Bianca

Bianca
Bianca -> Sebelas


__ADS_3

“Bianca kita hanya punya dua pilihan, menikah dengan resiko Bianca harus berhenti sekolah untuk sementara. Atau-“


“Atau menggugurkan kandungan Bianca. Namun kita bisa menjalani hidup normal seperti siswa lainnya.”


Mendengar pilihan yang di berikan Reagan membuat Bianca sangat terkejut. Ia mengingat bagaimana Anisa yang di usir dari rumah dan bekerja, terdengar sangat berat bagi Bianca. Tapi ia juga tidak mau kehilangan bayinya. “Reagan,” panggil Bianca.


Reagan menggenggam erat tangan Bianca. “Apa pun yang kamu pilih aku siap menerimanya,” ucap Reagan memberikan kebebasan untuk Bianca.


“Bianca tidak mau kehilangan janin kita,” ucap Bianca mengutarakan perasaannya. “Tapi Bianca takut.”


Melihat beban berat yang di rasakan Bianca membuat Reagan sangat menyesal, ia memeluk Bianca menangkan kekasihnya. “Aku akan mencari jalan terbaik untuk kita tanpa kehilangannya.”


Dalam dekapan Reagan kepala Bianca mengangguk pelan. Ia merasa tenang mendengar ucapan Reagan yang terdengar sangat menenangkan.


“Mau aku antar pulang?” tanya Reagan. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Bianca.


“Bianca naik taksi saja.”


Reagan keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Bianca. Mereka berjalan beriringan menuju pinggir jalan. Kebetulan sebuah taksi melewat dan Reagan memberhentikannya.


Sebelum masuk Bianca menatap Reagan dengan pandangan mengancamnya. “Reagan jangan macam-macam sama Nasya!”


Reagan mengangguk dan memosisikan Bianca duduk di kursi penumpang tidak lupa Reagan menyerahkan tas belanja dari minimarket yang berisi es krim. “Hati-hati ya,” ucap Reagan sebelum menutup pintu mobil.

__ADS_1


Bianca melambaikan tangannya saat mobil mulai berjalan.


Setelah kepergian Bianca Reagan kembali naik ke apartemennya. Ia masuk dan ikut duduk di samping Nasya.


“Tadi itu saudara kamu kan, anaknya Om Ignazio?” tanya Nasya.


“Iya,” jawab Reagan singkat.


“Dia dekat banget ya sama kamu?” tanya Nasya penasaran.


“Tidak terlalu, dia lagi butuh teman untuk curhat tentang kekasihnya,” jawab Reagan berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Bianca.


Nasya menunjukkan layar ponselnya pada Reagan. “Yang ini bagus kayaknya untuk cincin pertunangan kita, kamu suka enggak?”


“Jangan yang terlalu mencolok, aku malu memakainya,” jawab Reagan. Ia mengambil alih ponsel Nasya, tangannya menggulir layar melihat berbagai model yang tersedia.


Dengan berani Nasya mengalungkan tangannya ke belakang leher Reagan.


“Lepaskan Nasya.”


“Tidak mau,” tolak Nasya ia mendekatkan wajahnya pada Reagan, mengikis jarak di antara mereka.


“Nasya!” bentak Reagan.

__ADS_1


Nasya melepaskan tangannya, ia menggeser duduknya menjauh dari Reagan. “Kenapa kamu tidak pernah mau berciuman denganku?” tanya Nasya tanpa berani menatap Reagan.


Reagan diam tidak menjawab, yang pasti ia hanya ingin menepati janjinya. Lagi pula ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Nasya.


“Kalau kamu keberatan dengan hubungan kita yang sebentar lagi akan bertunangan bilang pada Om Filio. Jangan membuatku merasa tidak di hargai seperti ini.”


Reagan mendengar nada kecewa di kalimat Nesya. “Aku sudah menuruti semua kemauanmu, tapi aku tidak bisa bersentuhan fisik. Aku ini lelaki, apa kamu tidak takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan?”


“Memangnya kenapa? Toh pada akhirnya kita akan menikah juga setelah lulus sekolah,” jawab Nasya dengan nada berapi-api.


Reagan benci dengan pembicaraan omong kosong ini. Dirinya berhak memilih masa depan, tetapi Nasya seolah tuhan yang sudah mengatur jalan hidupnya.


“Jangan bilang kamu tidak bersedia menikah denganku?” tanya Nasya, air matanya mulai berlinang. Rasa takut akan di kecewakan dan sendirian membuatnya frustrasi.


Reagan masih diam tidak menjawab ucapan Nasya.


Nasya mengambil vas bunga dan melemparkannya ke lantai sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Ia mengambil serpihannya dan mengarahkannya pada lehernya sendiri. Air mata Nasya keluar dari kelopaknya. “Kalau kamu tidak mau menikah denganku, lebih baik aku mati.”


Reagan menutup matanya, ia membuka perlahan matanya dan menatap wajah kacau Nasya. Ia menampilkan senyuman di bibirnya. “Aku mau menikah denganmu, berikan serpihan vas bunganya padaku,” pinta Reagan dengan nada lembutnya.


Mendengar ucapan Reagan membuat Nasya merasa tenang, dengan perlahan ia memberikan serpihannya pada Reagan.


Reagan menyimpan serpihan tersebut ke atas meja.

__ADS_1


Nasya menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Reagan. “Jangan tinggalkan aku Reagan, aku takut.”


Reagan membalas pelukan Nasya, tangannya membelai rambut Nesya dengan perlahan.


__ADS_2