Bianca

Bianca
Bianca -> Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Bianca merapikan buku Pelajaran dan alat menulisnya ke dalam tas. Ia hendak pulang dan baru menyadari jika kelasnya sudah kosong. Bahkan Adnan pun tidak ada. Saking fokusnya pada ponsel membalas chatting Anisa membuatnya tak menyadari keadaan sekitar.


Kaki Bianca melangkah keluar dari kelas, begitu sampai pintu ia terkejut saat tiba-tiba saja Reagan berada di depannya.


Reagan menarik tangan Bianca. Mereka berjalan beriringan.


“Reagan nanti di lihat yang lain,” ujar Bianca.


“Memangnya kenapa?”


Ucapan Reagan terdengar sangat cuek, tak seperti biasanya. “Tidak,” ketus Bianca kesal. Ia menarik tangannya, namun pegangan Reagan semakin erat.


“Lepaskan,” pinta Bianca dengan wajah kesalnya.


Malas ribut Reagan tak menggubris ucapan Bianca dan mempercepat langkahnya menuju tempat parkir.


Bianca mengunci rapat-rapat mulutnya, ia memalingkan wajahnya tak mau menatap Reagan sedikit pun.


Sampai di basemen apartemen Reagan turun dari mobil. “Ayo,” ajak Reagan. Ia membukakan pintu untuk Bianca.


Sementara Bianca memalingkan wajahnya, ia masih marah pada Reagan.

__ADS_1


Reagan menarik paksa tangan Bianca agar turun.


“Reagan sakit!” bentak Bianca dengan wajah kesalnya menahan amarah.


Reagan membawa tubuh Bianca dengan gaya bridal style.


“Reagan lepaskan,” ucap Bianca. Kakinya bergerak-gerak meminta turun.


Namun Reagan tidak mengindahkan hal itu dan membawa Bianca masuk ke dalam lift.


Saat di lantai tiga pintu lift terbuka ada dua orang wanita yang memandang ke arah Bianca dan Reagan. Bianca yang merasa malu bukan main memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reagan. ‘Ini memalukan.’


Reagan menurunkan tubuh Bianca di atas sofa. Ia duduk di samping Bianca.


“Kenapa kamu marah? Seharusnya aku yang marah,” ucap Reagan pelan dengan penuh penekanan.


“Untuk apa Reagan marah, Bianca tidak melakukan kesalahan,” jawab Bianca ketus.


“Tidak melakukan kesalahan katamu? Jelas-jelas kamu dekat sekali dengan Adnan, bahkan sampai berbagai air liur.” Reagan mengingat momen tadi dengan sangat jelas dan membuatnya kesal.


Bianca mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti ke mana arah bicara Regan. “Berbagi air liur apa?”

__ADS_1


“Kamu menyuapi Adnan dengan sendok bekas makanmu.”


Bibir Bianca tersenyum mengembang ia kini mengerti ke mana arah pembicaraan Reagan. “Reagan mengintip yaaaaa,” tuduh Bianca dengan tatapan menyelidiknya.


Bukannya menjawab Reagan malah menc’ium bibir Bianca, ia sudah lama menahan diri untuk tidak menyentuh Bianca sedikit pun. Tapi Bianca benar-benar membuatnya kesal, dan cemburu.


Bianca melingkarkan tangannya pada leher Reagan. Ini adalah ciu’man kedua mereka setelah malam itu, dan Bianca tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Ia membalas ciu’man Reagan tak kalah ganasnya.


Reagan menarik dirinya sebelum kontrol dalam dirinya hilang kendali seperti malam itu.


Bianca meraup udara sebanyak-banyaknya saat Reagan melepaskan ciu’mannya. Bianca yang marah dan kesal kini memilih memeluk tubuh Reagan. “Akhir-akhir ini Reagan mudah cemburu,” ungkap Bianca.


Reagan menghela nafasnya, tangannya membalas pelukan Bianca. “Kamu berdekatan terus dengan pria itu, bagaimana aku bisa tenang,” ungkap Reagan mengeluarkan isi hatinya.


Bianca menengadahkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Reagan. “Bianca tidak ada hubungan apa pun dengan Adnan. Kami hanya berteman, itu pun tidak sengaja dekat.”


“Tetap saja kalian terlalu dekat,” protes Reagan.


“Reagan takut ya kalau aku jatuh cinta pada Adnan?”


Reagan diam, jika ia menjawab iya rasanya ia kalah sebelum berperang. Namun memang ia takut jika Bianca memilih pria lain dari pada dirinya, namun ia gengsi untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu Bianca akan menjauhi Andan. Asal Reagan jangan memaksa untuk menggugurkan anak kita,” ucap Bianca memberikan penawaran. Berharap Reagan akan setuju.


__ADS_2