Bianca

Bianca
Bianca -> Dua Puluh Enam


__ADS_3

“Reagan kan harus bertanggung jawab karena membuat Bianca hamil, jadi harus menikahi Bianca.”


“Tidak mau,” ucap Reagan mengikuti ciri khas penolakan Bianca dengan suara manja yang di buat-buat.


Tangan Bianca melayang memukul dada bidang Reagan dengan kedua tangannya yang terkepal sempurna. “Reagan jahaaaat!”


Reagan menahan tangan Bianca yang memukul dadanya. Tubuh Bianca yang terkunci, dengan mata saling memandang. Raut wajah serius membuat mata Bianca hanya mampu berkedip, mulutnya seolah terkunci tak dapat mengeluarkan suara.


Detik berlalu begitu saja, Bianca yang tidak tahan di tatap dengan wajah seriusnya Reagan memilih menarik diri. “Lepaskan, Bianca masih marah,” ujar Bianca ketus.


Reagan melepaskan tangan Bianca. Matanya menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Kamu tidak pulang, nanti Tante Fiona mencarimu,” ujar Reagan saat teringat akan peraturan Fiona.


Bianca menundukkan kepalanya, ia memperhatikan sepatunya yang di pakai.


“Kamu belum pulang ke rumah, sama sekali?” tanya Reagan sedikit terkejut saat menyadari baju yang di kenakan Bianca masih memakai seragam sekolah.


Bianca menggelengkan kepalanya. “Reagan bisa tidak jangan memikirkan Daddy dan Mommy, Bianca hanya mau menemani Reagan saja.”


“Tapi Bianca nanti Mommy khawatir dan mencarimu,” ucap Reagan.


Bianca mendekatkan tubuhnya pada tempat tidur Reagan. Mata Bianca menatap Reagan sejenak lalu memilih memeluk tubuh Reagan. “Bianca mau bersama Reagan saja,” ujar Bianca.


Reagan juga menginginkan hal itu, namun ia sadar itu bukan sesuatu yang baik. Dan Reagan tidak mau hubungan Bianca dan orang tuanya retak karena dirinya. “Bianca pulang ya, Reagan janji jika sudah sembuh kita pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu bersama.”


“Bianca mau, tapi-“

__ADS_1


“Ada apa?”


Bianca melepaskan pelukannya dan menatap Reagan serius. “Reagan harus memutuskan hubungan dengan Nasya, Bianca tidak mau Reagan bertunangan dengan Nasya terlalu lama. Nanti Reagan malah memilih Nasya dan membuang Bianca, Bianca tidak mau itu terjadi,” ucap Bianca mengungkapkan rasa khawatirnya.


“Iya.”


Bianca duduk di pinggiran tempat tidur Reagan. Tangan Bianca meraba wajah Reagan yang lebam. “Reagan berantem sama siapa?”


“Areliano.”


“Loh kenapa paman Areliano berkelahi dengan Reagan?” tanya Bianca penasaran. Setahunya Areliano jarang memukul orang.


“Dia marah karena aku telah menyakitimu dan membuatmu menangis.” Reagan mengambil tangan Bianca yang berada di pipi, lalu menggenggam erat tangan Bianca.


Bianca mengerucutkan bibirnya. “Reagan mengusir Bianca terus, tidak suka ya jika Bianca temani?”


Reagan mencubit gemas pipi Bianca. “Bukan tidak suka tapi-“ ucapan Reagan terhenti.


“Kamu bau,” lanjut Reagan.


“Reagan minta di cabik-cabik ya?” mata Bianca memerah dengan wajah kesalnya.


“Sudah sana pulang,” titah Reagan. Menunjukkan rasa tidak takutnya pada ancaman Bianca.


Kesal dengan usiran Reagan, Bianca mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Reagan yang lebam. Lalu menunjukkannya hasil fotonya pada Reagan. “Lihat jelek sekali, Kalau Reagan bisa sembuh dalam satu menit dan kembali tampan. Maka Bianca akan pulang sekarang juga.”

__ADS_1


Reagan memperhatikan layar ponselnya Bianca yang menunjukkan yang lebam di beberapa bagian. “Aku bukan pesulap Bianca.”


“Ya sudah kalau tidak bisa jangan menyuruh Bianca pulang,” tandas Bianca.


Reagan memilih mengalah sejenak dan membiarkan Bianca menemaninya untuk satu jam saja lagi.


Suara perut Bianca berbunyi. Ia menampilkan senyuman malu-malunya pada Reagan. “Bianca lapar seharian belum makan,” ujar Bianca.


“Kenapa tidak makan, kasihan anak kita juga pasti kelaparan. Makan sana,” ujar Reagan.


Bianca merasa sedikit bersalah, karena kesedihannya ia sampai melupakan janin yang menghuni rahimnya. “Ya sudah kalau begitu Bianca cari makanan dulu ya,” pamit Bianca.


Bianca menuju kantin rumah sakit, ia melihat menu namun tidak tertarik dengan makanan yang ada di sana. Akhirnya Bianca menyeberang jalan dan memasuki sebuah resto. Bianca hendak masuk ke dalam namun ia melihat Fiona, Ignazio dan Filio tengah berbicara serius. Bianca terdiam mendengar ucapan Fiona.


“Mencari jati diri apa? Aku hanya ingin Bianca memiliki masa depan yang baik. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Bianca menikah dengan Reagan,”


Bianca merasa kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut Fiona.


“Apa yang salah dari Reagan? Ia sudah menjadi dewasa di usianya. Meskipun ia sering mencari masalah, tapi ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri.”


Bianca merasa beruntung karena Filio akhirnya berpihak padanya. Ada rasa sedikit lega dalam hati Bianca, ia seperti mendapat dukungan yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan.


“Aku orang tua Bianca, aku berhak atas anakku sendiri. Dan keputusanku mutlak. Aku tidak akan pernah membiarkan Bianca menjalin hubungan dengan Reagan, apalagi sampai menikah!”


Tangan Bianca mengepal erat. Ia memilih pergi dari sana, ucapan Fiona sungguh menyebalkan. Dan Bianca tidak suka akan hal itu, Bianca merasa Fiona sangat egois. Bianca hanya mengikuti kata hatinya, ia mencintai Reagan. Dan ia bahagia bersama Reagan, namun Fiona bersikap berlebihan. Belum lagi Fiona mengatakan tidak akan pernah membiarkan Bianca menikah dengan Reagan membuat Bianca sakit bukan main. Bianca meraba perutnya yang masih datar. “Oma jahat ya,” ucap Bianca parau menahan tangisnya. Bianca memilih tidak kembali ke ruangan Reagan. Ia merasa butuh waktu untuk sendirian.

__ADS_1


__ADS_2