
“Baiklah, kalau begitu Bianca akan menjauhi Andan. Asal Reagan jangan memaksa untuk menggugurkan anak kita.”
“Aku sudah menyiapkan waktu dan dokternya. Kita hanya tinggal menunggu hari itu tiba,” jawab Reagan.
Bianca melepaskan pelukannya, ia berjalan menjauh dari Reagan. “Reagan jahat,” ucap Bianca menahan tangisnya.
Reagan ikut bangkit untuk mendekati Bianca, tapi kekasihnya itu malah melangkah mundur. Dan akhirnya Reagan memilih menghentikan langkahnya. “Masa depanmu lebih penting Bianca.”
“Harus berapa kali Bianca bilang, Bianca tidak peduli dengan masa depan. Bianca hanya mau hidup bersama anak kita dan Reagan. Itu saja cukup, tapi kenapa Reagan tidak pernah mengerti!” bentak Bianca kesal dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Tapi orang tuamu-“
Dengan cepat Bianca menyela. “Kenapa sih Reagan tidak pernah bisa mengerti keinginan Bianca? Reagan terus saja menurut apa kata Daddy dan Mommy. Padahal Reagan tahu Bianca tidak bahagia.”
Reagan mendekat namun Bianca malah semakin menjauh. Ia tak tega melihat Bianca terus menangis. Namun bagi Reagan masa depan Bianca sangatlah penting, ia tak ingin hidup Bianca semakin hancur Karena dirinya.
“Bianca, aku tahu ini berat. Tapi ini jalan yang paling terbaik untuk kita,” ucap Reagan berusaha meyakinkan kekasihnya.
Bianca menyambar tas sekolahnya dan berlari keluar dari apartemen Reagan.
__ADS_1
Reagan segera menyusul Bianca, ia berlari sekencang mungkin namun Bianca masuk ke dalam lift dan liftnya tertutup sebelum Reagan sampai. Reagan berusaha melewati tangga darurat untuk menyusul Bianca. Namun sial saat pintu lift loby terbuka Bianca tidak ada di sana. Reagan berusaha mencari Bianca, ia juga menghubungi nomor Bianca namun tidak di angkat.
Bianca bersembunyi di bilik toilet, ia menangis tanpa suara mencoba menghubungi Anisa. “Anisa,” panggil Bianca dengan suara tangisnya.
[Ada apa Bianca, kenapa kamu menangis?]
“Tolong,” Bianca tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tangisnya semakin deras.
[Kamu kirim lokasimu ya, biar aku jemput]
Bianca menutup teleponnya dan ia mengirimkan lokasinya berada pada Anisa.
Lima belas menit Bianca berusaha menghentikan tangisnya, wajahnya cukup sembab ia mendapat pesan bahwa Anisa sudah sampai. Bianca segera keluar dari dalam toilet, ia berjalan menunduk dengan sedikit berlari hingga sampai di tempat parkir dan bertemu dengan Anisa.
Anisa tak sendirian, ia ditemani oleh suaminya. “Ayo pergi,” pinta Bianca.
Anisa menuntun Bianca masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang bersama Bianca.
Anissa cukup khawatir saat melihat wajah sembab Bianca, sebab wanita yang sedang mengandung tidak boleh stres. “Ada apa Bianca?”
__ADS_1
Bianca menatap perut buncit Anisa. Air matanya kembali mengalir, ia sangat iri. Anisa bisa mempertahankan kandungannya dan hidup bersama kekasihnya, namun Bianca tidak bisa. “Reagan memintaku untuk menggugurkan kandungan ini.”
Anisa memeluk tubuh rapuh Bianca. Ia tidak tahu bagaimana rasanya di posisi Bianca, namun ia mengerti kehilangan janin yang tumbuh di dalam rahimnya sendiri bukanlah hal yang mudah.
Bianca merasakan sakit di perutnya, tangannya yang memeluk Anisa kini bergerak memeluk perutnya sendiri.
“Ada apa Bianca?” tanya Anisa saat melihat wajah Bianca yang meringis.
“Perut Bianca sakit.”
“Sayang kita ke klinik terdekat ya, cepat,” ujar Anisa kepada suaminya.
“Bianca sabar ya, sebentar lagi,” ucap Anisa mencoba menenangkan Bianca.
Bianca memejamkan matanya merasakan rasa sakit di perutnya.
Keringat membasahi kening Reagan, ia sudah mencari Bianca ke sana kemari namun tidak berhasil menemukannya. Ia mencoba menghubungi nomor Bianca kembali. Beruntung kali ini di angkat. “Kamu di mana Bianca?” tanya Reagan khawatir.
[Kita lagi bawa Bianca menuju klinik x, Reagan perutnya Bianca sakit. Lo harus nyusul kita.]
__ADS_1
Bukan Bianca yang menjawab, namun ia merasa tak asing dengan suara itu. Akan tetapi kabar tersebut cukup menghantam dada Reagan. Ia segera berlari menuju mobilnya untuk menyusul Bianca.