Bianca

Bianca
Bianca -> Empat Puluh Dua


__ADS_3

Suasana kamar terasa panas, dua insan yang memadu kasih tampak mesra. Bibir mereka saling bertaut. Bianca lebih dulu menarik diri, ia tidak bisa melakukan ini.


“Ada apa?” Tanya Adnan saat melihat kekasihnya tampan menundukkan kepalanya.


Ciu’man barusan terasa sangat berbeda, bahkan Bianca masih mengingat jelas ciu’man yang memabukkan dengan Reagan.


Dering telepon milik Bianca menggema di apartemen Adnan. Bianca segera bangkit dari duduknya mengambil tasnya lalu mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Ternyata Dwi, Bianca merasa mendapatkan keberuntungan. “Iya Dwi ada apa?” tanya Bianca basa basi.


[Ini loh es krim yang kemarin Lo simpen di freezer cair, listrik di rumah lagi konslet.]


“Oh Lo butuh bantuan, tapi kayaknya enggak bisa,” ucap Bianca.


[Mau apa? Enggak usah, lagian Lo bukan ahlinya tukang listrik.]


“Butuh bantuan gue banget ya? Yang lain enggak ada?” tanya Bianca dengan nada sedikit keberatan.

__ADS_1


[Apaan sih Lo, salah minum obat?]


“Ya udah deh gue ke sana sekarang ya,” ucap Bianca ia segera menutup teleponnya. Lalu berbalik badan menghadap Adnan.


“Ada apa?” tanya Adnan penasaran.


“Ini loh Dwi di putusin sama pacarnya, dia galau gitu butuh teman.”


Adnan menghela nafasnya, ia memeluk tubuh Bianca sangat erat. Sudah satu bulan mereka tak bertemu karena Bianca sibuk dengan kegiatan kampus, sekalinya bertemu belum ada satu jam sudah berpamitan. “Kamu tuh serius enggak sih pacaran sama aku?” Adnan merasa Bianca seperti ingin melarikan diri.


‘Mampus,' batin Bianca. Ia mencoba memberanikan diri untuk membalas pelukan Adnan. Bibirnya terkatup rapat-rapat, Bianca merasa terjebak dalam dilema. Meskipun dia telah menjalin hubungan dengan Adnan selama dua tahun, dia masih belum yakin apakah dia benar-benar mencintai Adnan atau tidak.


Bianca merasa tegang saat Adnan menatapnya dengan intensitas. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin dikatakan Adnan. Hatinya berdebar-debar, tidak tahu apa yang akan diungkapkan olehnya.


“Kamu masih mencintai Reagan?”

__ADS_1


Bianca terdiam membalas tatapan Adnan, seharusnya Bianca bisa melupakan kenangan Reagan. Tapi nyatanya ia tak bisa menampik hal itu. Bianca mencium bibir Adnan terlebih dahulu, mencoba lebih agresif tanpa memikirkan perasaannya.


Adnan tahu jika Bianca masih berusaha, tetapi rasanya lelah jika berlarut seperti ini. Namun melihat tekad Bianca, Adnan mencoba memberikan kesempatan lagi. Ia mengimbangi permainan Bianca. Hingga mereka berada di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun.


Sisi agresif Bianca berhenti saat mengingat Reagan kembali, ia benci pada sisi dirinya yang lemah dan terlalu larut dalam perasaannya.


“Bianca?” panggil Adnan. Hatinya cukup sakit melihat Bianca yang hampir menangis.


“Adnan aku tidak bisa,” ujar Bianca sendu. Ia mendorong tubuh Adnan dan berlari ke arah kamar mandi. Bianca menangis dalam diam, tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisan.


Adnan memakai pakaiannya kembali, ia berdiri di depan pintu kamar mandi mencoba menajamkan pendengarannya. Namun di dalam terdengar sangat hening, tak ada suara gemercik air sedikit pun. “Bianca aku ke minimarket sebentar ya,” ucap Adnan berteriak agar Bianca mendengarnya dengan jelas.


Tak ada sahutan sedikit pun dari dalam, akhirnya Adnan berjalan menuju minimarket meninggalkan Bianca seorang diri. Sesampainya di minimarket Adnan mengambil minum dan duduk di kursi yang di sediakan minimarket. Ia menikmati minumannya.


Adnan tak tahu harus menyerah atau berjuang, namun melihat sikap Bianca ia merasa harus menyerah. Meskipun perasaannya tulus, tetapi jika Bianca tidak bahagia bersamanya, semua yang ia lakukan terasa tak berguna.

__ADS_1


Adnan tak berniat kembali ke apartemen miliknya, ia memberikan sedikit ruang untuk Bianca pergi tanpa penjelasan. Jujur Adnan tak sanggup mendengar kalimat permintaan putus dari Bianca.


Tenggorokannya terasa semakin tercekat, Adnan segera menenggaknya habis minuman dingin yang ada di hadapannya. Tangannya mengepal erat, dengan wajah sendunya.


__ADS_2