
“Jahat Reagan jahat!”
Reagan diam saja menerima pukulan dari Bianca. “Maaf,” ucap Reagan.
Bianca menghentikan pukulannya dan menatap kesal ke arah Reagan. “Maaf saja tidak cukup! Reagan kenapa tidak angkat telepon Bianca?”
Melihat mata Bianca yang berlinang membuat Reagan mengurungkan niatnya untuk jujur, ia tidak ingin menyakiti perasaan Bianca. “Ada pekerjaan mendesak, ponselku ketinggalan di mobil.”
Bianca menghapus air matanya yang mengalir begitu saja, menunggu Reagan tanpa kepastian membuatnya lelah secara fisik dan perasaan. Belum lagi guyuran air hujan membuat tubuhnya kedinginan.
Reagan membuka jaket yang di kenakannya untuk menutupi tubuh Bianca yang basah kuyup. “Kita ke mobil ya,” ucap Reagan. Ia memapah tubuh Bianca menuju mobil.
Bianca tidak bisa banyak bicara lagi, kepalanya terasa pusing dengan tubuh yang mengigil.
Reagan yang khawatir akan keadaan Bianca segera membawanya ke apartemen. Ia mengangkat tubuh Bianca sampai ke kamar mandi.
__ADS_1
“Mandilah, aku siapkan baju untukmu,” titah Reagan. Ia mengambil baju sementara Bianca membersihkan tubuhnya.
Reagan kembali ke kamar mandi, ia mengetuk pintu kamar mandi. Suara gemercik air tidak terdengar lagi namun Bianca tidak kunjung membuka pintu. Reagan yang mulai khawatir mengetuk pintu dengan cukup kencang siapa tahu Bianca tidak mendengarnya. Namun pintu kamar mandi tidak kunjung di buka. Reagan mencoba membuka pintu kamar mandi, beruntung tidak di kunci.
Dengan segera Reagan masuk dan sangat terkejut saat mendapati tubuh Bianca yang memakai handuk kimono tergeletak di lantai kamar mandi.
Reagan membawa tubuh Bianca ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. Reagan memegang kening Bianca yang terasa panas. Dengan sigap Reagan mengambil alat kompres untuk Bianca.
Tangan Reagan memeras handuk untuk mengompres kening Bianca. Setelah menempelkan alat kompres, Reagan mencoba menyadarkan Bianca. “Bianca,” panggil Reagan tepat di telinga Bianca.
Reagan mengambil minyak angin dan mendekatkannya pada hidung Bianca. Tangan Reagan mengelus pelan pipi Bianca. “Bangun sayang.”
Reagan mengambil handuk dari kening Bianca dan mencelupkannya ke dalam air, lalu memerasnya. Tangan Reagan melipat handuk basah tersebut dan kembali menempelkannya di kening Bianca.
Reagan mulai khawatir dengan keadaan Bianca apalagi kondisi Bianca tengah mengandung. “Bianca ayo bangun, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi,” ucap Reagan sedikit frustrasi bahkan ia menepuk pipi Bianca lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
“Aaa Reagan sakit,” keluh Bianca dengan suara pelannya.
“Akhirnya kamu sadar juga.” Reagan merasa sedikit senang melihat Bianca sudah sadar.
“Aku ambilkan makanan dulu ya. Kamu mau bubur atau sup?”
“Sup saja,” jawab Bianca. Kepalanya terasa pusing, badannya terasa tidak karuan. Bianca melihat jam, ia tidak bisa terlalu lama di apartemen Reagan. Sebentar lagi ia harus pulang ke rumah.
Reagan kembali ke dalam kamar dengan nampan berisi semangkuk sup panas dan susu hangat. Ia duduk di samping Bianca dan menyuapi kekasihnya.
“Reagan, sebentar lagi Bianca harus pulang,” ucap Bianca.
“Aku antar sampai rumah ya,” jawab Reagan. Tangannya kembali menyuapi Bianca.
Bianca menerima suapan dari Reagan. Kepalanya menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
“Aku tidak mau membiarkanmu turun di mall, tubuhmu juga lemas. Lebih baik aku antar saja.”
Bianca menelan makanan yang ada di mulutnya. “Tapi Bianca takut Mommy marah, apalagi pulang dalam kondisi seperti ini. Yang ada Mommy semakin murka.”