Bianca

Bianca
Bianca -> Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Liburan sekolah sudah usai, kini Bianca harus masuk sekolah seperti biasanya. Langkah Bianca berjalan di lorong sekolah yang cukup ramai, tetapi Bianca merasa berjalan seorang diri di lorong yang kosong.


Hal yang membuat Bianca resah ialah kisah asmara dan kandungannya. Setelah menguping pembicaraan Reagan dan orang tuanya hingga kini Bianca tak mendapatkan satu pesan atau kabar mengenai Reagan. Pria itu bagaikan di telan bumi. Pesan dan telepon yang di lakukan Bianca tak mendapat respons sedikit pun.


Adnan yang melihat wajah murung Bianca memasuki kelas segara mengikuti temannya dan duduk di kursi kosong yang ada di samping Bianca. “Kamu kenapa sih?” tanya Adnan.


Bianca menggelengkan kepalanya, ia menelungkup kan wajahnya di atas tangannya yang terlipat di meja.


Adnan mengeluarkan coklat yang di lapisi kertas. “Tadi Reagan datang ke sini tapi kamu belum datang, dia titip ini,” ujar Adnan memberikannya pada Bianca.


Mendengar nama Reagan di sebut Bianca langsung mengangkat kepalanya dan menatap coklat yang di lapisi kertas. Bianca segera mengambil dan membukanya, kertas tersebut berisikan tulisan. “Kita ketemu di tempat parkir sepulang sekolah.”


Adnan yang ikut membaca isi tulisan tersebut sedikit heran saat melihat wajah Bianca yang senyum malu-malu. “Dih muka Lo kenapa? Senang ya udah baikan sama Reagan?”


Bianca mengangguk antusias. “Makasih ya,” ujar Bianca dengan senyuman di bibirnya. Ia tidak menyangka Reagan akan mengajaknya bertemu.


Adnan lebih tertarik pada merk coklat pemberian Reagan. “Wah coklat limited edition, mau dong jangan cuma makasih doang.”


Bianca membelahnya menjadi dua bagian lalu memberikan salah satu bagiannya pada Adnan.


Wajah Adnan bahagia bukan main, ia yang tak sabar pun segera memakan coklatnya.

__ADS_1


Bianca menjalani hari dengan senyuman semringahnya, ia yang tak sabar terus melirik jam di tangannya berkali-kali berharap waktu lebih cepat berjalan. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Reagan.


Bel pulang terdengar cukup nyaring pada murid mulai bersiap untuk meninggalkan kelas. Semua orang terheran-heran saat melihat Bianca menjadi orang pertama yang keluar dari kelas, sebelumnya wanita itu selalu pulang terakhir.


Bianca berlari menuju tempat parkir secepat kilat. Nafasnya sedikit terengah karena berlari. Namun Reagan belum terlihat, hanya mobilnya yang terparkir cantik di sana.


Bianca menunggu beberapa saat sampai ia melihat Reagan yang berjalan seorang diri berjalan mendekat. “Reagan,” panggil Bianca dengan senyuman di bibirnya.


Reagan mengusap puncak kepala Bianca, sudah ia duga Bianca akan sangat antusias.


Mereka masuk ke dalam mobil, dan Reagan mulai melajukan mobilnya keluar dari area sekolah. “Reagan terima kasih coklatnya Bianca suka, Adnan juga suka.”


Bianca terkejut saat mobil tiba-tiba berhenti mendadak hingga tubuhnya hampir tersungkur ke depan. “Ada apa Reagan?”


“Apa katamu barusan?” Reagan balik bertanya untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.


“Yang mana?” tanya Bianca tak mengerti ke arah mana pembicaraan Reagan.


“Itu kelanjutan dari terima kasih.”


“Oh itu ia Bianca bilang terima kasih, coklatnya enak. Bianca suka, Adnan juga suka.”

__ADS_1


Reagan memicingkan matanya kesal ke arah Bianca. “Kenapa kamu memberinya pada dia?”


“Iya soalnya kebanyakan juga, terus kasian Adnan. Katanya itu coklat limited edition jadi dia mau coba.”


Reagan memalingkan wajahnya, dan fokus pada jalanan. “Tahu begitu aku beli coklat kadaluwarsa saja kalau kamu berikan pada dia,” ketus Reagan.


“Iih ko Reagan begitu, enggak boleh seperti itu Reagan,” Rajuk Bianca.


“Lagian harusnya kamu makan semua pemberianku, bukan malah memberikannya pada pria lain,” protes Reagan tanpa menatap lawan bicaranya.


“Oh Reagan cemburu ya?” tanya Bianca dengan nada mengejek.


“Tidak,” jawab Reagan cuek.


“Kalau tidak kenapa harus marah kalau Bianca bagi coklatnya bersama Adnan. Itu kan namanya cemburu,” jawab Bianca berusaha menyudutkan Reagan.


“Karena kamu tidak menghargai pemberianku,” jawab Reagan lagi. Ia melirik Bianca tidak suka dan kembali fokus pada jalanan.


Bianca menyandarkan kepalanya pada bahu Reagan. “Bianca suka melihat Reagan cemburu,” ujar Bianca dengan senyuman di bibirnya.


Bianca memperhatikan jalan yang mereka lewati mulai keluar dari perbatasan kota. “Kita mau ke mana Reagan?”

__ADS_1


“Ke suatu tempat,” jawab Reagan singkat.


__ADS_2