Bianca

Bianca
Bianca -> Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Bianca segera menuju ke ruang rawat Reagan. Ia melihat wajah Reagan terdapat beberapa bagian yang lebam.


Bianca duduk di kursi yang tersedia. Tangannya membawa jemari Reagan ke dalam genggamannya. “Reagan,” panggil Bianca. Air matanya kembali membasahi pipinya.


Areliano dan Luisa hanya tediam memandang Bianca. Tangis Bianca menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Kini Luisa mengerti seberapa besar cinta Bianca terhadap Reagan. Melihat Reagan terkapar tak sadarkan diri saja tangis Bianca seperti kehilangan Reagan selamanya. Luisa melihat ponselnya menyala tanda panggilan dari Fiona. Dengan cepat Luisa menekan tombol hijau. “Iya Mom.”


[Kenapa belum pulang juga, katanya sudah di jalan?]


“Sebentar lagi Mom.”


[Itu suara tangis Bianca kan, adikmu kenapa?]


Luisa menggigit kecil bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada Fiona.


[Luisa jawab itu Bianca kenapa menangis?]


“Bianca menangis karena Reagan masuk rumah sakit,” jawab Luisa pada akhirnya ia memilih untuk jujur.


[Bawa pulang adikmu sekarang juga!]


“Tapi Mom-“

__ADS_1


[Tidak ada tapi-tapi, cepat bawa Bianca pulang!]


Mendengar bentakan dari Fiona yang terdengar sangat marah membuat Luisa harus berusaha membawa Bianca pulang.


Bianca menempatkan tangan Reagan di sisi kanan pipinya. ‘Bangun Reagan, aku mohon. Aku ingin melihat senyumanmu, maafkan aku,’ batin Bianca. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya isak tangis yang terdengar sangat jelas keluar dari mulutnya.


Luisa menghampiri Bianca yang tidak kunjung berhenti menangis. “Bianca ayo pulang Mommy marah.”


Bianca menggelengkan kepalanya. “Bianca ma-mau di sini menunggu Re-reagan siuman.”


“Tapi Mommy marah, kamu mau benar-benar di pisahkan dari Reagan selamanya oleh Mommy?”


Bianca bangkit dari duduknya dan menatap Luisa dengan pandangan marahnya. “Kakak tidak berhak bicara seperti itu. Lebih baik kakak pulang saja, tidak usah ikut campur urusanku,” hardik Bianca.


Filio masuk ke ruang rawat Reagan saat mendengar kegaduhan. “Luisa, biarkan Bianca di sini. Om yang akan berbicara dengan orang tuamu,” tandas Filio mengakhiri pertengkaran Luisa dan Bianca.


“Luisa titip Bianca ya Om.”


Filio mengangguk. “Kamu Pulang saja bersama Areliano.”


“Baik Om.”


“Areliano pamit pulang.”

__ADS_1


“Iya. Antarkan Luisa sampai rumah dengan selamat. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Bianca.”


Areliano dan Luisa mengangguk mengerti, mereka meninggalkan ruang rawat Reagan.


“Om,” panggil Bianca. Ia menghapus sisa air matanya.


“Ada apa sayang?” tanya Filio sampil mengacak puncak kepala Bianca.


“Reagan kenapa tidak bangun juga?”


Filio melihat kesedihan yang mendalam dari ekspresi Bianca. “Kepala Reagan terbentur, mungkin sebentar lagi akan segera siuman.”


“Kenapa Bisa?” tanya Bianca. “Reagan berantem ya sampai lebam-lebam seperti itu?”


Filio mengangguk. “Bianca yakin tidak mau pulang?”


“Bianca mau menemani Reagan saja.”


“Tapi jangan menangis lagi ya, om akan izinkan kamu menemani Reagan.”


Bianca mengangguk dan mencoba menampilkan senyuman dari wajahnya.


Filio melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat dari Bianca sebelumnya. Ia pikir Bianca sudah berhasil melupakan Reagan, hingga ia memutuskan untuk membiarkan Reagan bertunangan dengan Nasya. Ada rasa sesal di dalam hati Filio, andai saja Fiona dan Ignazio tidak bersikeras memisahkan Bianca dan Reagan. Filio akan membiarkan hubungan Reagan dan Bianca berjalan sebagai mana mestinya. Cinta yang di miliki Bianca begitu besar, meskipun Reagan belum sepenuhnya dewasa namun Filio yakin jika Reagan bisa membahagiakan Bianca.

__ADS_1


__ADS_2