Bianca

Bianca
Bianca -> Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Bianca membuka kelopak matanya perlahan, ada rasa yang berbeda seingatnya semalam ia tertidur di dada Reagan namun ia merasakan kepalanya berada di bantal yang empuk. Ia mengedarkan pandangannya, bibirnya mengerucut saat menyadari bahwa ia berada di kamarnya.


Bianca menengok ke arah pintu yang terbuka dari luar.


“Sudah bangun? Ayo cepat bersiap,” ucap Fiona dengan senyuman di bibirnya.


“Iya Mom.”


Bianca merasa Fiona tidak menampilkan wajah marahnya, padahal semalam Bianca membuat kesalahan. Namun ia tidak ingin memikirkan hal itu, menurutnya ini kesempatan baik. Meskipun rasa kesal Bianca atas ucapan Fiona masih teringat dengan jelas.


Hari berlanjut seperti biasanya, namun Bianca tidak di berikan kebebasan untuk pergi di antar sopir. Mulai hari itu Bianca berangkat dan pulang di antar Ignazio. Tak ada kesempatan untuk bertemu Reagan, libur sekolah sudah tiba tapi Bianca masih berdiam diri di kamarnya menggunakan piama melihat story temannya yang mulai menikmati liburan mereka.


Luisa masuk ke dalam kamar Bianca, lalu duduk di samping sang adik. Tangannya merangkul bahu Bianca, “Main yuk ke rumah opa sama Oma,” ajak Luisa sesuai instruksi yang di berikan oleh Ignazio dan Fiona.


“Enggak mau, Bianca Cuma mau ketemu Reagan,” jawab Bianca dengan wajah sedihnya. Rindunya sudah sangat menumpuk, dan ia sangat ingin bertemu dengan Reagan. Namun dengan alasan apa pun orang tuanya tidak memberikan ijin.


“Dih ini anak, buncinnya keterlaluan,” keluh Luisa sedikit kesal.


“Kayak Kaka enggak aja,” sindir Bianca tak mau kalah.


“Tapi kan kakak enggak tiap hari, selama bisa chating dan video call aman-aman saja,” jawab Luisa.

__ADS_1


“Masalahnya Reagan jarang online, kalau pun mengirim pesan hanya jawab iya dan tidak rasanya Bianca mati kutu kak,” tanpa rasa malu Bianca mengeluarkan unek-uneknya di hadapan sang kakak.


“Makanya pilih cowok lain, jangan Reagan.”


Bianca yang kesal mencubit tangan Luisa yang merangkul bahu, “Terus ini anaknya mau di bagaimana? Lagian Bianca Cuma tertarik sama Reagan aja.”


“Cowok ganteng yang care juga banyak tahu. Soal itu anak bagaimana kelanjutannya?”


“Katanya Reagan mau menikahi Bianca secepatnya.”


Luisa menyentil kening adiknya karena gemas dengan ucapan enteng Bianca. “Terus sekolah kamu bagaimana?”


“Lagian kamu enteng banget ngomong kayak begitu, tahu enggak kakak sama Areliano tuh khawatir tahu sama masa depan kamu,” ucap Luisa dengan nada yang sedikit meninggi dari biasanya.


“Bianca enggak minta kalian buat khawatirkan Bianca.”


“Kamu ya menyebalkan sekali, gue kasih ketek juga!” ucap Luisa bar-bar, tidak lupa ia menarik kepala Bianca hingga berada di atas pahanya. Tangan Luisa membuka lebar-lebar ketiaknya dan mendekatkannya pada wajah Bianca yang menyebalkan.


“Aaaa bau!”


“Rasakan!”

__ADS_1


***


Sesuai permintaan Bianca hari itu Reagan memakaikan pakaian rapi, tidak lupa dengan tekadnya yang bulat ia berjalan dengan langkah santainya keluar dari kamar.


Sahira yang melihat anaknya tampil rapi di hari libur menampilkan senyum meledeknya. “Mau ke mana pagi-pagi sudah rapi?”


Reagan tersenyum, “Ada urusan.” Ia tak tahu langkah apa yang di buat Filio hingga Sahira pulang dengan selamat dan Nasya tak menghubunginya lagi, membuat Reagan lebih tenang dalam mengambil keputusan untuk masa depannya.


“Hati-hati ya.”


Reagan menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari rumah. Ia membawa mobil menuju kediaman Bianca.


Di dalam kamarnya perasaan Bianca tidak karuan, hari ini Reagan berniat melamarnya. Ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin yang tampak cantik dengan dress selutut berwarna merah muda.


Kedatangan Reagan di kediaman Ignazio di sambut tatapan penuh tanda tanya dari Ignazio dan Fiona. Lima menit berlalu pun Reagan tidak kunjung berbicara.


“Jadi ada hal penting apa Reagan?” tanya Fiona tidak sabar.


Sementara Ignazio yang dapat membaca gerak gerik Reagan dapat menyimpulkan hasilnya sendiri, dan memilih untuk menunggu.


Reagan yang sedikit gugup menarik nafasnya sebelum mengeluarkan kalimat pamungkasnya. “Saya kemari mau melamar Bianca Om, Tante.”

__ADS_1


__ADS_2