Bianca

Bianca
Bianca -> Tujuh Belas


__ADS_3

[Buka Bianca, jangan membuat kamu mendapatkan hukuman lagi.]


[Bukannya kamu sekarang bebas bertemu dengan Reagan. Jangan membuat Mommy dan Daddy kehilangan kesabaran menghadapi kamu.]


[Lagi pula bayi yang ada di kandungan kamu perlu nutrisi dari tubuhmu. Kamu harus makan agar membuatnya tetap sehat.]


Bianca diam sejenak memikirkan pesan yang di kirimkan Luisa. Akhirnya ia memilih untuk membuka kunci kamarnya.


Iganzio sedikit merasa lega saat pintu kamar Bianca terbuka, ia melihat betapa kacaunya wajah Bianca.


Bianca membiarkan pintunya terbuka dan berjalan menuju tempat tidur dan memilih duduk tanpa berani menatap wajah Ignazio.


Iganzio duduk tepat di samping Bianca. Ia membawa tubuh kecil Bianca ke dalam pelukannya.


Bianca merasa nyaman di dalam pelukan Ignazio. “Dady, Mommy sudah enggak sayang Bianca lagi ya?” tanya Bianca dengan air mata yang kembali mengalir tanpa bisa ia tahan.

__ADS_1


Iganzio semakin erat memeluk Bianca. “Kata siapa, Mommy sayang sama Bianca. Sayang banget malah, sampai Mommy takut terjadi sesuatu pada Bianca.”


“Dady Bohong. Mommy enggak sayang sama Bianca.” Bianca menjeda ucapannya karena dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. “Mommy tampar Bianca Daddy.”


Ignazio terdiam, tangannya mengusap punggung Bianca mencoba menenangkan tangis putrinya.


Tangis Bianca reda Setelah dirinya merasa tenang. Bianca melepaskan pelukannya.


Ignazio mengeluarkan sapu tangan miliknya dan menghapus air mata Bianca. “Bianca makan ya, habis itu minum obat,” ucap Ignazio. Ia merasakan suhu badan Bianca yang masih panas.


“Kalau begitu Daddy ambilkan makan dulu ya.” Setelah mendapat persetujuan dari Bianca Ignazio keluar dari kamar Bianca dan menutup pintu.


Ignazio melihat Fiona yang bersandar pada dinding dengan air mata yang membasahi pipinya. Ignazio menatap istrinya dengan lembut.


Fiona membalas tatapan suaminya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. “Maaf,” ucap Fiona pelan.

__ADS_1


Ignazio mengangguk dan memeluk tubuh mungil istrinya. “Yang terpenting Bianca baik-baik saja. Jangan di ulangi lagi ya, anak kita tak bisa menerima kekerasan sedikit pun.”


Fiona mengangguk. Ia merasa beruntung memiliki suami yang bisa mengimbangi kekurangannya. Seharusnya Fiona sadar jika sikap Bianca yang pemberontak adalah dirinya di masa lalu. Fiona sangat dekat dengan Averyl namun ia yang memiliki sifat sama kerasnya tak bisa dekat dengan Bianca.


Ignazio menghapus air mata Fiona dengan ibu jarinya. “Buatkan Bianca makanan, anak kita pasti kelaparan tidak makan dari semalam. Dia pasti merindukan masakan mommy nya yang lezat.”


Bibir Fiona tersenyum mendengar pujian dari Ignazio.


Setengah jam berlalu Ignazio kembali masuk ke dalam kamar Bianca dengan nampan yang di bawanya. “Makan sayang,” ucap Ignazio.


Bianca bangkit dari tidurnya ia menerima nampan yang di berikan Ignazio dan mencoba memakannya. “Bianca enggak suka masakan Mommy,” keluh Bianca dengan menampilkan wajah cemberutnya. Sejujurnya Bianca bukan tidak suka dengan masakan Fiona, lebih tepatnya Bianca masih kesal pada Fiona.


“Kenapa? Masakan Mommy enak kok. Kalau Bianca tidak mau buat daddy saja,” ucap Ignazio. Tangannya hendak mengambil nampan yang ada di pangkuan Bianca.


“Tidak boleh, Mommy memasak ini untuk Bianca. Kalau daddy mau minta saja di masakan Mommy,” Bianca menepis tangan Ignazio yang mau mengambil miliknya.

__ADS_1


Ignazio merasa tenang, meskipun Fiona dan Bianca terlihat tidak akur. Namun ada ikatan istimewa yang terlihat. Semarah apa pun satu sama lainnya tapi melihat sikap Bianca yang menghargai usaha Fiona sudah membuat Ignazio bangga. Ia tak mementingkan prestasi dari kedua anaknya, melihat mereka tumbuh besar saja sudah membuat Ignazio senang bukan main. Hanya saja sebagai seorang ayah ia ingin memberikan pasangan yang terbaik untuk anak-anaknya.


__ADS_2