
Wajah Bianca begitu takjub melihat pemandangan indah di depannya. Langit senja yang berwarna emas, matahari hampir tenggelam di lautan membuat mata Bianca terasa di manjakan. Meskipun untuk sampai di tempat ini butuh usaha yang cukup membuat badannya terasa pegal karena duduk di mobil. Namun dengan pemandangan indah ini rasanya terbayar sudah.
Reagan memeluk Bianca dari belakang, ia menikmati pemandangan indah yang sengaja ia pilih untuk menepati janjinya membawa Bianca bersenang-senang setelah ia sembuh namun sebenarnya bukan itu tujuan utamanya membawa Bianca ke sini.
“Reagan. Bianca suka, terima kasih,” ucap Bianca dengan perasaan haru. Wajahnya begitu bahagia, ia tidak pernah menyangka akan berada di tempat yang indah seperti ini. Belum lagi bersama Reagan membuat hatinya berbunga-bunga.
Bianca menaruh tangannya di atas tangan Reagan yang melingkar di perut.
Alih-alih menjawab ucapan Bianca, Reagan melepaskan pelukannya. Ia berdiri tepat di samping Bianca melihat ke arah lautan. “Bianca.”
Kepala Bianca menoleh saat di panggil. “Ada apa Reagan?”
“Kita gugurkan saja kandunganmu,” ujar Reagan tanpa berani menatap wajah Bianca.
__ADS_1
Ucapan Reagan seolah hantaman keras yang membuat dada Bianca sesak seketika, rasa bahagia yang ia rasakan lenyap seketika karena rentetan kalimat yang keluar dari mulut Reagan. “Reagan jangan bercanda, Bianca enggak suka,” ujar Bianca seraya menahan air matanya.
Kepala Reagan menengok ke arah Bianca dan menatap kekasihnya. “Tak ada sedikit pun harapan untuk kita bersama Bianca. Aku sudah berusaha, namun orang tuamu tetap menolak.”
Air mata Bianca meluncur tanpa bisa ia tahan. Ia tahu Reagan sudah berusaha berbicara dengan Fiona dan Ignazio Minggu lalu, tapi hasilnya tetap sama. “Kita bisa melarikan diri, dan hidup seperti Anisa dan suaminya. Reagan juga punya uang bisa membiayai hidup Bianca, jadi kita bisa pergi tanpa harus menggugurkan kandungan,” usul Bianca. Ia menghapus air matanya yang meluncur untuk tetap terlihat tegar meskipun rasanya sakit.
Kepala Regan menggeleng, ia tidak setuju. “Itu bukan pilihan yang terbaik, bukan hanya orang tuamu yang akan merasa kecewa. Tapi seluruh keluarga besar Havelaar, Oma dan opa akan ikut kecewa dan bersedih jika kita melarikan diri.”
Air mata Bianca turun semakin deras, kali ini ia tak menghapusnya. Membiarkan pipinya basah karena air matanya yang terus keluar. “Kenapa Reagan sangat egois, bayi yang di kandung Bianca berhak bahagia dan lahir ke dunia,” protes Bianca dengan air mata yang mengalir deras.
“Tidak mau!” kali ini suara Bianca lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tak peduli akan masa depannya, ia hanya ingin melihat bayinya tumbuh dan lahir ke dunia.
Sorot mata Reagan menajam, ia tidak suka dengan pilihan Bianca yang bersikeras. “Bianca!”
__ADS_1
Bianca berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Reagan, saat ini rasanya ia hanya ingin sendirian. Regan sangat jahat, dan Bianca tidak suka dengan pilihan Reagan.
Reagan menghembuskan nafas kasarnya saat melihat Bianca yang berjalan meninggalkan dirinya sendirian. Dengan berlari Reagan dapat menyusul Bianca. Ia menarik tangan Bianca dan membawa tubuh Bianca ke dalam pelukannya.
Bianca menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Reagan. Hatinya hancur, hadapannya hilang, permintaan Reagan membuat dunia Bianca rasanya runtuh seketika. Harapan indah yang sudah ia impikan bisa bersama-sama seperti Anisa dan suaminya kini sirna begitu saja.
“Reagan jahat,” rancu Bianca di tengah tangisnya yang cukup kencang.
Berada di atas ketinggian dan sepi menjadikan tempat ini tempat yang begitu pas. Reagan tak perlu khawatir mendapatkan pandangan dari orang-orang, ia juga tak perlu meminta Bianca untuk tidak menangis. Sebelum hari ini tiba, ia sudah merencanakan ini matang-matang sebelum mengambil keputusan.
Bianca merasakan pelukan Reagan semakin erat, Bianca membalas pelukan Reagan tak kalah eratnya.
Langit mulai gelap, dan matahari sudah terbenam sepenuhnya. Reagan menuntun Bianca untuk turun ke tempat ia memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Tangis Bianca sudah tak kencang seperti tadi, kini hanya terdengar isak tangis kecil di ikuti air mata yang mengalir melewati pipi mulus Bianca. “Bianca tidak menggugurkannya Reagan,” ucapan Bianca memandang Reagan dengan wajah penuh harapnya.
Reagan menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa Bianca.” Ucapan Reagan seolah mutlak dan tak menerima penawaran dalam bentuk apa pun.