Bianca

Bianca
Bianca -> Sembilan


__ADS_3

“Siapa Bianca?’


“Reagan,” jawab Bianca memilih untuk jujur.


Wajah Luisa terkejut bukan main. “Apa yang dia janjikan sama kamu sampai kamu mau melakukan hal itu?”


“Tidak ada,” jawab Bianca.


“Kapan kalian melakukan hal itu?” tanya Luisa mulai menginterogasi.


“Malam pesta perayaan Havelaar Grup.”


Mulut Luisa terbuka lebar saking terkejutnya. “Kenapa bisa, bukannya kamu pulang di antar Areliano?”


Bianca menundukkan wajahnya. “Ceritanya terlalu rumit.”


Luisa meraup wajahnya dengan kasar. “Kenapa bisa kamu seliar ini, apa yang di ajarkan Reagan sampai kamu bisa melakukan hal seperti itu?”


“Kenapa kakak jadi berprasangka buruk pada Reagan, Bianca yang mau dan tidak menolak sedikit pun. Bianca cinta sama Reagan, dan malam itu terjadi begitu saja!”

__ADS_1


“Apa kamu tidak tahu risiko dari kehamilanmu sekarang ini? Mommy dan daddy pasti sangat sedih,” ucap Luisa dengan suara bergetar menahan tangis.


“Maka dari itu kakak jangan beritahu Daddy dan Mommy,” pinta Bianca dengan kedua tangan yang memohon pada Luisa.


“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini? Sekolah kamu masa depan kamu-“ Luisa tidak bisa meneruskan ucapannya. Ia sangat ketakutan membayangkan masa depan Bianca.


Bianca hanya terdiam karena tidak tahu jawaban untuk pertanyaan Luisa.


“Kakak harus bilang ini pada Daddy dan Mommy,” ucap Luisa kakinya melangkah dengan pasti. Ia tidak ingin adiknya kehilangan masa depan.


Bianca menarik baju Luisa dan berlutut di depan kakaknya. “Bianca mohon jangan kak,” pinta Bianca.


Luisa menatap iba ke arah adiknya, semuanya terasa sulit dan rumit. “Apa yang bisa kalian lakukan? Semuanya sudah terlanjur tak ada jalan keluar selain memberitahu mommy dan Daddy,” putus Luisa.


Luisa merasa bimbang, bagaimana pun Reagan dan Bianca masih sangat kecil untuk menghadapi masalah sebesar ini. Namun ia juga tidak bisa gegabah, mengingat bagaimana sikap Bianca yang berubah. Kemungkinan terbesarnya Ignazio akan memisahkan Bianca dari Reagan lagi. Sejujurnya Luisa tidak suka melihat Bianca yang ceria terpuruk kembali karena masalah ini, namun ia juga tidak mungkin membiarkannya larut terlalu lama. “Suruh Reagan simpan baik-baik buku itu, dan jangan sampai ada orang lain yang tahu termasuk Om Filio dan Tante Sahira.”


Bianca memeluk kaki Luisa dengan sangat erat. “Terima kasih ka,” ucap Bianca dengan perasaan lega dan gembira karena sang kakak memihak padanya.


“Cepat cari jalan keluar yang terbaik untuk kalian, dan bicarakan bersama Reagan.” Luisa menarik tangan Bianca untuk bangkit. Ia memeluk dengan penuh sayang pada tubuh kecil Bianca. Dirinya memang nakal tapi ia tahu batasan, seharusnya Luisa mengajarkan sejak dini kepada adik polosnya. Tapi sekarang rasanya sudah terlambat, Luisa hanya bisa memeluk erat tubuh Bianca.

__ADS_1


“Kakak sakit,” keluh Bianca saat merasakan kencangnya pelukan Luisa.


Luisa melepaskan pelukannya, “Kalau ada apa-apa bilang pada kakak ya,” pinta Luisa.


Bianca mengangguk patuh.


***


Bianca duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya membuka percakapan dengan Fiona. [Mom. Bianca ada tugas kelompok dulu, nanti Bianca pulang kalau tugasnya sudah selesai.] Bianca mengirimkan pesan tersebut kepada Fiona.


[Jangan terlambat seperti kemarin.]


[Baik Mom.] Balas Bianca. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Sampai di tempat tujuan, Bianca menatap gedung tinggi di depannya. Bianca masuk ke dalam lift.


Lift terbuka dan Bianca melangkahkan kakinya ke luar menuju apartemen milik Reagan. Bianca menekan bel. Ia menunggu dengan tidak sabar dan kembali menekannya.


Saat pintu terbuka Bianca menampilkan senyuman terbaik di wajahnya.

__ADS_1


“Bukannya Lo saudaranya Reagan ya?”


Bianca sedikit terkejut dengan kehadiran wanita di hadapannya. Ia meneliti dengan pasti dan mengingat-ingat siapa wanita yang ada di hadapannya. Kini Bianca ingat dengan betul wanita yang ada di story Instagram Reagan. “Kamu sedang apa di apartemennya Reagan?” Tanya Bianca dengan nada kesalnya.


__ADS_2