
“Aaaa sakit, pusing kepala Bianca rasanya mau pingsan.”
Melihat reaksi Bianca yang berlebihan membuat Reagan khawatir dan mendekat menahan tubuh Bianca.
Bianca menahan tawa, namun tidak berhasil. Karena ia pikir Reagan tidak akan terkena jebakannya.
Reagan menjauh dari Bianca dan menatap datar pada kekasihnya. “Kamu membohongiku?”
“Bianca tidak bohong kepala Bianca benar-benar pusing.” Tangan Bianca memegangi kepalanya agar meyakinkan Reagan.
Reagan membawa tubuh Bianca ke dalam pangkuannya lalu merebahkan tubuh kekasihnya di tempat tidur. Tidak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuh Bianca.
Bianca hanya menurut saja, ia pikir kapan lagi akan di manjakan oleh Reagan.
Reagan mengambil meja lipat dan membawanya ke atas tempat tidur, tepat di samping tubuh Bianca. Reagan membuka lembaran buku mencari halaman yang harus ia kerjakan.
Melihat Reagan yang sibuk Bianca kembali mencari perhatian. “Reagan kepala Bianca pusing mau di pijat.”
Dengan tangan kirinya Reagan memijat dengan asal kepala Bianca sementara tangan kanannya mengerjakan tugas.
“Ini apartemen punya Reagan?” tanya Bianca sambil memejamkan matanya menikmati pijatan Reagan.
__ADS_1
“Bukan, ini punya orang aku curi,” jawab Reagan asal tanpa menoleh ke arah Bianca.
Bianca mencubit tangan Reagan yang sedang memijatnya. “Bianca tanya serius Reagan!”
“Iya ini punyaku,” jawab Reagan pada akhirnya memilih mengaku karena cubitan Bianca cukup menyakitkan.
“Reagan sudah enggak tinggal di rumah Om Filio?”
“Tidak,” jawab Reagan. Ia kembali fokus mengerjakan tugas sekolahnya.
Melihat Reagan yang rajin, Bianca sedikit merasa tenang. Karena Reagan sudah berada di jalur yang benar, dan Bianca sudah tak mendengar Reagan tidak berbuat ulah lagi di sekolah.
“Reagan kok enggak buat ulah lagi di sekolah?” tanya Bianca penasaran.
Bianca bangkit dan duduk di samping tubuh Reagan, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Reagan. “Tadi Bianca pegang perutnya Anisa, bayinya bergerak. Nanti bayi kita bergerak juga kan, Bianca sudah tidak sabar.”
Reagan memandangi wajah Bianca yang tampak senang, namun jauh di dalam Kepalanya Reagan memikirkan banyak hal yang akan terjadi di depan. Namun rasanya ia tidak tega memberitahukan hal itu pada Bianca.
“Kamu jaga dia baik-baik ya. Makan yang banyak, minum vitaminnya dan istirahat yang cukup seperti kata dokter.”
“Iya Bianca akan menjaganya dengan baik,” jawab Bianca ia meraba perutnya yang masih rata. Tidak seperti milik Anisa yang sudah menonjol.
__ADS_1
Reagan memberikan kecupan di kepala Bianca lalu kembali mengerjakan tugas yang belum selesai.
Rasa kantuk Bianca mulai menyerang saat memperhatikan Reagan yang fokus mengerjakan tugas.
Reagan sudah selesai mengerjakan tugas, saat menengok ke samping ia melihat Bianca yang tertidur. Dengan perlahan Reagan merebahkan tubuh Bianca.
Melihat wajah tenang dan damai Bianca membuat Reagan merasa sangat menyesal atas perbuatannya malam itu. Tangan Reagan membelai puncak kepala Bianca, “Maafkan aku telah merusak masa depanmu,” ucap Reagan pelan dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. Ia telah membawa Bianca pada jurang tanpa akhir.
Reagan kembali merapikan buku tugasnya. Ia membiarkan Bianca istirahat.
Reagan memesan makanan dan menatanya di meja makan. Lalu membangunkan Bianca. “Bianca,” panggil Reagan. Tangannya menepuk pelan pipi Bianca.
“Hmmm.”
“Bangun, aku sudah menyiapkan makanan untuk makan malam.”
Bianca membuka matanya saat mendengar kata makan malam. “Makan malam, memangnya sekarang jam berapa?” tanya Bianca terkejut.
“Jam tujuh.”
“Gawat,” ucap Bianca. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Benar saja ada dua panggilan dari Fiona.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Bianca boleh main asalkan pulang sebelum jam makan malam, tapi sekarang sudah lewat. Mommy pasti marah,” ucap Bianca dengan wajah takutnya.