
Bianca kembali duduk di samping Reagan. Sementara Filio duduk di sofa memperhatikan interaksi Bianca dan Reagan.
Bianca mencubit pelan tangan Reagan yang ia genggam. “Reagan mau sampai kapan tidur terus, banguuuun,” bisik Bianca tepat di telinga Reagan.
Bibir Filio tersenyum melihat tingkah Bianca yang berusaha membangunkan Reagan dengan berbisik-bisik.
Bibir Bianca mengerucut saat melihat Reagan tidak kunjung membuka mata. Kesabaran Bianca sudah habis, ia menangis karena ulah Reagan. Sekarang Reagan juga tidak mau siuman juga. “Reagan menyebalkan ah, Bianca enggak suka. Bangun Reagan!” teriak Bianca tepat di telinganya Reagan.
Filio menggelengkan kepalanya pelan melihat cara Bianca menyadarkan Reagan.
Tidak kehilangan semangat Bianca mencoba mencubit pelan pinggang Reagan namun tidak kunjung siuman juga. Akhirnya Bianca menambah kekuatan cubitannya. Sampai di batas kekuatan dirinya, Reagan juga masih belum bangun. “Tidak bangun juga, Reagan mau di bangunkan dengan cara apa?” tanya Bianca seperti orang gila yang berbicara sendiri. Padahal Reagan masih belum sadar juga.
Bianca bangkit saat mendapatkan ide, ia menyingkirkan selimut bagian kaki Reagan. Sehingga kaki Reagan terbuka sempurna. “Jurus jaz one sepuluh jari, hiyaaaa!”
Suara tawa menggema di ruangan, tetapi bukan Reagan yang tertawa geli melainkan Filio. Filio tidak pernah menyangka jika pikiran Bianca sangat di luar nalar, belum lagi wajah serius Bianca terlihat menggelikan.
“Kenapa jadi om yang tertawa?” sindir Bianca dengan bibir yang cemberut.
Filio menghentikan tawanya dan menatap Bianca serius. “Bukan seperti itu Bianca, kamu harus menunjukkan rasa cintamu agar Reagan merasakannya dan segera siuman.”
Bianca teridam memikirkan ucapan Filio. Ia mencari cara untuk menunjukkan rasa cintanya pada Reagan.
__ADS_1
Kaki Bianca melangkah mendekat ke bagian kepala Reagan. Bianca memiringkan wajahnya untuk mencari cara yang jitu agar Reagan merasakannya. Terlintas sebuah ide paling baik menurut Bianca untuk menunjukkan rasa cintanya. Bianca mendekatkan wajahnya pada wajah Reagan. Bianca memandangi sudut bibir Reagan yang tampak lebam. Bianca mengecupnya sesaat lalu kembali melihat mata Reagan yang masih tertutup. “Reagan tidak puas ya?” tanya Bianca dengan suara berbisik. Ia kembali mendekatkan wajahnya, kali ini bibir Bianca menempel sempurna di atas bibir Reagan yang terbaring.
Filio yang melihat ciu’man itu sangat takjub, bagaimana bisa Bianca yang polos seperti itu melakukan adegan yang biasa orang dewasa lakukan.
Bianca menc’ium bibir Reagan cukup lama, lalu menarik dirinya. “Om kok Reagan tidak bangun juga?”
Filio jadi kebingungan sendiri. “Dari mana kamu belajar berciuman seperti itu?”
“Reagan suka cium-cium Bianca, jadi,” Bianca mengulum senyumannya karena malu.
‘Astaga Reagan!’ batin Filio. “Bianca kenapa kamu polos sekali, pantas saja Reagan bisa jatuh cinta sama kamu. Mudah di dapatkan,” ucap Filio mengeluarkan pendapatnya.
“Memangnya Reagan cinta ya sama Bianca? Kalau cinta kenapa Reagan malah tunangan sama perempuan lain,” ujar Bianca. Ia kembali teringat akan masalah itu dan kembali merasa sakit hati.
Bibir Bianca mengerucut. “Tapi tetap saja memilih Nasya dari pada Bianca, anak om jahat. Bianca jadi sedih mau menangis lagi huhuhu,” ucap Bianca sedih. Ia menghapus air matanya yang turun.
“Maaf.”
Bianca dan Filio sontak menengok ke arah suara. Reagan membuka matanya dan menatap Bianca.
Melihat anaknya sudah sadar Filio segera menekan tombol. Tidak lama dokter dan suster datang untuk memeriksa kondisi Reagan.
__ADS_1
Filio meninggalkan Bianca dan Reagan karena ia harus berbicara dengan dokter. Sementara Bianca melipat kedua tangannya di dada, dan memalingkan wajahnya dari Reagan.
“Kamu marah?”
“Tidak,” ketus Bianca tanpa menengok ke arah Reagan.
“Maaf sudah membuatmu sedih,” ucap Reagan lagi. Ia tersenyum melihat tingkah Bianca yang seperti anak kecil tengah merajuk.
Kali ini Bianca menatap Reagan dengan tatapan kesalnya. “Tidak Bianca maafkan.”
“Kemari, aku ingin memelukmu,” ujar Reagan.
Bianca menggelengkan kepalanya, namun sedetik kemudian kakinya melangkah mendekati Reagan dan memeluk tubuh Reagan yang terlentang di tempat tidur.
Tangan Reagan membelai rambut Bianca yang berada di dadanya. “Jangan menangis, aku tidak suka menjadi alasan kamu bersedih.”
“Habisnya Reagan menyebalkan, memilih bertunangan dengan Nasya. Sementara Bianca yang hamil anaknya Reagan tidak di nikahi,” ujar Bianca. Tangannya mencubit pinggang Reagan karena kesal.
“Memangnya kamu mau menikah denganku?”
Bianca mengangkat tubuhnya dan berdiri tegap memandang serius ke arah Reagan. “Reagan kan harus bertanggung jawab karena membuat Bianca hamil, jadi harus menikahi Bianca.”
__ADS_1
“Tidak mau,” ucap Reagan mengikuti ciri khas penolakan Bianca dengan suara manja yang di buat-buat.
Tangan Bianca melayang memukul-mukul dada bidang Reagan dengan kedua tangannya yang terkepal sempurna. “Reagan jahaaaat!”