
“Kamu hamil anaknya siapa Bianca, bukannya hubungan kamu dengan Reagan sudah berakhir?”
“Memang sudah tapi malam itu-“ Bianca menggantung ucapannya ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana pada Anisa.
“Astaga Bianca, kenapa sampai kebablasan seperti itu. Kamu tahu sendiri bagaimana tindakan orang tuamu,” ucap Anisa tidak percaya jika wanita sepolos Bianca bisa di manfaatkan oleh Reagan.
“Anisa jangan berkata seperti itu Bianca takut.”
Anisa memeluk tubuh Bianca. “Semuanya akan baik-baik saja selama kamu bisa menyimpannya dengan rapat, jangan sampai orang tuamu tahu,” ucap Anisa memberikan sedikit kalimat penenang meskipun pada akhirnya kemungkinan besar kehamilan Bianca akan terendus oleh orang tuanya yang sangat posesif.
Saat berpelukan erat dengan Anisa ada sesuatu yang menonjol yang Bianca rasakan. Ia melepaskan pelukannya dan meraba perut Anisa. “Kok perut Anisa besar, sudah berapa minggu usianya?” tanya Bianca penasaran. Ia sangat gemas melihat perut Anisa yang sedikit membuncit.
“Dua puluh minggu,” jawab Anisa.
Bianca merasakan tendangan halus yang mengenai tangannya. “Anisa itu apa?” tanya Bianca dengan wajah terkejutnya.
“Itu sapaan dari anakku untuk kamu.”
Wajah Bianca berbinar dan kembali meraba perut Anisa. Kali ini tendangannya lebih kuat. “Aaa kamu aktif sekali, Bianca suka sama anaknya Anisa,” ujar Bianca dengan wajah terharunya.
“Bianca,” panggil Anisa.
Bianca menatap ke arah Anisa. “Ada apa?”
Anisa memberikan kode pada Bianca lewat tatapan matanya.
Bianca menengok ke belakang dan mendapati Reagan yang berdiri di sampingnya. Karena terlalu fokus membuat Bianca tidak menyadari kehadiran Reagan.
__ADS_1
“Kalau masih mau mengobrol lanjutkan saja, aku tunggu di mobil,” ucap Reagan.
Bianca masih ingin mengobrol dengan Anisa tapi ia juga ingin bersama Reagan.
“Sudah selesai kok, aku pulang dulu ya,” pamit Anisa.
“Anisa tunggu, Bianca mau minta nomor Anisa yang baru,” cegah Bianca.
“Nomor kamu masih pakai yang lama?” tanya Anisa, tangannya mengeluarkan ponselnya.
“Iya.”
Anisa masih menyimpan nomor Bianca, dan ia menghubungi nomor Anisa. “Simpan ya, itu nomor baru Anisa.”
Bianca mengangguk dan menyimpan nomor Anisa pada kontak.
Reagan mengangguk.
“Anisa apaan sih masa Bianca di titip-titip memangnya barang,” protes Bianca.
Anisa hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Ayo,” ajak Reagan.
Bianca tidak mengikuti langkah Reagan.
Reagan berbalik saat tak mendapati Bianca di sampingnya. “Ayo.”
__ADS_1
Bianca mengulurkan tangannya, “Pegangan. Bianca takut hilang di kerumunan.”
Mendengar nada manja kekasihnya Reagan berjalan menghampiri Bianca, dan berjalan sambil menggenggam erat tangan Bianca.
Bibir Bianca tersenyum sempurna, ia sangat bahagia bisa kembali bersama Reagan. “Kita mau ke mana?” tanya Bianca.
“Tidak tahu, tadi kan kamu yang minta bertemu.”
“Tadi Reagan yang bilang ayo, Bianca ikut saja mau Reagan bawa ke mana pun.”
“Ya sudah kalau begitu aku antar kamu pulang ke rumah saja.”
“Reagan,” rajuk Bianca dengan wajah cemberutnya.
Reagan menarik tangan Bianca agar mengikutinya menuju tempat parkir dan masuk ke dalam mobil.
Ada tugas sekolah yang belum Reagan kerjakan, di tambah harus di kumpulkan besok. Karena Bianca bilang pergi ke mana saja, akhirnya Reagan membawa Bianca ke apartemen miliknya.
“Reagan kita mau apa ke sini?” tanya Bianca saat tangannya di tarik memasuki apartemen.
Reagan tidak menjawab dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tugas.
Bianca ikut masuk ke dalam kamar. “Reagan. Bianca tidak mau di terkam lagi,” ucap Bianca dengan nada takutnya.
Reagan menatap ke arah Bianca dan menyentil kening Bianca.
“Aaaa sakit, pusing kepala Bianca rasanya mau pingsan,” teriak Bianca mengaduh seraya memegang keningnya.
__ADS_1