisa setuju dan membiarkan kamu bersama Reagan. Apalagi setelah ini terjadi, dia tak bisa menjagamu dengan baik. Bagaimana mommy bisa menyerahkan mu begitu saja pada Reagan. Dia tak pantas untukmu Bianca."
Ucapan Fiona terdengar frustrasi dan rasa khawatir yang mendalam. Ia mencoba menyampaikan perasaannya dengan tulus, sekalipun dengan berat hati mengetahui bahwa kata-katanya mungkin akan menyakiti Bianca. Namun, di lubuk hatinya, Fiona merasa bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk Bianca, meskipun Bianca sendiri mungkin tidak bisa memahaminya saat ini.
Bianca menangis, mencoba menahan tangisnya yang memenuhi hatinya. Dalam keheningan yang penuh dengan kesedihan, ia berkata dengan suara gemetar, “Lebih baik Mommy keluar saja. Bianca hanya ingin sendirian. Jangan biarkan siapa pun masuk. Termasuk Reagan.”
Fiona merasakan rasa frustasi yang menghampiri Bianca, tetapi dia juga tahu bahwa keputusan itu harus dihormati. Dengan hati yang berat, dia mengangguk dan mencium kening Bianca dengan lembut sebelum meninggalkan ruangan itu.
Di tengah keheningan, Bianca merasa kesendirian dan kehilangan. Tangisnya pecah, menggema di ruangan yang sepi. Dia merasa terombang-ambing di antara perasaan cintanya pada Reagan dan kenyataan bahwa keputusan yang diambil oleh ibunya mungkin memiliki alasan.
Tangan Bianca mengepal erat, air matanya mengalir begitu deras saat ia teringat kembali sudah kehilangan makhluk yang sangat ia sayangi di dalam perutnya.
Di luar ruangan, Fiona merasa hancur melihat reaksi Bianca. Tangisnya turun begitu deras, dan beban emosional yang dia rasakan menjadi terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Ignazio, suaminya, merasakan kegundahan itu dan memeluk erat tubuh Fiona.
“Ada apa?” tanya Ignazio dengan suara lembut, mencoba mencari tahu apa yang membuat istrinya begitu sedih.
Ignazio memahami bahwa ini adalah momen yang sulit bagi Fiona. Ia menjaga pelukan mereka dengan erat, memberikan dukungan dan ketenangan dalam keheningan. Ia tahu bahwa tidak ada kata-kata yang bisa mengubah situasi ini, tetapi ia akan selalu ada di samping Fiona untuk mendukungnya.
Reagan, yang hadir di sana, juga merasakan kegelisahan yang mendalam. Meskipun ia ingin tahu keadaan Bianca, ia menyadari bahwa saat ini yang terpenting adalah memberikan dukungan pada Fiona. Ia memilih untuk tetap diam, menunggu Fiona merasa lebih tenang sebelum melanjutkan pembicaraan tentang Bianca.
Beberapa saat kemudian, setelah Fiona merasa lebih tenang, ia melepaskan pelukan dan mengusap air mata di wajahnya.
Reagan akhirnya berbicara dengan lembut, “Tante, apakah aku boleh melihat Bianca? Aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.”
__ADS_1
Fiona menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan dalam dirinya. “Tidak sekarang, Reagan. Bianca tidak memperbolehkan siapa pun masuk, termasuk kamu.”