
“Bi-“ ucapan Reagan terhenti saat ia mendengar sebuah suara tembakan.
Bianca yang terkejut berdiri dari tempat duduknya, ia melihat seorang yang kesakitan terduduk di belakang kursinya. Kaki Bianca menjauh saat pria itu melemparkan pisau yang di pegang ya ke arah Bianca.
Dengan secepat kilat Reagan berlari menghampiri Bianca, rasa sakit dan pusing di kepalanya lenyap seketika saat melihat Bianca dalam keadaan bahaya.
Pria yang menembak segera menghampiri pria yang ingin menyakiti Bianca dan meringkusnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Reagan.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tidak sanggup untuk berkata-kata. Ia sangat ketakutan saat pisau hampir mengenai tubuhnya, beruntung ia berhasil menghindar.
Reagan membawa Bianca ke dalam pelukannya. Bianca pasti sangat syok dengan kejadian barusan.
Dari kejauhan Filio menghampiri Reagan dan Bianca. “Kalian baik-baik saja?” tanya Filio.
Reagan mengangguk, sementara Bianca diam membisu menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Reagan.
“Bawa Bianca ke mobil,” ucap Filio.
Reagan segera menuruti perintah ayahnya. Filio menghampiri anak buahnya yang telah meringkus pria yang berani menyakiti Bianca. “Urus dia, dalam waktu lima belas menit aku ingin tahu siapa yang berani menyuruhnya menyakiti keponakanku!”
Suara Filio terdengar tegas dan penuh wibawa. Anak buahnya tersebut mengangguk mengerti dan membawa pria itu ke mobil lain bersama rekannya.
Filio masuk ke dalam mobil miliknya. Bianca masih dalam posisi memeluk Reagan.
Filio tidak banyak bicara dan memilih melajukan mobilnya.
Bianca merasa tenang dan nyaman saat memeluk Reagan. Namun ia kembali teringat ucapan mutlak Fiona.
__ADS_1
Reagan merasakan pelukan Bianca semakin kencang, dadanya merasakan sesuatu basah yang mengalir. “Tenanglah kamu sudah aman,” ucap Reagan.
Rasa takut Bianca sudah menghilang, yang ia takutkan akan hubungan ke depannya dengan Reagan.
Reagan teringat akan makanan yang ia beli. Reagan mendorong tubuh Bianca agar melepaskan pelukannya.
Dari raut wajahnya dapat Reagan pastikan jika Bianca tengah berusaha menahan tangisnya. “Ada apa?”
Air mata Bianca lolos begitu saja, ia merasa semakin rapuh saat Reagan menyadari kesedihan Bianca. “Bianca hanya ingin Reagan,” ujar Bianca dengan suara berbisiknya.
Filio yang duduk di kursi kemudi mendengarnya dengan jelas. Ia merasa sepertinya Bianca mendengar percakapannya dengan Fiona. Sikap Bianca menjadi terlihat lebih rapuh, padahal saat Filio tinggalkan Bianca masih baik-baik saja.
Reagan menampilkan senyuman di bibirnya. “Iya Bianca aku tahu.”
“Jangan menyerah lagi ya, Bianca mau Reagan berjuang.”
Sementara Filio sangat yakin jika Bianca telah menguping.
“Aku akan berusaha semampuku,” jawab Reagan. Reagan mengeluarkan sebuah roti dari kantong kresek yang ia bawa. Ia membuka kemasannya lalu mendorong sebagian isinya hingga menonjol dan mendekatkannya pada mulut Bianca. “Ayo buka mulutmu.”
“Tidak mau, itu rasa stroberi ada rasa asamnya, Bianca mau rasa coklat,” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Kalau mau manis seperti coklat, makannya sambil melihat wajahku saja,” Reagan mengeluarkan humor receh miliknya.
“Bagaimana bisa manis, wajah Reagan saja sudah tidak tampan lagi. Bianca semakin tak berselera makan jika melihat wajah jelek Reagan.”
“Kalau begitu aku bersembunyi saja,” ucap Reagan. Ia menempelkan wajahnya pada bagian perut Bianca sambil menggerakkan hidungnya perlahan.
Bianca tertawa saat merasakan geli di bagian perutnya. “Ja-jangan.”
__ADS_1
Reagan tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan calon bayinya. Rasa bahagia itu tergambar jelas di wajah Reagan, di tambah suara tawa Bianca membuat Reagan senang. Setidaknya jika ia selalu menjadi alasan Bianca bersedih, maka ia juga akan menjadi alasan untuk Bianca tertawa.
Reagan tidak menghentikan gerakannya hingga Bianca terus menerus tertawa geli. Pada akhirnya Reagan tidak tega jika Bianca kelelahan dan memilih mengakhiri kejahilannya.
Bianca melipat kedua tangannya di dada. Nafasnya memburu karena kelelahan terlalu lama tertawa.
Reagan mengambil minum dan membukakannya untuk Bianca.
Bianca menerima botol minum dari Reagan, dan segera menenggaknya.
“Ayo cepat makan, kasihan dia juga pasti kelaparan,” ucap Reagan kembali menyuapi Bianca dengan roti stroberi tadi.
Bianca akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari Reagan.
Filio melihat ponselnya yang mendapat panggilan dari Fiona. Tangan Filio menekan tombol hijau dan menekan tombol pengeras suara.
[Bagaimana kak, Bianca sudah ketemu?]
Filio melirik ke spion tengah, ia melihat wajah terkejut Bianca. “Sudah,” jawab Filio.
[Cepat antarkan Bianca pulang Kak.]
“Oke.”
Setelah Filio memutuskan sambungan teleponnya Bianca segera menelan roti yang ada di dalam rongga mulutnya. “Bianca tidak mau pulang om.”
Filio menghentikan laju mobilnya dan memarkirnya di pinggiran jalan. Tubuhnya menengok ke arah belakang agar langsung bertatap dengan Bianca. “Kenapa Bianca? Ini sudah malam. Waktunya kamu istirahat.”
“Kalau Om mau membawa Bianca pulang ke rumah lebih baik Bianca turun saja,” ujar Bianca tangannya meraih hendel mobil.
__ADS_1