
Luisa membawa Bianca ke dalam kamar. Ia tidak tega melihat Bianca menangis terus menerus. “Kamu istirahat dulu saja ya,” ucap Luisa.
Bianca tidak menjawab ucapan Luisa, tangisnya tidak mau berhenti. Bianca duduk dengan menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras. Ia tak pernah berpikir Reagan akan menyakitinya seperti ini.
Luisa meninggalkan Bianca berada di dalam kamar seorang diri. Sementara ia kembali ke depan menunggu kedatangan Areliano dan Reagan.
Bel berbunyi cukup nyaring, Luisa segera menghampiri pintu dan membukanya. Hal pertama yang Luisa lihat ialah Reagan dan Areliano. “Masuk,” ucap Luisa mempersilahkan.
“Bianca di mana?” tanya Reagan.
“Ada. Tapi nanti saja ketemunya, aku perlu bicara denganmu,” ucap Luisa. “Duduk.”
Reagan dan Areliano duduk di sofa yang tersedia. Luisa mengambil ponsel milik Bianca dan menaruhnya di atas meja.
Reagan dan Areliano menatap layar ponsel yang menyala menampilkan acara pertunangan semalam.
“Jelaskan!”
Reagan menatap ke arah lawan bicaranya, Luisa. “Itu memang acara pertunanganku dengan Nasya semalam.”
__ADS_1
Areliano yang sudah menahan amarahnya dari tadi memberi bogem mentah pada wajah. “Sialan, sudah di kasih jalan malah bikin keponakanku sakit hati!”
“Kamu tuh jadi cowok benar-benar ya, pantas saja daddy tetap enggak kasih ijin karena lo banci. Enggak guna jadi cowok!” Rasanya pukulan dari Areliano tidak membuat Luisa puas.
“Dengar dulu!” ucap Reagan. Ia menatap Areliano dan Luisa secara bergantian.
“Pertunangan ini hanya untuk menuruti kemauan Nasya, bukan pertunangan sungguhan. Makanya Ayah tidak mengundang siapa pun,” jawab Reagan.
Luisa tidak terima dengan alasan yang di ucapkan Reagan, Bagaimana pun ia tidak terima dengan sikap Reagan yang seenaknya saja pada adik kesayangannya. “Meskipun itu pertunangan palsu apa kamu tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Bianca saat melihat itu?”
“Aku pikir hal ini tidak akan menyebar luas di sekolah,” ucap Reagan. Ia menatap Luisa dalam-dalam. “Aku ingin berbicara dengan Bianca,” mohon Reagan.
Luisa membiarkan Reagan pergi dari ruang tamu, ia menatap ke arah Areliano. “Malam itu Kakak tahu apa yang terjadi pada Reagan dan Bianca?” tanya Luisa.
Areliano melihat keraguan dalam suara Luisa. “Malam kapan?”
“Malam perayaan pesta Havelaar grup,” jawab Luisa. Ia menanggung beban yang cukup berat mengetahui hal Bianca hamil, sampai detik ini pun ia masih kebingungan untuk kelanjutan hubungan Reagan dan Bianca. Terlebih ada wanita lain yang terikat dengan Reagan.
“Memang apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Bianca hamil,” jawab Luisa.
Areliano sangat terkejut, ia tidak menyangka hal itu akan terjadi. Ia menatap Luisa dengan serius. “Orang tuamu tahu?”
Kepala Luisa menggeleng pelan. “Aku ingin menceritakan hal ini pada orang tuaku, tapi Bianca memohon untuk tidak mengatakannya. Aku khawatir akan masa depan Bianca.”
“Hal ini tidak bisa di biarkan terlalu lama Luisa,” tegas Areliano. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Reagan.
Reagan sudah mengetuk pintu kamar, namun tidak kunjung di buka. Tubuh Reagan terhuyung saat mendapat pukulan dari Areliano.
“Kenapa kau malah meniduri Bianca malam itu?” tanya Areliano dengan nada penuh amarahnya. Ia berjongkok dan menarik kerah baju seragam Reagan.
Satu pukulan lagi Areliano layangkan hingga mengenai hidung Reagan.
***
***Setelah emosi baca bab sebelumnya, semoga bab ini cukup untuk membuat emosi kalian mereda 😁
Love you, jangan lupa like, komentar dan dukungan lainnya 💕***
__ADS_1