Bianca

Bianca
Bianca -> Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Fiona yang tengah menunggu Bianca di ruang depan melihat wajah lesu anaknya, dan muka yang sebab seperti habis menangis. “Kamu tuh enggak bisa apa ya di kasih tahu baik-baik, jangan main lagi sama Reagan tapi masih aja pergi,” ketus Fiona.


“Bianca capek, mau ke kamar ya Mom,” ujar Bianca. Ia sengaja tak menanggapi ucapan Fiona dan memilih pergi.


Fiona sedikit heran, padahal biasanya jika setelah bepergian Bianca akan sangat ceria. Tapi hari ini Bianca sedih. “Apa mereka sudah putus ya?” Tanya Fiona pada angin sepoi-sepoi.


“Ah kalau betul putus, kabar bagus ini.” Fiona bermonolog sendiri, dengan senyuman di bibirnya berharap apa yang di pikirkannya memang sudah terjadi.


Sesampainya di kamar Bianca naik ke atas tempat tidur, ia memeluk boneka miliknya dengan sangat erat. Tak ada lagi air mata yang keluar karena sepanjang perjalanan ia tak berhenti menangis. Air matanya sudah keluar terlalu banyak.


Bianca merasakan getaran dari ponselnya, ia mengambil dan melihat pemberitahuan pesan masuk dari Reagan. [Maaf telah membuatmu menangis, semua ini demi kebaikan kita bersama.]


Setelah membaca pesan singkat dari Reagan, tak sedikit pun Bianca berniat membalasnya. Ia melemparkan ponselnya asal dan kembali memeluk bonekanya.

__ADS_1


***


Sudah satu Minggu Bianca memilih mendiamkan Reagan. Ia tidak menghubungi dan memilih bersembunyi di dalam kelas saat sekolah. Rasanya malas jika harus bertemu dengan Reagan, Bianca masih tak terima atas keinginan Reagan yang ingin menggugurkan kandungan.


Jam istirahat Bianca membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah. Ia merapikan barang-barangnya yang berserakan di atas meja sebelum memulai makan. Baru suapan ketiga Adnan tiba-tiba duduk di samping Bianca.


Adnan mengambil alih sendok yang sedang Bianca pegang dan menyendok makanan Bianca. Lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


“Ish!”


Bianca harus merelakan makan siangnya yang di makan dengan lahap oleh Adnan. Sementara ia terpaksa mengisi perutnya dengan salad milik Adnan.


Adnan teringat brosur yang ia bawa untuk di bagikan ke seluruh teman kelasnya. “Bianca lihat sini,” ujar Adnan dengan tangan yang menunjuk pada brosur yang ia bawa. “Tumben banget sekolah mengadakan study tour empat hari loh. Biasanya juga dua hari, tapi ini kesempatan bagus sih. Study tour kali ini pasti lebih menyenangkan,” tutur Adnan dengan nada antusiasnya.

__ADS_1


Bianca juga cukup heran, tidak biasanya sekolah mengadakan study tour cukup lama. Tapi melihat isi brosur akan ada banyak tempat yang mereka kunjungi rasanya tak heran. Semua terasa normal saja bagi Bianca.


Tak biasanya Bianca mendapat pesan dari Reagan. [Pulang nanti kita ketemu, kita perlu bicara.]


Jari gemas Bianca segera membalas pesan Reagan. [Tidak mau, Bianca masih kesal. Lagi pula tak perlu ada yang di bicarakan lagi, Bianca akan tetap mempertahankan kandungan ini.]


Adnan yang melihat reaksi Bianca dengan saja mengambil ponsel Bianca.


Bianca yang sudah merasa dekat dengan Adnan membiarkan percakapannya di baca oleh Adnan.


Telapak tangan Adnan menggebrak meja. “Bianca, lo benar-benar ya sok polos tapi brutal. Bisa-bisanya kamu-“ Adnan menghentikan kelanjutan ucapannya, namun wajahnya menampilkan rasa gemas bercampur kesal.


Bianca memasukkan salad ke dalam mulut Adnan. “Banyak omong dih!”

__ADS_1


Dari kejauhan Reagan yang menyaksikan kedekatan Bianca dan Adnan membuat api cemburu Reagan tersulut, hingga menimbulkan kobaran api yang membakar isi hatinya. Panas!


__ADS_2