Bianca

Bianca
Bianca -> Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

“Kalau Om mau membawa Bianca pulang ke rumah lebih baik Bianca turun saja.”


Ucapan Bianca membuat Filio berpikir, sifat Bianca sama seperti Fiona. Tidak suka di bantah, apa yang menurut dirinya sendiri baik itu yang di pilih. “Baiklah kalau begitu kita ke rumah om saja ya,” ucap Filio.


“Iya Om, Bianca hanya tidak ingin bertemu dengan Mommy.”


Setelah mendapat persetujuan dari Bianca. Filio menghubungi dokter pribadinya agar datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Reagan.


Ada tanda tanya besar di kepala Reagan, ucapan Bianca dan penolakan Bianca untuk pulang ke rumah semakin tidak masuk di akal. Namun keberadaan sang Ayah membuat Reagan merasa tidak nyaman berbicara serius dengan Bianca. Dan akhirnya Reagan memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Filio membawa mobilnya sampai ke rumah, ia membuka ponselnya dan melihat hasil kerja anak buahnya. Tangan Filio mengepal erat saat mengetahui orang yang menyuruh melukai Bianca ialah orang tuanya Nasya.


Filio segera menghubungi Sahira yang masih di rumah sakit menjaga Nasya, untuk segera pulang sebelum keadaannya tidak aman.


[Halo Om, ada apa?]


Suara Nasya yang menerima teleponnya membuat Filio kalang kabut, namun ia berusaha untuk tetap tenang. “Om perlu bicara dengan istri Om,” jawab Filio dengan nada seperti biasanya.


[Oh Tante Sahira ya, tadi tuh Tante Sahira di seret sama anak buahnya Papa. Tapi tidak kembali lagi om]


Jawaban polos Nasya membuat Filio muak. Suara yang berpura-pura tidak tahu, namun arti kalimatnya sangat menjelaskan bahwa Sahira dalam masalah besar.


Reagan yang melihat perubahan raut wajah Ayahnya merasa heran. “Ada apa Ayah?”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kalian masuk duluan saja,” jawab Filio.


Dua orang asisten rumah tangga menyambut kedatangan Bianca dan Reagan. Mereka masuk meninggalkan Filio di luar.


[Ada Reagan ya om. Nasya sangat merindukan Reagan. Bawa Reagan kemari ya Om, Nasya takut sendirian.]


Filio memilih mengakhiri omong kosong tersebut dan menghubungi Frans, Ayahnya Nasya.


“Kamu bawa ke mana istriku?” ucap Filio tidak sabar saat teleponnya tersambung.


[Santai dulu dong Fio, kita kan bisa membicarakan ini baik-baik.]


“Bagaimana bisa berbicara baik-baik, kamu membawa istriku!” bentak Filio.


“Apalagi yang kamu inginkan, aku sudah mengabulkan seluruh permintaanmu,” ujar Filio kesal. Ia sudah tak dapat menahan amarahnya.


[Nasya tidak suka mendengar Reagan mencintai wanita lain. Sepertinya aku ingin menggelar pesta mewah untuk pernikahan anak kita dalam waktu dekat.]


“Kamu gila. Reagan masih sekolah,” bentak Filio.


[Kalau begitu aku tidak bisa menjamin keselamatan istrimu.]


Jawaban Frans terdengar sengaja menyudutkan. Genggaman tangan Filio pada ponselnya semakin erat. “Aku akan berbicara dengan Reagan terlebih dahulu soal ini.”

__ADS_1


[Baik, aku tunggu kabar baiknya besok pagi. Jika tidak jangan salahkan aku Kalau istrimu tak dapat menghirup udara segar lagi.]


Filio mengakhiri panggilan tersebut dengan rasa cemas, untuk kedua kalinya ia harus berurusan dengan orang gila yang menggunakan kekuasaan dan uang demi mendapatkan apa yang di inginkannya. “Sial,” umpat Filio.


Filio memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu. Setelah selesai ia menghampiri kamar Reagan. Beruntung Bianca tidak ada di sana.


“Ada apa Ayah?” Tanya Reagan saat melihat wajah cemas Filio.


Filio berdiri tepat di hadapan Reagan. “Kita harus menyelamatkan Ibu.”


“Memangnya ibu dalam bahaya?” Tanya Reagan.


“Frans membawa ibu untuk mengancam Ayah.”


Reagan berdecap kesal mendengar ucapan Filio tentang Frans. “Apa lagi yang dia inginkan?” Tanya Reagan dengan nada marahnya.


“Frans ingin kamu menikah dengan Nasya.”


Wajah Reagan semakin kesal mendengar keinginan Nasya. “Sudah tahu mereka licik, ayah masih saja tertipu oleh mereka. Aku tidak ingin menikah dengan Nasya.”


Filio terdiam. Ia sudah tahu jika Reagan akan menolak. “Apa kamu tidak mengkhawatirkan ibu, nyawanya sedang dalam bahaya. Batas waktunya sampai besok pagi, jika tidak nyawa ibu akan di habisi.”


“Kenapa mendesakku terus menerus, harusnya ayah yang mengurus semuanya. Bukan melimpahkannya padaku seperti ini,” tolak Reagan dengan tegas. Ia bukan tak mengkhawatirkan keadaan ibunya. Namun ia merasa seperti Filio tak punya nyali dan memilih berlindung. Jika untuk bertunangan tidak masalah. Tapi ini pernikahan, Reagan tidak Sudi menikah dengan orang gila. Nasya bukan lagi sakit, tapi benar-benar sakit jiwa.

__ADS_1


“Kalau kamu masih bersikukuh menolak untuk menikah dengan Nasya, kamu penyebab utama kematian Ibu!”


__ADS_2