
“Aku tidak pernah mencintaimu Nasya, aku mencintai wanita lain. Dan wanita itu sedang mengandung anakku,” ucap Reagan.
Nasya sangat kesal mendengar ucapan Reagan, ia naik ke besi pembatas hendak melompat.
Reagan hendak menolong Nasya namun yang terjadi mereka terjatuh bersamaan. Reagan merasakan dirinya melayang, lalu kepalanya membentur sesuatu dan Reagan kehilangan kesadarannya.
***
Luisa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam malam. Ia harus segera pulang sebelum Fiona marah-marah.
Bianca menengok saat mendengar suara pintu terbuka.
“Kita harus pulang,” ucap Luisa. Ia tak melihat air mata Bianca lagi, namun wajah Bianca sungguh kacau dengan mata yang bengkak dan hal ini akan menjadi pertanyaan Fiona.
Bianca bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Luisa keluar dari kamar.
“Bianca,” panggil Luisa.
Bianca menengok ke arah Luisa, namun pandangannya tertuju pada pria yang ada di samping sang kaka.
Pria tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Shaga, calon kakak iparmu.”
__ADS_1
Bianca menatap tangan kekasih Luisa, Bianca menjabat tangan Shaga dan melepaskannya. Lalu berjalan meninggalkan Luisa.
“Maaf ya, adikku sedang bermasalah dengan kekasihnya jadi agak jutek,” ucap Luisa menampilkan senyuman canggungnya.
Shaga mengacak puncak kepala Luisa. “Tidak apa-apa. Hati-hati membawa mobilnya.”
Luisa mengangguk dan berjalan menyusul Bianca. Areliano masih menunggu kabar dari Reagan. Ia yang tidak sabar pun segera menghubungi nomor Reagan. “Bagaimana?” tanya Areliano begitu teleponnya tersambung.
[Apa kamu teman dari pemilik ponsel ini?]
Areliano sedikit terkejut karena bukan Reagan yang mengangkat teleponnya. “Saya saudaranya, ini dengan siapa?”
[Pemilik ponsel ini jatuh dari lantai dua mal, dan sekarang sedang di larikan ke rumah sakit terdekat.]
Bianca sampai di ruang tamu dan melihat wajah panik Areliano. “Ada apa paman?”
“Reagan masuk rumah sakit jatuh dari lantai dua mal, mana Luisa?”
Tubuh Bianca lemas saking terkejutnya. Melihat tubuh adiknya yang akan ambruk dengan cepat Luisa menahan tubuh Bianca.
“Reagan kenapa?” Tanya Luisa karena ia tidak begitu mendengar jelas percakapan Areliano.
__ADS_1
“Masuk rumah sakit, aku akan segera ke sana.”
“Bianca mau ikut,” ucap Bianca cepat. Ia ingin melihat keadaan Reagan.
“Tidak Bianca, semuanya akan semakin kacau kalau Mommy dan Daddy tahu.”
Binaca tidak mengindahkan larangan Luisa, ia mencoba menegakkan tubuhnya menghampiri Areliano. “Ayo.”
“Jangan Bianca.”
Bianca menarik tangan Areliano keluar dari pintu.
“Bianca jangan bodoh!” teriak Luisa, ia tidak ingin Binaca menyesal.
Luisa menghembuskan nafas kesalnya karena Bianca tidak mau mendengar ucapannya. Ia memilih berlari menyusul adiknya.
Luisa akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Areliano dan meninggalkan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Luisa memperhatikan Bianca yang memandang jalanan dengan tatapan kosong. Luisa menarik tangan Bianca dan menggenggamnya. “Reagan pasti baik-baik saja,” ucap Luisa mencoba memberikan ketenangan untuk Bianca.
Bianca menengok ke arah Luisa dengan satu tetesan air mata. “Rea-“ Bianca tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia merasa menyesal tidak menemui Reagan.
__ADS_1
Luisa memeluk erat Bianca. Entah mengapa ia rasa masalah terlalu banyak menghampiri Bianca, bahkan jika Luisa ada di titik itu mungkin ia akan memilih mengakhiri hidup. Tidak memiliki masa depan, di hamili pria yang kurang bertanggung jawab, bahkan pria yang di cintai Bianca terikat dengan wanita lain.