
Teman-teman aku butuh pelukan huhuhu 😭 terima kasih untuk kalian yang sudah setia menunggu kelanjutan Bianca 💕
***
“Saya kemari mau melamar Bianca Om, Tante.”
Fiona sangat terkejut dengan ucapan Reagan. “Kamu ini jangan bercanda Reagan,” ujar Fiona dengan nada tak suka.
“Saya tidak bercanda om, Tante. Saya serius ingin melamar Bianca. Dan menjadikannya istri saya.”
Fiona tertawa mengejek. “Kamu ini masih anak-anak. Sekolah yang betul, gapai cita-citamu.”
Reagan mengeluarkan buku tabungan miliknya serta beberapa kartu ATM dan meletakkannya di atas meja. “Saya rasa ini cukup untuk menggelar pesta pernikahan dan menghidupi Bianca untuk lima tahun ke depan.”
Ingnazio yang dari tadi diam saja cukup terkejut dengan ucapan Reagan. Ia menggenggam tangan Fiona agar istrinya tidak menimbulkan perdebatan. “Om tahu secara finansial kamu memang dapat memenuhi kebutuhan Bianca. Namun om belum bisa melepas Bianca untuk menjadi istri kamu. Om masih ingin menyekolahkan Bianca dan membiarkan memilih pasangan hidup setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjananya.”
“Reagan janji akan menanggung biaya kuliah Bianca, dan memastikan Bianca lulus sarjana seperti yang om inginkan.”
__ADS_1
Ignazio mendorong kartu ATM dan buku tabungan milik Reagan. “Meskipun kamu berbicara seperti itu, tapi om tidak bisa melepaskan Bianca. Jadi om mohon kamu mengerti dan jauhi Bianca.”
“Ta-“
Fiona angkat bicara memotong ucapan Reagan. “Sudah cukup Reagan! apa kamu tidak mengerti apa yang di kata suami Tante.”
“Kamu itu masih kecil dan tidak pantas bersanding dengan Bianca. Jika memang kamu mau menikah dalam waktu dekat cari wanita lain saja. Jangan mengejar-ngejar Bianca lagi!”
Bianca yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka akhirnya memilih masuk ke dalam kamar, ia menguncinya dan menangis tanpa suara.
“Lebih baik kamu pulang sekarang Reagan,” usir Fiona.
“Baik om, Tante. Reagan pamit.” Reagan keluar dari rumah Bianca dengan perasaan hampa. Tak tahu harus berbuat apa lagi, jika niat baiknya saja di tolak. Apalagi ia jujur jika Bianca tengah mengandung, Semarang apa Fiona jika mengetahui hal itu. Terlebih lagi ucapan Fiona dan Ignazio seperti tak menginginkan dirinya bersama Bianca membuat Reagan kehilangan sedikit semangatnya.
Reagan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan halaman rumah Bianca. Ia menghubungi Areliano dan berjanji di apartemennya.
Sampai di apartemen Reagan melihat Areliano yang sudah berdiri di depan pintu. Ia membuka pintu dan masuk bersamaan ke dalam. “Semuanya gagal,” ucap Reagan. Ia membuka lemari pendingin mengambil dua minuman kaleng dan menyerahkan pada Areliano lalu duduk di pantry.
__ADS_1
“Terus mau menyerah?” tanya Areliano. Ia membuka minuman pemberian Reagan dan meminumnya.
“Apa lagi yang mau di perjuangkan, jelas-jelas orang tua Bianca tidak setuju. Bahkan dari ucapannya mereka memintaku menjauhi Bianca.”
Areliano melihat wajah tanpa bersemangat dari Reagan. “Lalu langkah apa yang akan di ambil, Bianca kan tengah mengandung.”
“Di gugurkan saja,” jawab Reagan dengan berat hati.
“Lo gila!” bentak Areliano.
“Apa ya Lo pikir, kehamilan Bianca akan semakin besar. Dan itu akan jadi masalah, belum lagi orang tua Bianca ingin anaknya melanjutkan pendidikan. Tidak mungkin membiarkan Bianca hamil tanpa suami. Pilihannya hanya dua di gugurkan atau kehilangan masa depan.”
Reagan mengetuk-ngetuk botol minumannya ke meja hingga menimbulkan irama yang terdengar konsisten di tengah keheningan.
Apa yang di katakan Reagan benar. “Mungkin menggugurkan kandungan Bianca bukan solusi yang tepat, namun setidaknya masa depan Bianca terselamatkan," ucap Areliano.
Reagan mengangguk setuju. Ia menghabiskan minumannya dalam sekali tenggak hingga tandas.
__ADS_1