
“Ada apa?” tanya Reagan sesampainya di depan Nasya.
“Duduk,” titah Nasya. Ia sudah menyiapkan makan siang di meja makan.
Reagan melihat pisau yang ada di meja, tidak ingin mengambil risiko akhirnya ia memilih duduk di meja makan.
“Temani aku makan siang, aku belum makan siang. Dan tidak mau makan siang sendirian,” ujar Nasya. Ia membalik piring miliknya dan mengisinya dengan makanan.
“Setelah ini aku harus pulang,” ucap Reagan.
Nasya mengangguk setuju. Ia senang karena tidak sendirian di meja makan.
Reagan menikmati makan siangnya dengan perasaan khawatir, ia mencari keberadaan ponselnya di dalam saku untuk mengabari Bianca namun tidak ada sepertinya tertinggal di dalam mobil. Ia tidak sempat mengabari Bianca jika terlambat, ia takut Bianca menunggu lama. Reagan berharap tidak ada drama berkelanjutan yang di buat Nasya.
Nasya makan dengan sangat lahap, ia melihat Reagan yang makan hanya sedikit saja. “Reagan sangat buru-buru ya?” tanya Nasya.
“Iya,” jawab Reagan. Ia memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Reagan melihat ke luar jendela saat suara hujan yang cukup deras.
Suara gemuruh dari kilatan petir membuat tubuh Nasya gemetar ketakutan. Sendok dan garpu yang di pegangnya jatuh ke lantai begitu saja, Nasya menyembunyikan tubuhnya ke bawah meja makan. Ia memeluk lututnya dengan sangat erat.
Reagan yang melihat reaksi Nasya hanya bisa menghembuskan nafas kesalnya. Ia merasa seperti harus bertanggung jawab atas trauma yang bahkan Reagan sendiri tidak tahu penyebab trauma Nasya.
Reagan menghampiri Nasya, dan mengulurkan tangannya. “Kemari Nasya, kita pergi ke tempat aman,” ucap Reagan.
“Reagan,” panggil Nasya dengan suara ketakutannya. Ia menerima uluran tangan Reagan dan perlahan keluar dari bawah meja makan.
Reagan merangkul Nasya dan membawanya ke dalam kamar. Reagan menutup gorden jendela yang ada di kamar Nasya lalu menyalakan lampu utama.
“Naiklah ke tempat tidur, dan istirahat. Aku akan menemanimu,” ujar Reagan.
Nasya mengikuti ucapan Reagan, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Reagan, Nasya sungguh ketakutan.
Reagan duduk di pinggiran tempat tidur, tepat di samping tubuh Nasya yang terlentang. Ia mengambil obat milik Nasya dari dalam laci, dan memberikannya pada Nasya beserta air minum yang tersedia di meja kecil. Nasya segera meminum obat yang di berikan Reagan. Tangan Reagan membelai rambut Nasya memberikan kenyamanan agar Nasya cepat tertidur.
__ADS_1
Reagan berharap Nasya cepat tertidur, ia sangat khawatir pada Bianca.
Lima belas menit berlalu setelah memastikan Nasya tertidur, dengan perlahan ia melepaskan tangan Nasya dari tangan Reagan. Setelah berhasil terlepas, Reagan melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan keluar dari kamar Nasya.
Reagan berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Ia mengambil ponselnya dan melihat banyak panggilan masuk dari Bianca.
Reagan menginjak pedal gas dalam-dalam. Membawa mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
Sampai di tempat parkir taman tempat mereka berjanjian Reagan keluar dari dalam mobilnya dengan berlari memasuki area taman, hujan sudah reda menyisakan genangan air.
Kaki Reagan berhenti saat dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang duduk di kursi taman dengan basah kuyup.
Reagan kembali berlari menuju ke arah wanita yang duduk dengan kepala menunduk sehingga wajahnya tertutup rambut. “Bianca,” panggil Reagan.
Suara tangisan kencang membuat Reagan terkejut bukan main, ia melihat wajah Bianca yang sembab dengan bibir pucatnya.
“Reagan jahat. Bianca benci sama Reagan.”
__ADS_1
Reagan duduk di samping Bianca, ia menyingkirkan rambut Bianca yang menutupi sebagian wajahnya. “Kenapa tidak berteduh?” tanya Reagan khawatir saat melihat keadaan Bianca.
Mendengar pertanyaan Reagan membuat Bianca kesal. Tangan Bianca terkepal dan memukul dada bidang Reagan dengan kepalan tangannya. “Jahat, Reagan jahat!”