
“Bianca boleh main asalkan pulang sebelum jam makan malam, tapi sekarang sudah lewat. Mommy pasti marah.”
“Kalau begitu biar aku yang temui tante Fiona,” ucap Reagan. Ia mengambil kunci mobilnya.
“Kalau tahu pergi dengan Reagan, yang ada Bianca di kurung lagi sama mommy di rumah.”
Reagan mengusap puncak kepala Bianca. “Maaf ya.”
Bianca memeluk Reagan dengan sangat erat. “Bianca kangen banget sama Reagan, dan ingin menghabiskan waktu berdua. Tapi Reagan nya sibuk, nanti sisihkan waktu khusus untuk Bianca ya,” pinta Bianca dengan nada manjanya.
Reagan membalas pelukan Bianca tak kalah eratnya, rasa cintanya pada Bianca sangat lah besar meskipun Reagan tutupi. Ia tidak bisa melihat Bianca dekat dengan pria, bahkan ia cemburu saat mendapati fakta bahwa Bianca dengan Adnan. “Jangan terlalu dekat dengan Adnan ya, jika butuh bantuan bilang padaku.”
Wajah Bianca menengadah ke atas agar dapat dengan jelas melihat ekspresi Reagan. “Kenapa tidak boleh, Reagan cemburu juga?”
“Tidak.”
“Ah Bianca lupa, kalau sayangnya Bianca kan mudah cemburu. Sama paman Areliano saja cemburu,” tutur Bianca dengan nada meledeknya.
“Tidak, sok tahu,” kilah Reagan. Meskipun apa yang di katakan Bianca benar, namun ia tidak mau mengakui hal itu.
“Tapi Bianca suka, kalau Reagan cemburu terlihat menggemaskan.”
Reagan melepaskan pelukannya. “Ayo cepat katanya terlambat.”
__ADS_1
“Iyah ayo.”
Seperti sebelumnya Bianca di antar menuju mal, di sana sopir Bianca tampak menunggu dengan khawatir. “Non, nyonya sudah marah. Ayo cepat masuk,” ucap Sopir Bianca. Tangannya membukakan pintu mobil untuk Bianca.
Bianca masuk ke dalam mobil, dengan perasaan waswas. Dari tadi ponselnya terus berdering tapi Bianca tidak berani mengangkat telepon dari Fiona.
Sesampainya di rumah baru saja kaki Bianca menginjakkan kaki di halaman tatapan tajam Fiona terasa mengerikan.
Bianca berjalan dengan kepala menunduk menuju pintu utama tempat Fiona berdiri.
“Kamu terlambat tiga puluh menit. Ke mana saja?”
“Maaf mom,” jawab Bianca tanpa berani menatap mata Fiona.
“Bianca kenapa terlambat?” tanya Ignazio dengan nada lembutnya.
“Bianca keasyikan main Daddy.” Meskipun ucapan Ignazio terdengar bersahabat di telinga, namun Bianca tidak mau mencari mati sampai mendapat hukuman tidak boleh bermain lagi.
“Jangan di ulangi lagi ya sayang.” Meskipun khawatir itu masih terasa, namun melihat Bianca baik-baik saja sudah membuatnya sedikit tenang.
“Iya Daddy maafkan Bianca.”
“Bianca pasti belum makan malam, ayo Daddy temani.” Ignazio merangkul bahu Bianca Untuk berjalan bersamanya.
__ADS_1
Sementara Fiona menenangkan amarahnya yang menggebu-gebu. Rasanya ia tidak puas memarahi Bianca, namun yang mengerti Bianca hanya Ignazio. Fiona pun tidak ingin Bianca merasa tertekan dan kembali murung seperti dulu.
Bianca menikmati makan malamnya sambil berbincang ringan dengan Ignazio membahas seputar sekolah. Selesai makan malam Bianca pamit untuk ke kamar.
Setelah mendapat ijin dari Ignazio Bianca berjalan masuk ke kamarnya. Ia sedikit terheran saat melihat pintu kamarnya terbuka, seingatnya ia menutupnya dengan rapat bahkan menguncinya. Bianca berlari masuk ke dalam kamar dan terkejut mendapati Luisa yang duduk di pinggiran tempat tidur. Bianca segera mengunci kamarnya agar tidak ada lagi yang masuk.
Kaki Bianca melangkah perlahan menghampiri Luisa dengan wajah tertunduk dan tangan yang memegang catatan pemeriksaan kandungan dari dokter kemarin.
“Kak,” panggil Bianca dengan suara tercekatnya.
Luisa mengangkat kepalanya dan menatap Bianca. “Kamu hamil Bianca?”
Bianca menganggukkan kepalanya.
“Astaga.” Air mata Luisa yang ia tahan akhirnya tumpah juga. Rasa marah kecewa dan sedih semuanya menjadi satu.
Luisa memeluk Bianca dengan sangat erat. Ia merasa telah gagal menjadi seorang kakak, hingga tak bisa menjaga adik kesayangannya.
Bianca menepuk-nepuk pelan punggung Luisa.
“Siapa yang berani menghamili kamu?” tanya Luisa tanpa melepaskan pelukannya.
Bianca mendengar tangisan Luisa membuat perasaannya sedikit kacau. Ia bingung untuk berkata bohong atau jujur.
__ADS_1
“Siapa Bianca?” tanya Luisa dengan tidak sabar bahkan ia melepaskan pelukannya agar dapat melihat raut wajah adiknya.